5 November 2017

Tanggal 14 September 2017. Pesawat kami tiba di Bandara Charles De Gaulle, Paris, jam setengah dua siang. Sekitar jam tiga kami sudah keluar bandara dan beli tiket kereta ke Paris. Beli tiket keretanya sendiri juga sempat jadi drama. Alkisah loket yang ada penjaganya antreannya panjang. Jadi kami mencoba untuk beli tiket di mesin otomatis. Kami coba-coba, kok tidak ada pilihan untuk memasukkan uang kertas. Akhirnya kami tanya ke seorang petugas yang ada di situ. Ternyata, kalau mau beli tiket kereta di mesin otomatis, harus pakai uang receh atau kartu kredit. Nah, berhubung baru saja datang dari Jakarta, tidak ada satupun dari kami yang punya koin Euro. Terus, biaya tukar valuta asing di kartu kredit biasanya lebih mahal dari pembelian uang kertas. Kami akhirnya memutuskan untuk balik antre di loket yang ada penjaganya. Hadeuh!
Tiket kereta sudah ditangan, divalidasi di mesin validasi, dan habis itu langsung naik kereta ke hotel. (Untung ada teman saya yang sudah browsing-browsing soal tata cara naik kereta di Perancis, jadi kami semua sudah tahu bahwa tiket yang dibeli harus divalidasi di mesin-mesin validasi.) Hari pertama kami tiba di Paris, kami sampai hotel sekitar jam setengah lima sore. Lumayan juga. Sempat bersih-bersih badan dan tiduran sebentar, kami langsung lanjut ke pemberhentian pertama: Basilique du Sacré-Cœur de Montmartre.
Basilique du Sacré-Cœur de Montmartre yang cantik dan berwarna putih.
Oh ya, untuk yang mau tahu itinerary lengkap dan juga penyusunan rencana perjalanan kami, silakan mengunjungi artikel tentang Merancang Kunjungan Ke Perancis.
Sacré-Cœur adalah sebuah gereja Katholik Roma yang didirikan di atas bukit Montmartre. Menurut Wikipedia, bukit Montmartre adalah titik geografis tertinggi kota Paris. Gereja yang mulai dibangun di tahun 1875 ini terlihat indah terutama karena warnanya yang putih terang seperti bercahaya. Penyebabnya adalah, batu yang dijadikan bagian dari tembok adalah batu travertin yang merupakan sejenis batu gamping. Jadi nggak heran dong, kalau tembok gereja ini warnanya putih terang.
Bagian dalam gereja ini juga cantik lho. Masuk ke dalam gereja sih gratis, tapi antre panjang karena ada pemeriksaan tas. Tas besar tidak boleh masuk ke dalam gereja. Jadi yang mau backpacking dan bawa tas punggung yang besar-besar, sebaiknya ditinggal di locker stasiun atau hotel kalau mau datang ke mari. Karena gereja ini adalah salah satu tujuan wisata utama di Paris, jumlah pengunjungnya lumayan banyak. Bahkan, jumlah orang yang berdoa kalah banyak dengan orang yang sekedar jalan-jalan dan foto-foto.
Karena ada banyak turis yang ingin ikut misa di sini, terutama yang dari negara-negara latin, misa harian di gereja ini diadakan sampai dengan jam 10 malam. Jadi, turis yang datang ke Paris kemalaman tetap bisa berkunjung ke mari, bahkan ikut misa di malam hari, sebelum mengunjungi tempat-tempat wisata jasmaniah seperti Moulin Rouge. Hehehe ...
Salah satu bagian dalam Sacré-Cœur.
Selama saya jalan-jalan di sekitaran Paris, Perancis memang sedang siaga satu karena isu terorisme. Jadi, tidak heran di semua tempat wisata selalu terlihat sekelompok tentara yang patroli. Khusus untuk kasus saya yang sedang jalan-jalan di Montmartre, adanya tentara yang mondar-mandir justru membuat saya merasa tenang. Soalnya, orang-orang imigran yang jualan gelang atau barang-barang lain di sekitaran Montmartre tidak terlalu agresif seperti yang banyak diceritakan di blog-blog.
Di bagian depan gereja terdapat sebuah taman yang dikenal dengan nama Square Louise Michel. Di taman ini, orang-orang, penduduk lokal dan turis, terlihat duduk-duduk sambil mengobrol, foto-foto, atau sekedar diam memandangi pemandangan di sekitar bukit. Karena bulan September masih masuk ke akhir musim panas, masih banyak terlihat orang yang duduk-duduk hanya untuk bisa merasakan sinar matahari.
Dulunya, saya selalu merasa heran: Kenapa orang di Eropa senang berjemur di bawah sinar matahari yang panas. Setelah saya benar-benar bisa berkunjung sendiri ke Paris, baru saya menyadari bahwa angin di Paris (dan mungkin di Eropa pada umumnya) terasa dingin, meskipun di akhir musim panas. Jadi waktu ada sinar matahari, memang rasanya hangat dan menyenangkan. Lagi pula, sinar mataharinya tidak sepanas Jakarta. (Tapi juga membuat warna kulit bertambah gelap, lho.)
Oh ya, buat yang suka beli oleh-oleh keagamaan seperti rosario atau bandul kalung, dibandingkan harga di Notre Dame de Paris, harga di Sacré-Cœur jauh lebih murah. Di sini, rosario gelang saja harganya ada yang sekitar 7 Euro. Pendant untuk kalung ada yang cuma 4 Euro. (Harga berdasarkan ingatan, soalnya struknya hilang.) Di hari pertama kami datang dari Indonesia, barang sekecil itu dihargai sekitar Rp 60.000,- membuat kami hampir mengurungkan niat untuk membeli oleh-oleh. Untung tetap membeli, dan kami tidak menyesal. Soalnya, belakangan kami melihat bahwa di Notre Dame de Paris, oleh-oleh yang ukuran dan bentuknya hampir sama, harganya belasan Euro!
Jalanan di daerah Montmartre yang mendaki ke gereja dipenuhi oleh kafe dan penjual oleh-oleh. Karena ini masih hari pertama kami di Perancis, kami tidak terlalu berminat untuk membeli oleh-oleh. Tapi ini pelajaran, ya. Buat yang berkesempatan jalan-jalan di Montmartre, kalau mau beli oleh-oleh, mendingan mulai memilih-milih di sekitaran sini. Soalnya, ada beberapa toko yang harganya lumayan oke. Kalau berkesempatan keliling sekitaran Montmartre, mungkin bisa dapat barang bagus yang harganya pas di kantong.
Jalanan di sekitaran Montmartre.
Buat yang mau naik Metro (kereta bawah tanah) ke Sacré-Cœur, bisa turun di stasiun Metro Anvers. Umumnya turis naik ke bukit Montmartre dari sini. Nah, berangkatnya kami naik Metro dari Gare de l’Est ke stasiun Anvers. Tapi waktu mau pulang kami sempat penasaran dengan Paris di waktu malam. Karena hotel kami letaknya persis di seberang Gare de l’Est, atau Stasiun Kereta Paris Est, sebetulnya hotel kami tidak terlalu jauh dari Montmartre. Kalau jalan kaki, bisa ditempuh sekitar setengah jam. Jadi, pulang dari Sacré-Cœur, kami memutuskan untuk jalan kaki.
Oh ya, sebetulnya dari Sacré-Cœur ke Moulin Rouge, tempat kabaret ternama itu, kalau jalan kaki cuma sekitar 20 menit lho. Tapi karena besok pagi kami harus mengejar kereta ke Strasbourg, dan takut bangun kesiangan karena jetlag, kami memutuskan untuk langsung pulang ke hotel saja. Sayang juga sih, sebetulnya.
Tapi buat saya yang baru pertama kami tiba di Paris, ada untungnya juga nggak ngotot jalan kaki ke Moulin Rouge. Pasalnya, daerah Montmartre nampaknya bukan daerah yang aman. Waktu kami pulang menuju hotel, sekitar jam sembilan malam, beberapa kali kami melewati pria-pria (keturunan Afrika) yang bergerombol. Itu di sekitar Boulevard de Rochechouart. Terus jalanannya agak sepi juga. Agak menyeramkan. Ada satu waktu, seorang mbak-mbak dengan baju pekerja (keturunan Afrika juga) cuek saja lewat di dekat mereka. Eh, salah satu dari mereka bergerak berusaha mencegatnya. Untung si mbak-mbak itu langsung sigap mempercepat langkahnya. Saya yang turis dan baru hari pertama sampai Perancis langsung khawatir dengan keamanan daerah situ. (Padahal mungkin ya standar keamanan di sana sama seperti kalau malam-malam jalan di sekitar Bendungan Hilir Jakarta, gitu kali ya.)
Untungnya, begitu kami tiba di Boulevard de Magenta, apalagi setelah tiba di sekitaran Gare du Nord, jalanan ramai; banyak mobil dan banyak pejalan kaki. Walau masih sedikit khawatir, saya merasa lebih tenang karena ada banyak orang. Walaupun begitu mendekati Gare de l’Est jalanan kembali berangsur-angsur sepi, tapi paling tidak masih ada beberapa mobil berseliweran.
Gare de l'Est Paris, dilihat dari kamar hotel kami.
Jam sepuluh kurang, kami tiba di hotel dan segera bersiap tidur. Maklum, keesokan paginya kereta kami berangkat jam 7:44. Pagi banget untuk ukuran orang-orang yang hobi bangun siang macam kami, dan habis penerbangan jarak jauh pula. Semua orang pasang weker di handphone biar bangun pagi. Tapi sebelum tidur, kami masih sempat mendengar beberapa orang berseru-seru di jalanan. Tadinya kami pikir ada yang marah-marah. Tapi setelah kami intip, ternyata cuma beberapa orang lewat sambil berbicara keras-keras.
Bukan bermaksud rasis ya, tapi daerah tempat kami menginap dan sekitaran Montmartre memang banyak didiami keturunan Afrika. Jadi, saya sudah sempat berprasangka negatif. Untungnya kami tidak mengalami apapun. Pada akhirnya, saya mengambil kesimpulan bahwa di manapun juga yang namanya keamanan itu relatif. Prasangka buruk terhadap orang lain belum tentu benar. Jadi yang penting, kita jaga diri baik-baik di manapun kita berada.


(Bersambung.)

4 Komentar:

  1. Atap gerejanya mirip kubah masjid ya..

    Apes kalau belum baca2 info terus datang kesini bawa backpack gede, cuma bisa mandangin dari luar aja ya ahaha..

    Next episode kemana aja nih? Pasti ada ke eiffel juga kan :D

    Salam
    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... artikel selanjutnya segera menyusul. Terima kasih sudah berkunjung!

      Hapus
  2. Ada loh teman bloger yang kuliah di sana, tapi dia di Caen. Tiap di live di IG, aku selalu mengikuti karena yang dia rekam itu banguna-banguan indah di Caen :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... itu daerah yang masih tradisional. Kalau Paris kan sudah metropolitan banget. Pasti keren foto-foto di Caen.

      Hapus