17 Februari 2018

Saya punya hobi jalan-jalan. Biasanya, kalau orang dengar istilah “jalan-jalan”, orang akan membayangkan berpergian ke luar kota, atau bahkan ke luar negeri, dan berlibur. Tidak sepenuhnya salah. Tapi jalan-jalan juga bisa dilakukan di dalam kota. Nah, hobi jalan-jalan saya sebenarnya adalah mengunjungi suatu tempat di luar rumah, terutama yang belum pernah didatangi sebelumnya. Nah, dengan definisi yang lebih luas ini, maka istilah “jalan-jalan” juga saya gunakan untuk mengunjungi rumah makan atau cafe baru, duduk-duduk di taman kota, atau ikut kegiatan yang membuat saya bisa mengunjungi tempat baru.
Dulu, waktu saya baru saja lulus kuliah, yang namanya pergi keluar rumah adalah untuk janjian dengan teman-teman. Setelah kelompok jalan-jalan di Kota Tua booming, saya jadi sering ikut berbagai kegiatan jalan-jalan di sekitaran Kota. Sampai-sampai saya pernah bosan banget dengan daerah Kota. Nah, ada juga masanya di mana saya memilih untuk ikut kegiatan yang tujuan utamanya tidak jalan-jalan, namun bisa membawa saya untuk berada di tempat-tempat (baik itu museum, rumah orang, atau cafe) yang sebelumnya tidak pernah saya datangi.
Bahasa isyarat, yang menggunakan gerakan untuk menyampaikan konsep atau ide.
Itulah sebabnya, ketika beberapa tahun yang lalu saya melihat ada pengumuman kursus bahasa isyarat Indonesia di Kathedral Jakarta, saya tertarik untuk mendaftar. Alasannya, pertama: Saya tertarik untuk mempelajari hal baru; kedua: saya tidak pernah masuk ke bagian belakang gereja Kathedral Jakarta. Dan itulah untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Bahasa Isyarat Indonesia, yang disingkat dengan Bisindo. Saya kursus Bisindo selama sekitar dua bulan. Dan setelah selesai kursus, ilmunya ya stagnan – karena tidak pernah dipakai.
Nah, beberapa hari yang lalu, saya juga ikutan pertemuan sebuah kelompok yang dinamai Polyglot Indonesia, chapter Jakarta. Saya cukup tertarik dengan kelompok ini karena saya suka belajar bahasa, dan juga karena pertemuannya selalu diselengarakan di tempat yang berbeda-beda. Pernah di cafe, restauran, dan pernah juga di co-working space. Pertemuan minggu lalu, di sebuah cafe di Gedung BTPN Mega Kuningan, ternyata membahas tentang bahasa isyarat. Jadinya itu adalah untuk kedua kalinya saya bertemu dengan Bisindo.
Bisindo, atau kepanjangannya adalah Bahasa Isyarat Indonesia, adalah bahasa isyarat yang digunakan oleh kaum tuna rungu di Indonesia. Selain Bisindo, ada juga SIBI (Sistem Bahasa Isyarat Indonesia), yang diajarkan kepada siswa-siswa tuna rungu di sekolah. Namun saat ini semakin banyak kelompok pendukung tuna rungu yang mendorong perkembangan Bisindo, karena menurut mereka SIBI tidak terlalu membantu kaum tuna rungu dalam memahami informasi yang disampaikan kepada mereka.
Saya tidak akan banyak membahas tentang sejarah ataupun konsep-konsep dalam Bisindo yang saya pelajari. Saya lebih ingin membahas tentang pengalaman pribadi saya waktu mempelajari bahasa isyarat ini.
Saya bahkan masih menyimpan buku pelajarannya, lho!
Banyak orang beranggapan bahwa Bisindo, atau Bahasa Isyarat Indonesia, adalah bahasa Indonesia yang diungkapkan dalam gerakan. Menurut saya, rasanya hal ini kurang tepat. Bisindo adalah bahasa yang memiliki tata bahasa dan kosa kata yang agak berbeda dari bahasa Indonesia. Bahkan, ada beberapa gerakan yang bisa berarti lain dalam konteks yang berbeda-beda jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kebalikannya, ada beberapa kata yang susah diterjemahkan dalam Bisindo karena pengalaman penggunanya berbeda. Jadi, menurut saya, Bisindo adalah bahasa yang bisa dikatakan berdiri sendiri.
Mungkin karena cara mengekspresikannya berbeda, maka Bisindo memang tidak bisa menjadi seratus persen bahasa Indonesia. Hal yang paling saya rasakan sebagai bukti perbedaan kedua bahasa ini adalah kesulitan untuk menerjemahkan lelucon antar kedua bahasa ini. Kerasa banget bahwa kedua bahasa ini memang berkembang di dalam sub-budaya yang berbeda.
Menemukan (dan lalu) memahami lelucon dalam Bisindo, untuk saya, rasanya menyenangkan. Sama seperti waktu saya ternyata bisa tahu lucunya omongan seorang artis waktu menonton acara gosip di TV5Monde. Dan tiba-tiba tahu arti beberapa gerakan waktu melihat para guru Bisindo membahas sesuatu, sama mengejutkannya seperti dulu, ketika saya sudah beberapa tahun kursus bahasa Jepang, tiba-tiba sadar bahwa saya tahu arti dari refrain lagu Truth-nya Arashi (sebuah boyband Jepang). Padahal waktu itu baru mendengarkan lagunya dua-tiga kali. Seperti menemukan dunia yang baru. (Yang sampai sekarang belum lancar, adalah membaca postingannya Sergey Lasarev di Instagram. Mungkin karena mata saya sering siwer waktu baca huruf-huruf cyrillic itu.)
Dulu, waktu saya pertama kali ikut kursus Bisindo, para guru dan rekan di kelas menunjukkan muka heran, ketika saya berkata bahwa saya belajar Bisindo karena saya senang berlajar bahasa. Mayoritas orang saat itu ikut kursus Bisindo karena ingin membantu keluarga/teman/tetangga/kenalan yang tuna rungu. Waktu itu pun, saya juga merasa aneh sendiri karena kok, kesannya egois sekali, belajar bahasa hanya karena suka – bukan untuk melayani sesama. Tapi waktu ikutan pertemuan di Polyglot Indonesia minggu lalu, hehehe ... baru nyadar, ternyata mempelajari bahasa hanya karena penasaran adalah hal yang umum. Temannya banyak.
Belajar bahasa isyarat sama seperti belajar bahasa asing.
Belajar Bisindo, dan juga belajar bahasa isyarat lainnya, memang memberikan tantangan tersendiri, terutama bagi yang doyan mempelajari konsep atau bahasa baru. Tantangan terberat untuk belajar bahasa isyarat secara umum adalah: makna kata sangat dipengaruhi oleh raut muka dan tekanan pada gerakan. Bahasa Indonesia tidak mengenal hal ini. Dalam bahasa isyarat, bergerak dengan halus dan bergerak dengan kasar, walaupun bentuk gerakannya sama, bisa memiliki rasa yang sedikit berbeda. Apalagi kalau raut mukanya berbeda, bisa diinterpertasikan jauh.
Untuk pengguna bahasa isyarat, raut muka sama seperti intonasi pada bahasa biasa. Gerakan yang sama, dengan wajah senyum atau raut muka sedih, artinya bisa jauh banget. Sama seperti kalau kita bertanya, “Kamu marah?” Kalau nadanya meningkat dengan tajam di kata “marah”, atau nadanya menurun di suku kata “rah”, atau ketika suku kata “rah” diucapkan dengan nada menurun lalu naik dengan lambat, maknanya agak berbeda kan. (Monggo, dicoba ...)
Nah, gerakan tangan dan badan lainnya sama seperti kosa kata yang kita gunakan sehari-hari. Teman-teman yang belajar bahasa Italia mungkin sudah terbiasa dengan pemahaman bahwa gerakan tangan adalah bagian dari kosa kata. (Ngebayangin sedang bilang, “Perfetto!” sambil menggerak tangan kanan dari kiri ke kanan, dengan jari-jari yang membentuk kode OK.) Bahasa Indonesia juga punya beberapa gerakan sebagai bagian dari kosa kata, namun penggunaannya sangat informal. Contohnya adalah “tepok jidat”. Semua orang Indonesia pasti tahu maksudnya, misalnya, ketika di tengah pembicaraan tiba-tiba ada salah satu orang yang “tepok jidat”.
Nah, kalau di dalam bahasa isyarat, seluruh kosa katanya adalah gerakan tangan dan tubuh. Selain tepok jidat (Iya, gerakan ini ada artinya di Bisindo!), ada menggoyang telapak tangan di depan dada, ada menggerakkan tangan di atas kepala, telapak tangan menghadap ke atas, ke bawah, dan lain-lain. Semuanya adalah bagian kosa kata yang digunakan sehari-hari. Susah dong belajarnya? Ya kalau mau bisa, ya sama seperti kalau kita mau belajar bahasa asing. Harus mulai menghafalkan kosa katanya. Seperti kalau mulai belajar bahasa Inggris: harus tahu bedanya good afternoon, good evening, dan good night.
Belajar dari yang paling dasar: abjad.
Jadi, karena saya senang jalan-jalan, dan juga mencoba hal-hal baru, saya jadi sempat berkenalan dengan bahasa yang unik ini. Bukan cuma memberikan kesempatan saya untuk mendatangi tempat baru, saya juga berkesempatan untuk merasakan sensasi yang berbeda saat berkomunikasi. Sayangnya, karena saya sudah tidak kursus lagi, dan juga jarang punya waktu untuk jadi relawan di Sabtu-Minggu, jadinya saya cuma tahu sedikit sekali tentang bahasa ini. Tapi pernah mengenal pun juga sudah menjadi pengalaman berharga untuk saya.
(Selesai.)

Catatan: Semua yang saya tulis di sini adalah pendapat pribadi. Saya sendiri bukan ahli bahasa dan tidak punya latar belakang pekerjaan ataupun pendidikan di bidang bahasa. Kalau ada kesalahan konsep atau representasi, mohon diinformasikan.

2 Komentar:

  1. Benar mbak, waktu saya missa (ibadah) hari Minggu di Katedral Jakarta, entah bulan berapa saya lupa. Jujur saya kagum dengan saudara-saudari yang komunikasinya via isyarat. Saya kagum karena mereka saling memahami. Jujur yang ambil bagian dalam komunitas ini adalah pelayanan dan relawan yang tangguh. Salut dan kagum dengan pengalamannya. Walau hanya sejenak namun memberi pengalaman baru. Nice post mbak. Salam hangat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung, ya. Memang relawan untuk saudara-saudara yang berkebutuhan khusus adalah orang yang luar biasa. Tidak cuma belajar bahasa, mereka juga harus memahami perasaan saudara-saudara itu. Pengorbanan yang luar biasa.

      Hapus