4 Februari 2018

Salah satu sudut kota Paris. Foto ini diambil di depan kantor pusat UNESCO, lho.
Hari ini adalah hari terakhir kami di Perancis sebelum berangkat pulang. Yah, besok sore pesawat kami sudah akan berangkat dan mengantar kami kembali ke tanah air. Hari ini (rencananya) akan kami manfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan landmark kota Paris. Untuk mempermudah kami, kami membeli tiket hop on – hop off bus yang berlaku untuk 24 jam sejak pertama kali kami naik bus. Hop on – hop off bus adalah bus tingkat yang mana kita bisa sepuasnya naik bus tersebut sepanjang rutenya.
Ada beberapa operator hop on – hop off bus, namun yang kami gunakan adalah Foxity. Harga tiketnya EUR 20 per orang, berlaku untuk 24 jam. Alasannya? Penjual tiketnya dekat hotel. Beda operator, kadang rutenya sedikit berbeda dan tempat pemberhentiannya juga berbeda. Jadi, bus manapun juga yang dipilih, kita sebagai pengguna wajib mempelajari rutenya, jadwalnya, dan juga tempat pemberhentiannya. Kebetulan kami beli tiketnya di pos informasi turis, jadi kami bisa mengambil brosur bus yang juga berisikan rutenya.
Salah satu hop on - hop off bus. Iklannya dong: Pesona Indonesia.
Kadang-kadang ada beberapa titik dimana ada beberapa bus dari operator yang berbeda-beda berhenti di tempat yang hampir berdekatan. Yang satu sebelum perempatan, yang satunya dekat jembatan, yang satunya setelah perempatan. Nah ... ini yang kadang membuat turis seperti kami bingung. Kadang kita kurang yakin, berhentinya di sisi jalan sebelah mana, atau di halte yang mana. Jangan khawatir, tanya saja pada orang-orang sekitar. Kalau tidak ada yang tahu (ini dari pengalaman saya), siap-siap mendadak lari menyeberang jalan karena ... busnya tiba-tiba muncul berhenti di seberang jalan!
Karena naik hop on – hop off bus, ada beberapa tempat dimana kami hanya melewati saja karena dirasa tidak perlu menghabiskan waktu di situ. Contohnya adalah La Place de la Concorde. Namun, ada juga tempat di mana kami nongkrong dan menghabiskan waktu cukup lama. Di mana lagi kalau bukan di sekitaran menara Eiffel.
Pemandangan khas Paris: Stasiun Metro.
Nah, ini kisah perjalanan kami selama sehari di Paris:
Jadi, pagi-pagi kami berangkat jalan kaki dari hotel menuju ke gereja Notre Dame de Paris yang terletak di l’Île de la Cité. Gereja yang terkenal sebagai latar belakang kisah The Hunchback of Notre Dame ini mulai didirikan pada tahun 1163. Gereja ini merupakan Katedral dan memegang peranan penting dalam sejarah Perancis. Notre Dame de Paris merupakan salah satu gereja terbesar di Perancis, dimana luas areanya sekitar 5.500 meter persegi.
Kenapa kami datang pagi-pagi? Karena untuk masuk ke dalam Notre Dame kami harus antre. Dan yang antre banyak, lho. Turis dari berbagai penjuru dunia ingin masuk ke dalam Notre Dame untuk melihat keindahan interiornya. Itulah sebabnya, bagian tengah yang biasa digunakan untuk berdoa ditutup agar tidak dikuasai oleh turis yang hanya mau foto-foto dan bisa mengganggu orang-orang yang benar-benar berdoa. Oh ya, buat yang mau beli oleh-oleh di Notre Dame, siapkan anggaran agak berlebih karena harga oleh-oleh yang ukurannya kecil bisa mencapai EUR 10!
Antrean masuk Notre Dame de Paris.
Salah satu sudut gereja Notre Dame de Paris.
Dari Notre Dame de Paris, kami jalan kaki ke Pont Neuf, yang merupakan ujung dari l’Île de la Cité. Dari situ kami mengambil bus Foxity untuk menuju ke Avenue des Champs-Élysées yang terkenal dengan toko-toko mewahnya. Bus kami melewati gedung Assemblée Nationale dan La Place de la Concorde sebelum menurunkan kami di Champs-Élysées. Di situ saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan Le Lido, yang merupakan tempat pertunjukan kabaret termasyhur di Perancis. Maklum, nggak punya uang untuk masuk ke dalam. Hehehe ...
Di ujung Avenue des Champs-Élysées, kami tiba di l’Arc de Triomphe. Bangunan yang menjadi salah satu landmark kota Paris ini didirikan di awal abad ke-19 dan merupakan bagian dari parade militer di Perancis dari masa ke masa. Nah, kita bisa naik ke platform di atas l’Arc de Triomphe, lho. Dengan tiket seharga EUR 12 per orang, kami bisa menaiki tangga dengan yang cukup curam dan melingkar. Nggak lama kok, naik tangganya cuma sekitar 7 menit kalau jalan normal dan tidak pakai berhenti. Tapi tangga yang curam ini bener-bener bikin jantung kerja ekstra.
Foto dulu di depan L'Arc de Triomphe.
Pemandangan kota Paris dari atas L'Arc de Triomphe.
Dari atas l’Arc de Triomphe, kami bisa melihat pemandangan kota Paris dari atas. Karena kami tahu antrean untuk naik ke atas menara Eiffel pasti parah banget, kami jadinya memuaskan diri untuk melihat kota Paris dari ketinggian di sini saja. Memang, dibandingkan antrean ke atas menara Eiffel atau ke atas menara di Notre Dame, antrean untuk naik ke atas l’Arc de Triomphe sangat sedikit.
Dari l’Arc de Triomphe, kami lanjut naik bus ke arah menara Eiffel. Kami melewati Grand Palais dan Petit Palais yang cantik banget. Kedua gedung ini adalah gedung pameran; dan saat kami lewat, sedang ada pameran lukisan. Selain itu, kami juga melewati Les Invalides, yang merupakan museum militer dan juga tempat dimakamkannya Napoleon Bonaparte.
Bus kami berhenti di dekat École Militaire, yang merupakan salah satu tempat pelatihan militer. Takut melanggar peraturan secara tidak sengaja dan kena hukuman, kami memutuskan untuk segera menyingkir dari tempat itu. Tujuan kami selanjutnya adalah kantor pusat UNESCO. Ini bukan tempat wisata, ya. Cuma, karena dari dulu saya selalu penasaran dengan kantor pusat UNESCO, mumpung di Paris, ya sekalian saja lewat di depannya. Dari kantor pusat UNESCO, kami lalu berjalan ke arah menara Eiffel.
Berfoto di depan kantor pusat UNESCO.
Kebanggaan kota Paris.
Menara Eiffel, kebanggaan warga Paris dan monumen yang paling terkenal di Perancis, terletak di taman yang luas banget yang disebut sebagai Champ de Mars. Kami tidak cuma memuaskan diri jalan-jalan di tengah lapangan hijau ini, namun juga nongkrong dulu di atas rumput sambil menikmati bekal yang kami bawa. Oh ya, buat yang mau piknik di Champ de Marse, selalu waspada ya. Soalnya penjual wine dan gantungan kunci juga berkeliaran di sini dan bisa memaksa kita untuk membeli. Kalau tidak berminat, tidak usah banyak lirik-lirik, apalagi memilih-milih dagangan.
Nah, daerah di bawah menara Eiffel sekarang ditutup dan dijaga oleh tentara. Untuk bisa lewat di bawah menara, kita harus melewati pos penjagaan. Antre untuk lewat pos penjagaannya lumayan lama juga. Di dalam pos, saya sih cuma disuruh buka tas, lalu dalamnya diperiksa secara basa-basi (cuma diintip sebentar). Tapi kedua teman saya tidak hanya disuruh buka tas, melainkan juga tasnya dibongkar petugas dan isi tas ditumpahkan semua ke meja. Teman saya sampai ngomel-ngomel ke penjaganya. Mas-mas yang jaga sih sebetulnya ramah dan minta maaf. Cuma, masukin barang-barang ke dalam ransel kecil kan lumayan ribet juga. Mungkin karena bentuk tasnya teman ransel ya, jadi dibongkar isinya. Saya cuma bawa tas selempang (walau ukurannya lumayan besar) dan aman-aman saja.
Dari menara Eiffel, kami lanjut naik bus Foxity lagi dan turun di dekat gedung Opera. Dari situ, kami jalan kaki melewati Place Vendôme dimana di situ terdapat monumen yang disebut sebagai Vendôme Column yang didirikan untuk mengenang kemenangan Napoleon dalam perang Austerlitz. Kami lalu jalan terus melewati Jardin des Tuileries dan menyeberang sungai Seine untuk menuju ke Musée d'Orsay.
La Place de la Concorde. Ini ambil gambarnya dari atas bus.
Sampai di Museum d’Orsay, jam menunjukkan tepat pukul 6 sore dan merupakan jam tutup museum. Salah satu teman saya menyesal karena tidak memperhatikan jadwal museum ini. Jadi, karena kami semua juga penasaran, kami lalu memutuskan untuk pulang cepat, beres-beres, dan besok pagi berangkat ke Museum d’Orsay supaya punya waktu paling tidak dua jam untuk melihat-lihat koleksinya.
Malam ini, kami makan kenyang di restoran, satu orang satu porsi, dan pulang cepat untuk mempersiapkan diri keesokan hari. (Buat yang mengharapkan kisah backpacker hemat, mohon maaf. Di malam terakhir kami tinggal di Perancis, kami memang sengaja mau memuas-muaskan diri dengan santapan “wajar” di Paris.)
(Bersambung.)

4 Komentar:

  1. Jalan jalan terus mbak, wah enak he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalannya sih sebentar. Tulisannya yang dipanjang-panjangin. Huehehehe ...

      Hapus
  2. Tata kotanya bagus dan rapi, saya suka banget. Saya yakin tata kota yang baik mempengaruhi cara berpikir dan kondisi lalu lintas kota tersebut. Lha kalau di Indonesia? Wakakakak semrawut.com.

    BalasHapus