5 Mei 2018


Sudah sering saya mendengar dan melihat nama “De Tjolomadoe”. Colomadu adalah nama sebuah kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Karanganyar. Daerah Colomadu, di jaman Belanda dulu, dikenal sebagai pusat produksi gula. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan berupa Pabrik Gula Colomadu, yang dibangun oleh Raja Mangkunegaran IV. Pada awalnya, pabrik gula ini merupakan milik keluarga raja, namun kemudian menjadi milik Praja Mangkunegaran, dan terakhir diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia.
Gedung utama De Tjolomadoe.
De Tjolomadoe sendiri adalah kawasan multiguna yang menyediakan tempat kegiatan masyarakat seperti area pameran, restoran, concert hall, panggung seni, dan museum. Kawasan ini dibangun di area pabrik gula Colomadu. Bangunan pabrik gulanya ditata ulang sehingga menjadi tempat wisata yang seru dan cantik.
Pemugaran kawasan De Tjolomadoe, sebenarnya, sampai saat tulisan ini dibuat, belum selesai. Namun, kawasan ini sudah beberapa kali dipakai untuk kegiatan masyarakat, antara lain konser musik dan pameran. Nah, di tanggal 20-22 April 2018 yang lalu, kawasan De Tjolomadoe menjadi tempat kegiatan Be Kraf Habibie Festival. Berhubung saat itu saya sedang di Solo, saya iseng-iseng berkunjung kemari.
Saya tidak akan banyak mengulas tentang kegiatan Be Kraf, karena bukan itu tujuan utama saya kemari. Saya lebih tertarik bercerita tentang kawasan De Tjolomadoe. Sebelum area ini direnovasi menjadi kawasan wisata budaya seperti sekarang, tempat ini adalah tempat yang terbengkalai. Bukan apa-apa, pabrik gula Colomadu terakhir beroperasi di tanggal 1 Mei 1997. Entah apapun yang menjadi rencana ke depan untuk bangunan pabrik saat itu, pastilah bubar jalan saat ekonomi Indonesia gonjang-ganjing di pertengahan tahun 1998. Jadi memang sejak tahun 1997 itu, pabrik ini menjadi bangunan tua yang terpuruk dan terabaikan.
Salah satu area yang jadi tempat Be Kraf 2018.
Pabrik gula Colomadu termasuk pabrik gula yang besar di jamannya. Selain didukung dengan tenaga kerja yang banyak, tanah perkebunan tebu di sekitaran Surakarta dan Karanganyar juga luas. Seiring dengan berjalannya waktu, biaya produksi gula semakin mahal, area kebun tebu semakin habis dijadikan perumahan, dan tenaga kerjanya beralih ke sektor lain yang lebih berkembang.
Sisa-sisa kejayaan pabrik gula ini terlihat dari luasnya tanah area pabrik. Bahkan, di sebelah barat bangunan utama, masih terdapat tanah kosong dengan sisa-sisa pabrik yang masih belum direnovasi. Bangunan utama De Tjolomadoe luasnya sekitar 7800 m2. Area yang dijadikan tempat parkirnya dikatakan mampu memuat 600 kendaraan parkir. Jelaslah jaman dahulunya pabrik ini besar dan produktif.
Masuk ke dalam bangunan utama, kita akan melihat segmentasi ruangan, yang didasarkan pada kegunaan area tersebut ketika masih berfungsi sebagai pabrik. Mungkin karena menggunakan konsep penamaan Belanda, masing-masing area produksi disebut dengan istilah stasiun. Jadi, saat pengunjung masuk ke dalam bangunan, dia akan melihat petunjuk nama ruangan dengan sebutan stasiun.
Ada empat stasiun yang saya lihat, yaitu Stasiun Gilingan, Stasiun Karbonatasi, Stasiun Ketelan, dan Stasiun Penguapan. Nah, fungsi dari masing-masing stasiun dapat dilihat di sisa-sisa mesin yang tetap dipertahankan di dalam desain interior masing-masing area.
Stasiun Gilingan.
Stasiun Penguapan.
Di Stasiun Gilingan, ada bekas mesin pencacah tebu. Mesin raksasa ini kini hanya menyisakan roda-roda bergerigi raksasa yang menjadi tempat selfie para pengunjung. Stasiun Karbonatasi adalah tempat pemurnian dan pengkristalan gula. Saat ini yang tersisa hanyalah beberapa roda tua yang mungkin dulunya membantu menggerakkan aliran bahan baku produksi.
Stasiun Ketelan adalah tempat penghasil uap untuk menggerakkan mesin produksi. Di sini ada ketel, atau tempat air raksasa. Sayangnya, waktu saya datang, di daerah ini ada bagian yang masih direnovasi. Stasiun Penguapan adalah tempat penguapan untuk mengurangi kadar air di dalam air tebu yang akan dijadikan gula. Di sini terlihat ada tabung-tabung dan pipa-pipa yang mungkin digunakan untuk mengalirkan uap atau air.
Di antara semua stasiun, stasiun yang paling menarik minat pengguna instagram adalah Stasiun Penguapan dan Stasiun Gilingan. Soalnya, sisa-sisa mesinnya cukup banyak dan unik. Tabung besi raksasa dan roda bergerigi yang besar banget membuat pengunjung dapat berimajinasi seolah-olah memang sedang masuk ke dalam sebuah pabrik yang produktif.
Karena waktu saya datang sedang ada acara Be Kraf, sebagian besar ruangan dipakai untuk pameran dan  jualan aneka macam produk. Sebetulnya, menarik juga jalan-jalan, foto-foto, sambil lihat-lihat kain dan makanan yang dijual. Siapa tahu dapat barang lucu buat dibawa pulang.
Melihat-lihat sisa mesin pabrik jaman dulu.
Di area De Tjolomadoe juga terdapat Tjolomadoe Hall, tempat konser dimana David Foster pernah konser di sini. Karena saat itu tidak ada konser, saya tidak bisa intip-intip apa isi ruang konser ini. Tapi harusnya sih, ya cukup bagus lah ya ... Di hall menuju ke Tjolomadoe Hall, yang disebut juga Sarkara Hall, terdapat area yang dapat digunakan untuk pameran produk.
Nah, buat yang ingin makan-makan di sini, terdapat sebuah cafe yang disebut sebagai Besali Cafe. Besali Cafe adalah restauran yang terletak di tempat pembuatan suku cadang mesin pabrik. Tempatnya unik, karena menyerupai bengkel.
Di luar bangunan utama, ada beberapa bangunan kecil yang dari bentuknya terlihat jadul. Ada menara tua, bangunan seperti rumah yang sekarang menjadi tempat kendali listrik, dan ada satu rumah bergaya Belanda yang sepertinya masih menjadi area Mangkunegaran. Sayangnya, saat saya berkunjung ke De Tjolomadoe, bangunan-bangunan ini tidak dapat dikunjungi. Bahkan, rumah yang sepertinya masih menjadi area Mangkunegaran itu masih direnovasi.
Salah satu bangunan di kompleks De Tjolomadoe.
Jujur saja, konsep wisata budaya dengan mengunjungi sisa-sisa pabrik masih tergolong baru di Indonesia. Sisa-sisa mesin yang sengaja dijadikan bagian dari interior bangunan membuat tempat ini cukup unik dan instagrammable. Mungkin karena masih dalam proses pembangunan, masih ada beberapa bagian yang terlihat buru-buru dikerjakan atau malahan masih belum seadanya. Tapi menurut saya konsep yang diusung kawasan ini keren banget.
Sayangnya, saya tidak melihat (atau belum disiapkan) papan yang berisi sejarah detil pabrik. Detil rencana dan progres pembangunan De Tjolomadoe ada. Namun sejarah pabrik seperti dulunya dibangun siapa, produknya dulu berapa banyak, dijual ke mana saja, tutupnya bagaimana, foto-foto jaman dulunya bagaimana, tidak terpampang. Entah karena dokumentasinya disimpan pihak Keraton Mangkunegaran dan mereka enggan berbagi, atau memang De Tjolomadoe tidak hendak mengungkit-ungkit masa lalu.
Tapi tetap saja, saya puas dengan kunjungan ke De Tjolomadoe ini. Saya tunggu selesainya proses revitalisasi pabrik gula Colomadu ini. Siapa tahu saya bisa datang kemari lagi setelah nantinya benar-benar diresmikan dan beroperasi secara penuh.
Mari kita tunggu kelanjutan revitalisasi Pabrik Gula Colomadu ini.
Catatan: Untuk yang berminat mengetahui sejarah Pabrik Gula Colomadu, coba intip rangkuman yang cukup lengkap dari Mbak Ningrum di https://adaningrum.blogspot.co.id/2015/01/manisnya-sejarah-pabrik-gula-colomadu.html.

7 Komentar:

  1. Terus terang ... aku angkat jempol buat bangunan megah pabrik gula Colomadu ini 👍
    Gagah, terawat dengan apik dan struktur bangunannya khas banget peninggalan VOC

    Semoga kelak aku kesampaian kesana.
    Nice sharing info, kak Dyah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... dan yang keren lagi adalah, bangunan ini dibangun atas inisiatif orang Indonesia sendiri, bukan milik Belanda. Ini kan peninggalan keraton Mangkunegaran.

      Hapus
  2. Coba pas sore atau malam mbak.. Lampu-lampunya keren hlo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa.... ntar kalau main ke Solo lagi gue coba lewat sana malam-malam.

      Hapus
  3. wah, menarik sekali ya mbak Dyah :)

    baru tau soal ini, tempatnya penuh dengan sejarah.
    bisa berkunjung ke sana sepertinya seru banget. semoga di lain kesempatan bisa ke sana :)

    salam,
    ceritaliana.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... ada banyak tempat yang sebetulnya bersejarah, tapi gak ada informasinya. Sayang kan, kalau informasi seperti itu hilang dimakan jaman.

      Hapus
    2. iya betul mbak, kalau bukan kita yang bantu mengabadikan. siapa lagi ya?

      Hapus