26 Oktober 2019

Ojek online di mana-mana.
Sebagai warga Jakarta yang sering kali terburu-buru dan harus berhadapan dengan kemacetan, saya sudah terbiasa menggunakan jasa ojek online (ojol). Tidak setiap hari, sih. Prioritas saya selalu kendaraan umum, terutama bus Transjakarta. Akan tetapi, di waktu-waktu tertentu, jasa ojek online memang lebih dapat diandalkan. Itulah sebabnya, saya pikir, menarik juga kalau saya kumpulkan beberapa pengalaman saya dengan ojol di dalam satu artikel.
Oh ya, ini bukan artikel berbayar. Ini memang cerita pengalaman pribadi saja. Oleh sebab itu, saya tidak akan menuliskan merk dagang di dalam artikel. Kalau saya menulis “abang ojol” atau “mbak ojol”, itu berarti dia bisa dari perusahaan manapun.

Abang Ojol dan Mbak Ojol

Mayoritas pengemudi ojek online adalah laki-laki. Tapi kadang-kadang saya bertemu dengan pengemudi ojek online perempuan. Menurut saya, tidak ada bedanya antara pengemudi laki-laki dan perempuan. Pengemudi laki-laki yang santun di jalan ada banyak, dan pengemudi perempuan yang asal belok sampai saya khawatir ditabrak dari belakang juga ada.
Tapi ada satu jenis pengemudi lagi nih: pengemudi dengan profil perempuan, tapi yang datang laki-laki. Biasanya pengemudi pengganti akan bilang dia adiknya atau kakaknya atau anaknya dari pengemudi perempuan yang berhalangan. Tapi saya nggak pernah bermasalah dengan pengemudi pengganti ini. Toh, sama-sama sampai tujuan. Hanya saja, biasanya saya harus memastikan bahwa akun di hapenya memang sesuai dengan profil yang muncul sebagai driver saya. Maksudnya, jangan sampai saya salah naik motor ...

Salah naik motor

Iya, ini juga pernah. Turun bus Transjakarta, mau buru-buru ke suatu tempat karena sudah telat. Ada abang ojol yang memanggil nama saya. Buru-buru saya naik. Di tengah jalan, dia belok ke tempat yang saya tidak kenal. Saya pun ngotot harus lewat jalan yang saya kenal. Giliran tiba di tujuan, abang ojol ditelepon pelanggan yang marah-marah karena menunggu kelamaan. Saya juga ditelepon abang ojol yang harusnya membawa saya.
Ternyata ... mbak-mbak yang harusnya naik motor ojol saya namanya Dian. Saya namanya Dyah. Di pinggir jalan raya yang berisik, kedua nama itu kedengaran sama di telinga. Saya pun bayar cash dua kali lipat karena merasa bersalah nggak ngecek lagi sambil diomelin si abang ojol. Plus, yang abang ojol yang sudah saya pesan tetap dibayar karena saya bilang ke dia, klik saja seolah saya naik motornya. Jadi dia tetap jalan ke tujuan saya dan membawa “saya” di dalam catatan perjalanannya.

Ojol sampingan

Nah, ini juga beberapa kali terjadi. Sekali waktu, datang abang ojol dengan baju preman (tanpa atribut ojol), dengan helm yang tanpa logo juga. Plus, ada tas ransel di depan. Sambil jalan, dia cerita kalau dia bekerja sebagai satpam dan perusahaannya tidak mengijinkannya untuk punya kerja sambilan. Tapi karena penghasilan kurang, ya apa boleh buat, dia tetap jadi pengemudi ojol ketika sudah tidak menjalani shiftnya. Tapi supaya tidak ketahuan, dia sengaja tidak membawa atribut ojol. Jadinya, sepanjang perjalanan saya jadi tempat curhat soal penghasilan dan keluarganya.
Nah, suatu kali, saya perlu ke suatu tempat sepulang kantor, yang mana tempatnya tidak dilewati kendaraan umum. Jadi saya memesan ojol. Setelah dapat orderan, saya tunggu agak lama, kok si abang ojol nggak muncul-muncul? Setelah muncul dengan atribut lengkap, si abang ojol minta maaf dan bilang, “Maaf lama Mbak, saya antre nge-tap absensi dulu di kantor.” Kenapa coba, belum ngabsen sudah terima orderan?

Ojol raja jalanan

Pernah dapat abang ojol yang ngebut banget seperti dikejar hansip? Nah, saya juga pernah. Sempet dibilangin supaya pelan-pelan sedikit, kayaknya orangnya nggak dengar. Kebetulan, waktu itu malam hari, sudah lewat jam 10 malam, dan jalanan cukup sepi. Mungkin abang ojol ini jarang-jarang dapat jalanan sepi ya, jadi bawaannya ngebut terus. Waktu saya omelin setelah selesai perjalanan, dia cuma cengar-cengir saja. Halah! Tapi untuk saya satu ini, saya berharap tidak mengalami lagi. Bukan apa-apa, keselamatan di jalan kan tetap nomer satu.
Raja jalanan bukan hanya identik dengan keberanian, namun juga pengetahuan yang luas. Abang ojol yang okeh banget, versi saya, adalah yang tahu jalan tikus sehingga bisa sampai di tujuan tanpa terkena macet. Saya tahu ada beberapa teman yang tidak suka diajak lewat gang-gang sempit, dan takut kalau dilewatkan di jalanan yang tidak dikenal. Tapi saya pribadi justru lebih senang jika melewati gang-gang sempit dan jalanan baru. Ada masanya dimana saya menyukai variasi pemandangan di jalan: jalanan macet, gedung bertingkat, daerah padat penduduk dengan jemuran di depan pintu, gang sempit dimana gerobak nasi goreng sedang bersiap untuk diberangkatkan, dan ibu-ibu tua yang duduk di depan rumah dan merokok.

Ojol minta dicarikan jodoh

Eh, ini juga pernah. Saya pernah dua kali dapat abang ojol yang curhat kiri-kanan, terus buntut-buntutnya nanya saya sudah menikah atau belum, dan terus curhat kalau dia datang ke Jakarta karena di kampungnya nggak dapat kerja dan jodoh. Terus, terakhir dia tanya, apakah ada adik atau teman atau saudara saya yang juga sedang cari jodoh. Lha?

Ojol dengan kemampuan khusus

Saya juga pernah dapat abang ojol yang tuna rungu. Setelah mengambil orderan, dia lalu menuliskan di chat bahwa dia tuna rungu. Saya tulis: OK. Ya nggak masalah. Menurut saya, abang ojol yang tuna rungu adalah abang ojol dengan kemampuan khusus. Mereka tidak mendengar suara klakson, atau dapat mendengar tapi tidak jelas, namun bisa waspada dengan kendaraan lain yang bersliweran di jalan. Nggak perlu khawatir, berdasarkan pengalaman saya dengan abang ojol tuna rungu, perjalanannya sama saja seperti abang ojol dan mbak ojol lainnya.
Yah, itulah segelintir pengalaman saya naik ojek online. Semua kisah ini nyata, namun sedikit dimodifikasi dengan harapan tidak menyinggung siapapun. Masa kejadiannya dari dua tahun yang lalu hingga sekarang, jadi mungkin ada beberapa kejadian yang sudah tidak mungkin terjadi lagi sekarang karena perkembangan teknologi atau perubahan peraturan di perusahaan masing-masing. Mungkin ada yang punya pengalaman lain naik ojol? (Catatan: Komentar yang menyinggung tidak akan dimunculkan.)

12 Komentar:

  1. Wah seru ya mbak. Asal nggak kebut-kebutan, ngeri deh mbak. Keselamatan tetap yang utama.

    BalasHapus
  2. Waaahaahhha saya pernah dapet ojol, yang ternyata diaaaaa manager di suatu perusahaan. Keren amat ya ampon, tapi disuatu sisi, gimanaaaaa yaaaa

    BalasHapus
  3. hahahahahahaha, saya sering salah naik motor, lebih parah lagi, salah naik mobil.
    Udah masuk dengan pede duduk manis eh salah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha... sopirnya psti juga bingung.

      Hapus
  4. Wkwkw... seru tuh yang sampe salah naik ojol :)

    Pernah order go car, nama dan foto drivernya cwe cantik. Udah semangat mau naik, eh ternyata yg legi bawa suaminya wkwkwkw

    BalasHapus
  5. Buat saya ojol itu pahlawan mba selain suami dan keluarga hihihi. Soalnya dia suka nganterin aku yang ga tahu kota jakarta kemana aja dengan selamat. Terima kasih Ojol. ��

    BalasHapus
  6. naik ojek untuk elak macet..bagus juga tu

    BalasHapus