19 Oktober 2019

Kali ini saya hendak bercerita tentang pengalaman saya memasuki Gedung Kesenian Jakarta sekaligus jalur bus Transjakarta yang bisa mengantar kita kemari.
Sebetulnya, saya sudah beberapa kali mengunjungi Gedung Kesenian Jakarta untuk menonton pertunjukkan seni. Umumnya, pertunjukkan yang saya datangi adalah pertunjukkan gratisan. (Huehehe ... memang mental gratisan.) Banyak kegiatan seni yang diselenggarakan kedutaan asing dan pusat kebudayaan diselenggarakan di sini tanpa memungut biaya dari penonton. Beberapa pertunjukkan yang pernah saya tonton di sini, antara lain, pertunjukkan tarian Spanyol, pertunjukkan shamisen Jepang, paduan suara dari beberapa grup Indonesia, dan tarian kolaborasi Belanda – Indonesia.
Gedung Kesenian Jakarta di waktu malam.
Dari bentuknya, sebetulnya sudah bisa ditebak kalau bangunan ini sudah lama berdiri. Di bagian depannya terdapat tiang-tiang tinggi seperti bangunan kuno di Yunani. Temboknya tebal dan dihiasi dengan lengkungan seperti umumnya bangunan kuno peninggalan jaman Belanda. Begitu masuk ke bagian tengahnya, terdapat lorong yang cukup sempit yang dapat membawa kita ke ruang tunggu di sisi kiri dan kanan ruang pertunjukan utama. Ruang tunggu yang juga bisa untuk ajang promosi sponsor dan tempat hidangan ringan ini cukup luas; hanya saja memang terkesan tua. Paling belakang adalah toilet, yang selalu ramai jika ada pertunjukkan.
Bagian utama dari bangunan ini adalah ruang pertunjukkan utama. Pintu masuknya dibuka setelah gong ditabuhkan dua kali. Kenapa begitu? Tak tahu; tapi setiap kali saya datang selalu begitu. Ruang pertunjukan utama memiliki panggung yang sebenarnya tidak terlalu besar, namun atapnya tinggi. Tempat duduk penonton ada yang berderet di tengah, dan ada yang di balkon di kiri-kanan ruangan. Balkon disusun bertingkat, sehingga penonton juga bisa duduk di bagian atas.
Bangunan ini memiliki halaman yang cukup luas, tapi tetap saja tidak bisa menampung banyak mobil pribadi pengunjung, apalagi kalau sebagian besar membawa kendaraan. Kalau berencana menonton di sini, saran saya, naik kendaraan umum atau sewa kendaraan online saja. Selain praktis karena tidak perlu parkir, juga tidak perlu pusing karena jalan ke sini di sore hari biasanya macet banget. (Kan umumnya pertunjukkan seni baru diselenggarakan sore atau malam hari.)
Ruang pertunjukkan utama.
Bangunan Gedung Kesenian Jakarta yang saya bicarakan ini sebenarnya adalah hasil renovasi gedung tahun 1987. Tapi bangunan aslinya sudah berdiri dari tahun 1821 dengan nama Schouwburd Weltevreden atau Comidiegebouw. Letaknya di kawasan super elit di jamannya, dekat dengan Pasar Baru dan Lapangan Banteng. Dari awal berdirinya, bangunan ini memang bergaya Romawi, dan bagian depannya yang khas itu memang asli dari jaman dulunya.
Sebelum bangunan ini berdiri, di sini sempat dibangun teater bambu yang memang dibuat dari anyaman bambu di jaman pemerintahan Inggris. Namun setelah Inggris harus menyerahkan Hindia Belanda kembali ke tahta oranye, para seniman Belanda membongkar gedung semi permanen itu dan menggantikannya dengan gedung yang kita kenal sekarang.
Di masa kejayaannya, Gedung Kesenian Jakarta menampilkan artis dan seniman internasional yang didatangkan dari Eropa, misalnya grup sandiwara pimpinan Louis Bouwmeester. (Jujur sih, saya baru dengar nama ini saat mencari artikel tentang Gedung Kesenian Jakarta. Waktu browsing mengenai dia, baru tahu ternyata dia dulu terkenal banget. Tapi waktu dia terkenal, orang tua saya juga belum lahir.)
Bangunan ini pernah beberapa kali berganti fungsi seiring dengan perubahan peta politik di Indonesia. Konggres Pemuda yang pertama di tahun 1926 diselenggarakan di sini. Di jaman penjajahan Jepang, gedung ini pernah menjadi markas tentara. Tepat setelah merdeka, tempat ini beberapa kali menjadi tempat sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). KNIP adalah cikal bakal dari DPR yang disebut-sebut sebagai wakil rakyat itu. Selanjutnya, gedung ini pernah menjadi ruang kelas untuk Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia di tahun 1951. Di tahun 1968, gedung ini disulap menjadi bioskop. Baru di tahun 1984, fungsinya dikembalikan ke fitrah aslinya, yaitu gedung pertunjukkan.
Transportasi menggunakan bus Transjakarta
Bagaimana caranya ke Gedung Kesenian Jakarta dengan kendaraan umum? Sangat mudah, karena gedung ini letaknya persis di seberang halte busway Pasar Baru. Halte busway Pasar Baru dilewati bus Transjakarta berikut:
  • Koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru), pemberhentian terakhir
  • Koridor 11V (Pulo Gebang – Pasar Baru), pemberhentian terakhir
  • Koridor 5C (Harmoni – PGC), hanya yang ke arah PGC
  • Koridor 5H (Harmoni – Ancol), hanya yang ke arah Ancol
Gampang kan, naik bus Transjakarta ke Gedung Kesenian Jakarta.

Bahan tulisan diambil dari:

22 Komentar:

  1. Ada rencana liburan keluarga nih tahun depan ke Jakarta, catat dulu ah jadiin wish list semoga bisa kesampaian melihat pertunjukan seni di sana ^^

    BalasHapus
  2. Kemarin pernah lewat sini sih, karena nginap di sekitaran Pasar Baru, tapi belum sempat singgah karena nggak tau ada pertunjukan atau nggak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... masalahnya pertunjukkan yang gratis biasanya nggak ada spanduknya.

      Hapus
  3. menarik juga nih tempat.
    gak pernah saya tau kalau bisa kita datangi secra free. hhiihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... harus pas lagi beruntung sih, Kak.

      Hapus
  4. Wah, harus ke sana kapan-kapan.
    Ada jadwal rutinnya nggak untuk pertunjukan gratisannya? Hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya pertunjukkan gratisan itu tergantung sponsor, ya. Harus rajin-rajin cari info pertunjukkan budaya buat tahu acara-acara gratis di sekitaran Jakarta, termasuk yang di Gedung Kesenian Jakarta.

      Hapus
  5. saya pernah melintas saja pas dulu ada kerjaan di jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang, kalau lagi nggak ada acara agak susah juga sih masuknya.

      Hapus
  6. belum pernah ke sana, bisa jadi alternatif wisata nih kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... apalagi kalau pas ada pertunjukkan gratis. Huehehe...

      Hapus
  7. Gedung kesenian Jakarta memang bersejarah ya, pernah berganti fungsi juga. Lokasinya jauh juga dari stasiun Gambir...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya sih... masih bisa jalan kaki sih. Tapi lumayan juga. 20 menit lah ya.

      Hapus
  8. Pengen ke jakarta lagi.. kemarin belum sempat mampir ke gedung kesenian ini, semoga ada kesempatan kembali ke jakarta

    BalasHapus
  9. Jakarta banyak banget tempat-tempat yang nyeni gitu yaaaa.

    Seneng sayaaaaa.

    GKJ ini kayaknya sering banget buat dipake show-show standup gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, saya malah tak tahu tentang show standup di GKJ.

      Hapus
  10. Lu mah paling jago deh mbak ngasih tau rute-rute busway. Besok-besok gw kalo mau ke suatu tempat naik busway gw nanya lu aja yak, hahahaha.

    Btw, gw belom pernah tau ke GKJ. Cara tau jadwal pertunjukkannya gimana sih mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue kan kerja sambilan jadi petugas Transjakarta. Wakakakak ... Btw, gimana tahu jadwal kegiatan di GKJ? Ya tahu, lah.... gaul dong. Update kalau soal acara gratisan.

      Hapus
    2. Sombong kali anda, wkwkwkwk

      Hapus