2 November 2019

Sebetulnya saya ke warung ini dua tahun yang lalu. Waktu bongkar-bongkar file di komputer, ketemu foto-foto saya dan teman-teman sedang minum jamu di sana. Saya jadi ingin menulis pengalaman mengunjungi Warung Jamu Bukti Mentjos ini.
Saya suka minum jamu, tapi tidak rutin meminumnya. Yah, kadang-kadang saja. Tapi waktu dengar kabar tentang warung jamu ini, saya dan teman-teman saya sepakat untuk mencoba minum jamu di sini.
Warung Jamu Bukti Mentjos terletak di daerah Salemba, dengan alamat di Jl. Salemba Tengah no. 48, Jakarta Pusat. Letaknya tepat di sebuah pertigaan, yang mana di tengah jalannya terdapat taman kecil yang disebut dengan Taman Mentjos. Di Taman Mentjos ini terdapat beberapa penjual makanan kaki lima. Katanya di daerah sini dulu ada pasar yang ramai sekali, yaitu Pasar Mentjos. Tapi sekarang sih sudah tidak ada lagi.
Nongkrong sambil minum jamu.
Warung jamunya cukup besar dan bisa muat cukup banyak orang. Ada halaman tempat parkirnya pula. Dekorasi interiornya cukup menarik dan berkesan jadul banget. Di tembok ada foto-foto tua dan ada beberapa etalase yang menyimpan pernak-pernik yang nuansanya dulu banget. Kesannya tua banget. Tapi ya nggak salah sih, karena warung ini sudah berdiri dari tahun 1950-an. Bahkan, menurut brosur dan lembar informasinya, warung jamu ini ada di kota Solo pada tahun 1940-an, namun kemudian pindah ke Jakarta. Sampai sekarang, bahan-bahan ramuannya masih bersumber dari Kota Solo, Jawa Tengah.
Di antara semua barang yang dipajang di sini, yang paling menarik perhatian saya adalah etalase produk dan bahan ramuan. Bahan-bahan ramuan dan produk jadi ditata di dalam stoples dan kotak yang disusun secara rapi. Kalau kita minum di meja bar, kita akan menikmati jamu sambil melihat mbak-mbak staf di situ bekerja melayani pembeli.
Daftar menunya ada di dalam brosur yang ditata di atas meja. Membaca daftar menunya saja menarik, lho. Di situ dituliskan berbagai macam jenis jamu plus gunanya. Jadi, orang datang memesan jamu bisa dengan permintaan bahan tertentu atau tujuan penggunaan tertentu. Bisa saja kita datang dan minta jamu kunyit asam, atau minta jamu untuk mengurangi rasa pegal akibat menstruasi. Selain menyediakan jamu seduhan (yang bisa diminum), di sini juga dijual ramuan tradisional untuk dipakai di badan, misalnya bedak dingin.
Etalase jamu Bukti Mentjos.
Waktu kami datang, staf yang jaga langsung bertanya tujuan kami minum jamu. Tujuannya minum jamu? Iya, dia bilang, untuk jaga kesehatan, untuk mengurangi pegal-pegal, untuk calon pengantin, atau untuk kelanggengan rumah tangga, semua ada jamunya tersendiri. Dia bisa menawarkan jamu sesuai dengan kebutuhan kita.
Kalau lihat di brosurnya sih, memang ada banyak banget jenis jamunya. Kami semua terheran-heran membaca brosurnya. Nama jamunya cukup menggelitik, apalagi jenis khasiat yang ditawarkan. Ada jamu Batuk Pilek, untuk mengobati batuk pilek; ada jamu Batuk Angin, untuk mengobati masuk angin dengan batuk; ada juga jamu Seninjong, untuk memperbaiki jalannya darah dan membantu wanita yang ingin segera punya anak; dan macam-macam lainnya. Ada juga paket jamu, misalnya paket jamu untuk wanita yang baru saja melahirkan, paket jamu calon pengantin, dan lain-lain.
Waktu itu, kami cuma mau mencoba minum jamu yang biasa saja. Staf yang ada lalu menawarkan jamu yang umum untuk menjaga kesehatan, seperti beras kencur, kunyit asam, dan temulawak. Ketiga jamu yang umum dijual oleh mbok jamu gedongan ini memang rasanya sudah kami kenal. Tentunya penawaran jamu populer ini tidak kami tolak. Kebetulan kami semua sedang tidak ada keluhan kesehatan, jadi jamu populer menjadi pilihan yang dirasa tepat.
Selain jamu-jamuan, warung ini juga menyediakan berbagai jenis hidangan bubur dan minuman lainnya. Ada bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, biji salak, wedang ronde, sekoteng, STMJ, dan lain-lain. Tak urung kami pun mencoba bubur kacang hijau dan biji salak. Yah, bolehlah untuk mengganjal perut sebelum jalan kaki ke tempat lain.
Mbok jamu mejeng dulu.
Untuk yang mau mencoba jamu Bukti Mentjos, bisa langsung berkunjung kemari. Buka dari hari Senin sampai hari Sabtu, dari jam 09:00 – 21:30. Tutup di hari Minggu atau hari libur. Transportasinya juga tidak susah karena letaknya memang di tengah kota, sehingga ada beberapa pilihan transportasi.
  • Yang mau naik Commuter Line, bisa turun di Stasiun Kramat dan jalan kaki sekitar 5 menit ke arah Jl Salemba Raya.
  • Yang naik bus Transjakarta, turun di halte busway Salemba UI (depan Fakultas Kedokteran UI) dan jalan kaki sekitar 10 menit ke arah Jl. Salemba Tengah. Kalau males jalan kaki, bisa ambil angkot warna biru APB JP 04 Salemba – Rawasari di depan Alfamidi. Bisa turun tidak jauh dari Warung Jamu Bukti Mentjos.
Ada yang mau minum jamu?

50 Komentar:

  1. warung jamunya bagus abnget , apa kalau minum di sana jamunya jd gak pahit ya, heeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakak! Jamu sih rasanya di mana saja sama. Tapi seru juga lho, nongkrong sambil minum jamu.

      Hapus
  2. Benar tujuan minum jamu untuk kesehatan. Tapi yang paling populer adalah jamu tolak angin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, ini kalimat yang susah disanggah. Benar banget!

      Hapus
  3. Tuh kan lu sampai tau rute tranjak, lu pantes mbak nglamar jadi sopir tranjakarta, hahaha

    BalasHapus
  4. Saya sejujurnya kurang doyan jamu, tapi pengen juga sesekali nongkrong minum jamu di tempat ginian, kali aja selera saya dalam jamu-jamuan jadi meningkat hahaha.

    Soalnya dulu pernah minum jamu, pahit, jadinya semacam trauma :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya, nggak ada jamu yang manis, Mbak. Pasti ada, paling tidak, sedikit rasa pahit atau masam.

      Hapus
  5. ga kuat minum jamu, pahit. tapi kalau untuk awet muda mungkin mau kali ya kwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau awet muda, banyak senyum, Kak.

      Hapus
  6. Wahh jadi kepengen minum jamu. Rasanya udah lama banget kami gak minum jamu untuk kesehatan.


    Salam kenal dari kami Travel Blogger Indonesia Ibadah Mimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, udah sehat, rasanya juga enak. Untuk saya ya. Salam kenal juga!

      Hapus
  7. warung jamunya tertata apik ya. jadi bikin betah pelanggan yg minum jamu di situ.
    aku tadinya ga suka jamu. lama2 seelah sering minum, kok enak juga ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi terbiasa, ya. Tapi sekarang emang lagi ngetrend lho, kafe jamu.

      Hapus
  8. Unik juga di Jakarta ada warung jamu. Banyak peminatnya berarti, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jelas, sih. Jakarta kan orangnya banyak. Pasti ada pasarnya.

      Hapus
  9. duh udah lama gak minum jamu, nanti mau mampir sama keluarga ah :D

    BalasHapus
  10. Sebagai salah satu peminum jamu dari kecik keknya pengen nyobain deh apalagi cuma lima menit dr Stasiun Kramat Jati. Udah kebayang aja segernya Jamu Bukti Menjhos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan jamunya banyak banget. Harus dicobain, tuh.

      Hapus
  11. Jamu sekarang makin kekinian ya. Jadi banyak yang ingin menikmati jamu. Itu tempatnya udah kayak kafe ya. Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, kayak rumah makan sih. Luas, tempatnya.

      Hapus
  12. wih jadi pengen wedang ronde! kalau jamu aku suka kunyit asem. rasanya asem asem manis gitu enak. sebenernya tergantung yg buat sih, klo kunyitnya kebanyakan agak pahit juga, yang bikit takut minum jamu itu kalo aku karna baunya yg herbal bgt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, nggak suka bau herbal gitu ya? Ya apa boleh buat sih, jamu kan memang ramuan herbal.

      Hapus
  13. Wah favoritku ini banyak pilihan jamu yang bisa diminum. Sekarang sudah sulit mencari minuman jamu di dekat tempatku :)

    Regards,
    Dee Rahma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi di area perkantoran di pusat Jakarta, semakin banyak mbak-mbak jualan jamu pakai sepeda, lho. Mungkin sebetulnya peminatnya semakin bertambah.

      Hapus
  14. Saya senang banget minum jamu yang dipikul simbok-simbok di kampung. Favorit saya beras kencur dan kunyit asam. Segerrr apalagi kalau diminum pagi-pagi habis sarapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, itu rasa jamu yang memang banyak peminatnya. Seger!

      Hapus
  15. Wah menarik, mbak. Warung jamu tapi bisa buat nongkrong karena tempatnya nyaman dan luas. Coba ada cemilan kayak kue-kue basah gitu ya hehe. Aku juga suka minum jamu. Kadang kalo pas papasan sama mbak jamu di jalan aku beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini cemilannya bubur kacang hijau. Hahaha...

      Hapus
  16. Eh, kalau warung jamunya secakep dan sebersih ini sih, saya juga mau. Ini jual jamu aja ya? Padahal kalau ada camilan atau kopi-kopi gitu asyik kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada bubur kacang hijau juga, kok. Tapi kalau camilan cantik emang nggak ada.

      Hapus
    2. Cemilan ada tapi tidak banyak,tersedia somai ayam,bacang ayam telor asin,kroket,pastel,kacang bawang,ting2 kacang,permen jahe,permen asam,kripik,emping jg tersedia

      Hapus
    3. Iya... soalnya fokus utamanya kan emang jualan jamu.

      Hapus
  17. Jamu aku palingan kunyit asem atau beras kencur sih. Yang lain-lain belum nyoba dan engga tahu namanya. Hehe...Wah, kalau nongkrong di sini, temen nongkrongnya harus yg suka jamu juga nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya iya, lah... kalau temennya sukanya kopi, bingung ntar dia.

      Hapus
  18. Wah ada warung jamu dg penampilan modern tp tetap mengedepankan cita rasa tradisional y.. mantab deh
    .

    BalasHapus
  19. Saya gak suka minum jamu, sih. Tetapi, kalau ada yang ajakin ke sini, ayo aja. Cari-cari suasana baru. Nanti di sana, saya makan bubur aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buburnya lumayan, kok. Tapi ya nggak istimewa.

      Hapus
  20. Aku pencinta jamu tapi baru bisa yang umum kayak kunir asem, kunir putih, sirih hihi belum bisa yang pahit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem, Mbak. Saya juga kurang suka yang pahit.

      Hapus
  21. Sejujurnya Saya ga suka minum jamu. Tapi buat pengalaman Ada naiknya dicoba nongkrong seperti ini ya. Cuman bingung mau pesen jamu opo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas sih, nggak pesen jamu datang bulan kan...

      Hapus
  22. Aku sampai sekrang masih suka minum jamu gendongan depan rumah mbak. Apalagi kalau lg trip panjang, suka bekal jamu juga. Boleh neh dicoba dateng kapan2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jamu gendongan juga enak. Saya juga suka.

      Hapus
  23. aku suka minum jamu, malah sering bikin kunyit asam sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, keren! Rajin sekali. Kalau bikin sendiri, pastinya bahan²nya higienis dan berkualitas lah ya.

      Hapus
  24. aku suka konsep gerainya traditional dan modern gitu, sehat dan kekiniian hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menjaga budaya dan menjaga kesehatan.

      Hapus