28 Desember 2019

Beberapa minggu yang lalu, saya, adik saya, dan ibu saya berencana untuk jalan-jalan bareng di kota Surabaya. Supaya hemat cuti, jalan-jalan ini hanya dilakukan di akhir pekan. Karena kami tinggal di kota yang berbeda, maka perjalanan menuju Surabaya dilakukan sendiri-sendiri; yang penting ketemu di Surabaya.
Saya dan adik saya naik kereta dari Jakarta dan akan turun di stasiun Surabaya Pasarturi (atau biasa disebut stasiun Pasar Turi). Sementara ibu saya naik kereta dari kota Solo dan akan turun di stasiun Surabaya Gubeng (atau biasa disebut stasiun Gubeng). Gimana ketemunya nanti? Karena saya dan adik saya sampai di Stasiun Pasar Turi terlebih dahulu dibandingkan ibu saya sampai stasiun Gubeng, jadi saya dan adik sayalah yang akan menemui ibu saya di stasiun Gubeng.
Mejeng dulu di stasiun Surabaya Pasarturi.
Tadinya sempat berpikir, naik taksi atau sewa kendaraan online untuk membawa kami ke stasiun Gubeng. Tapi waktu cek di GoogleMaps, ternyata jalan kaki antara kedua stasiun kereta itu hanya 45 menit! Pikir punya pikir, dari pada duduk-duduk bengong, mendingan kami berdua jalan kaki saja. Lumayan untuk menghabiskan waktu. Dan, dimulailah perjalanan kami: jalan kaki dari stasiun Pasar Turi ke stasiun Gubeng.
Stasiun Pasar Turi terletak di Jl. Semarang no.1, Surabaya. Stasiun ini melayani kereta yang tiba di Surabaya melalui jalur utara, termasuk yang datang dari Jakarta atau Semarang. Stasiun ini cukup besar dan memiliki fasilitas yang lengkap. Selain toilet di dalam dan luar stasiun, ada juga mushola, toko kelontong, penjuala oleh-oleh, dan tempat makan. Yang jelas ada AlfaExpress, Roti O, dan Solaria.
Persis keluar dari gerbang stasiun, di tepi jalan raya, kami mampir ke penjual sate kelapa. Penjual sate gerobakan ini mangkal di dekat parkiran motor stasiun Pasar Turi. Sate kelapa adalah hidangan khas Surabaya, yaitu sate yang ditaburi parutan kelapa. Rasanya tentu saja gurih. Sate ini diberi bumbu kacang dan kecap biasa, jadi setelah dicampur dengan bumbunya bentuknya tidak jauh berbeda dengan sate biasa.
Setelah mencicipi sepiring sate kelapa berdua (ceritanya hemat), kami lalu memulai perjalanan kami ke stasiun Gubeng. Dari Jl. Semarang, kami memasuki Jl. Raden Saleh. Ini daerah pertokoan yang tidak terlalu menarik. Hanya ada, antara lain, toko besi dan toko peralatan berat. Trotoar juga hampir-hampir tidak ada. Di sini terlihat ada satu dua bangunan yang terlihat sudah lama. Karena kami melewati jalan ini jam 7:00 pagi, jalanan relatif sepi dan toko-toko masih tutup semua. Walau masih jam 7:00 pagi, tapi jalan ini terasa panas, karena jarang pohon.
Salah satu lajur di Jl. Bubutan. Pepohonan di kiri foto adalah pembatas jalan di tengah jalan.
manhole cover
Berhenti sebentar memotret manhole cover di pinggir Jl. Bubutan.
Kemudian, sampailah kami di Jl. Bubutan. Konon kabarnya, daerah Bubutan adalah sisa gerbang masuk keraton Surabaya di jaman Majapahit. Sayangnya yang tersisa hingga sekarang, ya hanya sekadar nama. Nah, jalan ini cukup besar dan ramai. Di jalan ini ada dua lajur yang dibatasi dengan pembatas jalan yang hijau. Di sini mulai terasa kota Surabaya sebagai kota yang rindang. Ada banyak pohon.
Kami menyeberang jalan dan melewati deretan pertokoan yang masih tutup dan rumah penduduk. Yang sudah menunjukkan aktivitas barulah Indomaret dan SPBU (Pom Bensin) Pertamina. Di sebelah SPBU Pertamina, kami masuk ke Jl. Temanggungan II. Ini gang kecil yang melewati perumahan penduduk. Daerahnya hijau dengan banyak tanaman di sana-sini. Jalan kaki di gang ini mengingatkan saya pada kampung hijau di daerah Banjarsari, Jakarta Selatan.
Kemudian, tibalah kami di Jl. Baliwerti. Eh, ini juga daerah pertokoan padat penduduk. Tidak salah juga, karena saya berjalan kaki dari dua stasiun kereta api yang sudah dibangun dari jaman Belanda, sudah pasti kami akan melewati pusat-pusat bisnis kota Surabaya. Mau beli kunci rumah, gembok, tegel? Semua ada di sini. Tapi saya cuma lewat sebentar saja, ya. Soalnya kami berdua langsung berbelok menembus sebuah kompleks ruko yang membawa kami ke Jl. Gemblongan.
Jl. Gemblongan sepertinya termasuk jalan utama di Surabaya, mungkin dari jaman dahulu kala. Begitu kami keluar dari kompleks Ruko, kami langsung disambut oleh kantor PLN UP3 Surabaya Utara. Bangunan kantor ini menarik. Walau nampak modern, tetapi lebih terlihat sebagai hasil renovasi dari bangunan tua. Nggak salah juga, karena bangunan ini aslinya sudah ada sejak tahun 1908. Jl. Gemblongan adalah jalan yang cukup besar dan ramai. Walau toko-toko di kiri kanan jalan masih tutup, tapi motor dan mobil sudah ramai berkeliaran di sini.
Kantor PLN di Jl. Gemblongan.
Bangunan tua berwarna putih di persimpangan jalan.
Lorong di gedung Siola. Sayangnya saya lupa memoret keseluruhan gedungnya.
Kami jalan terus sesuai dengan arah kendaraan dan tiba di persimpangan yang membingungkan. Kami harus menyeberang ke sisi satunya, tapi peredaran kendaraan membuat kami harus ekstra hati-hati. Di persimpangan ini saya melihat beberapa bangunan kuno. Wah, saya dan adik saya langsung bersemangat. Ada bangunan tua dengan tembok putih, dan berseberangan dengan itu ada bangunan tua hasil renovasi dengan tembok berwarna merah. Setelah kami berhasil menyeberangi persimpangan tersebut dan mengikuti jalur yang tepat sesuai yang ditunjukkan oleh GoogleMaps, kamipun tiba di gedung yang berwarna merah. Ternyata bangunan yang berwarna merah ini adalah gedung Siola.
Siapa sangka, gedung Siola ini adalah gedung pemerintahan tempat Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap dan juga Museum Surabaya. Gedung ini sudah ada sejak tahun 1877, namun yang sekarang berdiri adalah hasil renovasi total karena sempat dibakar saat perang. Nantinya kami akan jalan-jalan ke sini juga. Tapi sekarang, karena belum jam 8 pagi, kami hanya bisa mengintip-intip isinya melalui kaca. Di luar gedung Siola ini, ada model lokomotif tua, meriam, dan patung pejuang. Ternyata, dengan tibanya kami di gedung Siola ini, kami juga tiba di Jl. Tunjungan yang termahsyur itu. Dari ujung jalan saja kami sudah melihat deretan bangunan-bangunan tua yang sudah berdiri sejak jaman Belanda.
Setelah melewati bagian bawah dari jembatan antar gedung di atas Jl. Tunjungan yang dipenuhi dengan tanaman, kami mendapati jalan yang cukup ramai yang dihiasi dengan bangunan-bangunan kuno. Jalan-jalan di Jl. Tunjungan ini menyenangkan karena trotoarnya bagus. Maksudnya, kita bisa jalan kaki dengan nyaman. Buat yang suka foto-foto bangunan kuno, pasti nggak puas-puas ambil foto di sini. Tepat di seberang Toko Tjantik (yang saya juga kurang tahu jualannya apa), kami berbelok memasuki Jl. Genteng Besar.
Beberapa langkah kami berjalan di sini, barulah kami tahu, Jl. Genteng Besar adalah tempat toko-toko oleh-oleh khas Surabaya. Dari penjual almond crispy, kue lapis Surabaya, sampai bandeng asap ada di sini. Toko-toko oleh-oleh berjajar dan bisa kita pilih sambil berjalan kaki menikmati suasana kota Surabaya. Di jalan ini juga terdapat pasar Genteng Baru yang merupakan pasar tradisional yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok.
Jembatan antar gedung di Jl. Tunjungan yang dipenuhi tanaman.
Salah satu gedung kuno di Jl. Tunjungan.
Tiba di ujung Jl. Kali Genteng, saya menyeberang sungai. (Itu nama sungainya Kali Genteng? Saya cari namanya di peta kok tidak ketemu, ya.) Jalan terus, dan kamipun melewati Balaikota Surabaya. Di depannya, di tepi jalan, ada air mancur di mana anak-anak bermain-main di situ. (Tapi saya tidak memotret anak-anak itu. Belum minta ijin ke orang tuanya, soalnya.) Melewati Balaikota, kami terus berjalan melipir Grand City Mall Surabaya.
Dari Grand City Mall, kami berjalan lewat di bawah ujung flyover Jl. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo yang mana di sisi bawah jalannya ada tulisannya Anno 1915. Usut punya usut, ternyata ini termasuk bagian asli dari flyover (dulunya disebut viaduk atau jalan layang) Jl. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo yang lewat di atas rel kereta api di dekat stasiun Gubeng. Jalan layangnya sih kelihatannya modern, tapi ternyata sudah ada sejak tahun 1915. (Jalan layangnya ada dua, masing-masing satu arah ya. Yang jalan layang jaman Belanda yang lebih pendek.) Ternyata warga Surabaya menyebut flyover ini viaduk Gubeng.
Melewati bagian bawah viaduk Gubeng, kami melanjutkan perjalanan sampai menemukan persimpangan, dan belok kiri masuk ke Jl. Surabaya Gubeng. Tak perlu terlalu lama mencari, kami tiba di stasiun Gubeng. Karena posisinya agak susah, waktunya terbatas, dan baterai hape sekarat, saya tidak sempat mencari sudut yang bagus untuk memotret gedung stasiun kuno ini.
Tadinya saya sempat heran. Stasun Gubeng disebut-sebut sebagai stasiun kereta api terbesar di Jawa Timur, namun kenapa gedungnya sempit sekali. Cuma ada satu cafe dan satu counter kecil warabala CFC. Walau memanjang, tapi tetap saja tidak dapat dikatakan besar. Pertanyaan saya terjawab sudah ketika ibu saya yang sudah turun dari kereta menelepon dan menginformasikan bahwa dia sudah keluar stasiun. Lha? Kok kami tidak melihatnya? Ternyata ... ibu saya keluar di stasiun Gubeng Baru, yang letaknya di seberang rel.
Taman di pinggir jalan depan Balai Kota dengan air mancurnya.
Bagian dari viaduk Gubeng yang sudah ada sejak tahun 1915.
Bagian depan stasiun Gubeng Lama. Bangunannya kelihatan model kuno.
Jadi stasiun Gubeng punya dua pintu keluar, di timur rel dan di barat rel. Gedung barunya ada di timur rel, sedangkan gedung peninggalan Belanda ada di barat rel. Total jendral ukuran stasiun Gubeng, sudah pasti luas banget. Bagian depan stasiun tentu saja bangunan baru. Jadi otomatis penumpang diarahkan untuk keluar di gedung stasiun baru. Paniklah kami, anak-anaknya, yang berada di stasiun lama. Soalnya kalau harus jalan kaki ke gedung stasiun baru, harus memutar jauh dan butuh waktu lama. Untung ibu saya diperbolehkan petugas untuk masuk lagi dan menemui kami di gedung stasiun lama. Drama salah memahami peta GoogleMaps ini berakhir dengan baik.
Saya mulai jalan kaki meninggalkan area stasiun Pasar Turi jam 7:25 pagi dan tiba di stasiun lama Surabaya Gubeng jam 8:40. Jadi total perjalanan kami adalah 1 jam 15 menit. Lama ya? Tapi kan kami berjalan santai dan banyak berhenti foto-foto. Belum lagi, kami cukup berhati-hati untuk, antara lain, menyeberang jalan dan mencari belokan yang benar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kalau sudah terbiasa jalan di sini.
Menurut saya, jalan kaki dari stasiun Pasar Turi ke stasiun Gubeng termasuk wisata kota yang menyenangkan. Selain bisa melihat bangunan cantik dan bangunan modern kota Surabaya, saya juga berkesempatan untuk mempelajari beberapa potong sejarah kota Surabaya. Paling tidak saya mendapatkan pengalaman berbeda dari kunjungan saya ke Surabaya sebelumnya. Ada yang mau mencoba wisata alternatif di Surabaya, jalan kaki dari stasiun Pasar Turi ke stasiun Gubeng juga?
Inilah bagian depan gedung baru stasiun Surabaya Gubeng. Biasa disebut stasiun Gubeng Baru.

Referensi:

10 Komentar:

  1. Seru juga ya ternyata menyusuri jalanan kota Surabaya :D 45 menit yang bermanfaat karena jadi tau banyak hal yang mungkin nggak diketahui sebelumnya~ by the way, seumur-umur saya baru 1x ke stasiun Gubeng, jadi penasaran sekarang bentukan dalamnya seperti apa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas sekarang pasti lebih banyak yang jual makanan. Hahaha...

      Hapus
  2. Jd berasa seru ya karena jalan kaki? bisa dpt pengalaman yg byk kan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Jalan kaki membuat lebih sadar dengan bangunan dan orang-orang yang dilewati.

      Hapus
  3. Enaknya jalan kaki ya itu mbak. Bisa eskplor2 tempat2 yang keren selama perjalanan. Kalau naik mobil kan gabisa. Hehe

    BalasHapus
  4. Ya ampun ternyata seru juga ya kak jalan-jalan tengah Kota Surabaya gt. Aku pun prrnah coba dr TP menuju Delta, tapi hitunganya itu masih deket sih 😂😂👌 dan malem juga karena kalo siang panas banget. Ini keren banget bisa jalan jalan pas siang hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau malem nggak terlalu kelihatan bentuk gedungnya ya. Tapi lampu-lampunya cantik dong ya.

      Hapus
  5. Itu angka '1' dari anno 1915 unik juga ya, di bagian bawah mlintir ke kanan, jadi seperti huruf 'L'.

    Ngomong-ngomong, akur sekali, dengan banyak jalan kaki menembus area yang bukan daerah wisata, kultur lokal jadi lebih mudah kita rasakan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya? Baru nyadar ama bentuk angka 1-nya. Yang jelas, kalau jalan kaki, lebih mudah mampir untuk jajan. Hahaha...

      Hapus