31 Desember 2019


Suatu hari, seorang bapak-bapak di kantor bercerita bahwa alasan dia diangkat menjadi pegawai tetap di awal tahun 80-an adalah karena dia memiliki sertifikat sebagai operator mesin foto kopi. Bukan sebagai teknisi, ya; melainkan sebagai operator. Saya lalu bertanya-tanya dalam hati, apa fungsi sertifikat itu, karena semua orang seharusnya bisa menggunakan mesin foto kopi tanpa perlu pelatihan khusus. Mungkin mesin foto kopi di masa itu sangat rumit?
Seorang rekan kantor saya pernah mengeluh, anak perempuannya lebih suka main game daripada belajar. Rekan ini khawatir anaknya akan sulit mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Seorang teman yang lain berkomentar, "Ah, itu sama seperti teman kuliah saya. Hobinya main game. Dia mulai dari kerja sebagai beta tester. Sekarang dia QA di sebuah perusahaan game developer. Ada banyak kesempatan kerja, kok." Tentunya pernyataan ini tidak membuat si ayah tenang: dia tidak tahu pekerjaan macam apa beta tester itu.
Dunia terus berubah. Tapi kesempatan kerja dan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja berubah jauh lebih cepat. Apalagi di era disrupsi ini, dimana pemerintah dan swasta jungkir balik menghadapi revolusi industri 4.0. Keterampilan yang sekarang dibutuhkan, 10 tahun yang lalu tidak dikenal orang, dan mungkin 10 tahun lagi tidak berguna. Tenaga kerja yang dianggap ahli saat ini, 20 tahun lagi mungkin keahliannya sudah tergantikan. Keunggulan itu bukan sekedar menjadi terampil dan ahli, melainkan juga terus-menerus mempelajari keterampilan baru. Kuncinya adalah terus-menerus belajar.
Belajar bukan hanya untuk anak-anak. Di masa di mana keterampilan yang dibutuhkan berubah dengan cepat, para pekerja juga perlu selalu belajar. Beberapa waktu yang lalu, seorang senior manajer di kantor mengeluhkan bahwa karyawan yang usianya di atas 45 tahun sudah susah mempelajari sistem baru. Padahal setiap tahun selalu ada pembaharuan, baik sistem IT, prosedur, ataupun perlengkapan yang digunakan. Saya jadinya bertanya-tanya, apakah akan tiba masanya saya dikatakan susah belajar?
Di jaman di mana usia harapan hidup semakin tinggi, sungguh sia-sia jika masa produktivitas orang dianggap sesaat, hanya karena di usia tertentu mereka dianggap tidak dapat beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja yang baru. Oleh sebab itu, sangat penting bagi semua orang untuk mengembangkan budaya belajar sepanjang hayat, atau lifelong learning.
Belajar sepanjang hayat adalah sebuah kebiasaan. Belajar di sini artinya mempelajari hal baru secara umum, bukan hanya melanjutkan kuliah atau kursus. Belajar tidak hanya berarti membaca jurnal ilmiah terbitan MIT Press atau karya pemenang Nobel tahun ini. Belajar juga bisa berarti membaca artikel tentang penemuan terbaru di bidangnya atau mencari tahu ketentuan pemerintah terbaru di bidangnya. Membaca buku atau menonton video tutorial juga termasuk belajar. Yang jadi pertanyaan adalah: Sejauh mana kita mau terus-menerus mempelajari hal baru, terutama yang terkait dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja?
Peningkatan kualitas diri dengan cara belajar adalah hak sekaligus kewajiban semua individu. Hak artinya hal ini harus difasilitasi oleh Pemerintah, institusi pendidikan, dan perusahaan (swasta maupun BUMN) tempat tenaga produktif Indonesia menghabiskan waktunya. Kewajiban artinya orang tidak bisa pasif atau malas-malasan. Kewajiban juga berarti bahwa hal ini bisa dipaksakan.
Fasilitas pembelajaran perlu disediakan. Saya tahu pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki balai pelatihan masing-masing. Akan tetapi, apakah pelatihan tersebut sesuai dengan kebutuhan kerja saat ini? Misalnya, saat ini kebutuhan tukang reparasi motor untuk mendukung kerja ojol meningkat, demikian juga kebutuhan tenaga admin medsos untuk toko-toko online.
Institusi swasta dan BUMN juga harus turut menyediakan pelatihan bagi pekerjanya. Untuk beberapa kategori industri, pemberian pelatihan adalah kewajiban yang diawasi secara rutin oleh otoritas pemerintah yang mengawasi. Mungkin perlu ada pengawasan khusus agar setiap pekerja mendapatkan pelatihan secara berkala. Organisasi seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) juga dapat membantu melakukan pengawasan dan pembinaan untuk membantu perusahaan mengelola pelatihan pagi pekerjanya. Kadin Indonesia dapat menjadi salah satu advokat pengembangan pelatihan bagi tenaga kerja di Indonesia.
Di sisi lain, keikutsertaan dalam pelatihan juga harus disadari oleh seluruh pekerja sebagai bagian tugasnya kepada perusahaan dan masyarakat umum. Masih banyak orang yang mengharapkan pelatihan sebagai kedok untuk wisata atau bersantai. Untuk itu, perlu ada kewajiban untuk sertifikasi dan mengikuti pelatihan resmi bagi pekerja. Dengan demikian pelatihan harus diikuti dengan sungguh-sungguh karena ilmu yang didapat akan diuji dan divalidasi. Tentunya sertifikat memiliki masa berlaku, agar pemegang sertifikat selalu memperbaharui keterampilannya secara berkala.
Tapi yang lebih penting dari itu semua, seluruh warga Indonesia perlu menyadari bahwa belajar sepanjang hayat itu penting. Bukan karena untuk kepentingan perusahaan dan negara semata, melainkan juga untuk masa depan kita sendiri; karena keterampilan yang harus kita kuasai di masa depan mungkin berbeda jauh dengan yang sudah kita pelajari sekarang.
Pekerja-pekerja yang sudah lama bekerja akan harus mengakui kekurangan mereka ketika karirnya tidak berkembang karena posisi kepemimpinan diberikan kepada orang-orang yang jauh lebih muda karena mereka lebih memahami teknologi di masa itu. Tenaga kerja yang gagal mengikuti perkembangan kebutuhan di lapangan kerja mungkin harus menerima ketika posisinya diambil alih oleh tenaga ahli dari negara lain. Kekurangan tenaga lokal yang ahli bisa menjadi salah satu kesulitan penanam modal untuk mengembangkan industri di negara kita ini. Apakah kita rela ketika posisi kunci pengendali teknologi yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan kita dikelola oleh orang asing?
Oleh sebab itu, sudah waktunya semua orang menyadari pentingnya pembelajaran sepanjang hayat. Terus-menerus belajar, agar kita tetap selalu produktif sampai di usia yang lebih tua lagi. Dan untuk selanjutnya, budaya selalu belajar ini diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya.
Jadi, mau belajar apa hari ini?

14 Komentar:

  1. Saya setuju soal ini, sebisa mungkin kita harus terus belajar dan keep update biar nggak ketinggalan jaman. Bukan karena apa-apa, tapi saya merasa dengan kita update pada perkembangan jaman, kita juga bisa memantau generasi penerus kita kelak :D

    Saya pribadi suka sekali belajar sesuatu hal yang baru, dan dari blogwalking, saya juga senang dapat banyak ilmu baru~ termasuk dari blog mba ini hihi karena selalu ada informasi baru yang beberapa nggak saya tau jadi saya tau setelah membacanya sampai akhir :D

    Semangat terus untuk kita belajar ya mba, semoga kita bisa terus diberikan kemudahan dalam mendapatkan ilmu-ilmu yang sesuai jaman hingga akhir hayat. Keep sharing as usual mba, and keep inspiring :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Kak! Menurut saya blogwalking juga merupakan salah satu cara belajar.

      Hapus
  2. Masih banyak banget yang ingin saya pelajari, saya juga berkeinginan agar orang-orang disekitar saya nantinya juga bisa ikut merasakan ilmu yang sudah saya pelajari

    BalasHapus
  3. Kadang yang agak susah itu mempelajari teknologi yang cepat berkembang. Apalagi teknologi hape, perkembangan terlalu cepat menurutku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak cuma hape. Laptop perkembangannya juga pesat. Kalau ini, belajarnya harus pakai modal ...

      Hapus
  4. sebenarnya apapun yg rumit jika kita memiliki niat utk belajar pasti akan menjadi mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sih Pak. Kalau berusaha, pasti ada jalannya.

      Hapus
  5. belajar memang nggak sebatas berakhir setelah skripsi sih kalo menurut saya, kita tetap harus mengasah otak tanpa batasan waktu, berusaha untuk terus mengupgrade diri menjadi lebih baik lagi.

    BalasHapus
  6. Saya ngalamin juga nih mba. Anak2 lebih asik dengan gawainya. duh nyesel beliin hape buat mereka. Sekarang sekolahnya duh sedih saya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha tapi kalau nggak ada gawai, mereka tidak akan terbiasa dengan teknologi. Perkembangan teknologi sekarang cepat banget, lho. Susah juga ya, Pak.

      Hapus