30 Januari 2016

Perjalanan dari Kupang ke Soe (dan sebaliknya) memang membukakan mata saya terhadap kondisi alam Pulau Timor yang unik dan indah. Kontur tanah, pola vegetasi, dan juga budayanya menarik bagi saya karena memang ini adalah pertama kalinya saya melihat suasana di Pulau Timor. Berikut adalah beberapa hal menarik (untuk saya) yang saya jumpai selama perjalanan wisata saya di akhir tahun lalu dalam foto:


Tanah Pulau Timor menurut saya gersang. Warna tanahnya tidak coklat tua namun coklat muda. Di beberapa tempat malahan agak abu-abu, karena merupakan tanah kapur. Foto ini diambil di salah satu kelok di dalam perjalanan dari Kupang menuju Soe. Bahkan di atas bukit pun batunya berupa batu karang. Kalau ingin membayangkan ukuran karang ini, coba perhatikan pengendara motor yang ada di ujung jalan.


Pulau Kupang termasuk pulau yang mudah mengalami kekeringan. Karena musim kemarau di tahun 2015 cukup panjang, banyak sungai yang kering. Foto ini diambil saat saya berangkat ke Soe di tanggal 25 Desember 2015. Tapi jangan salah, selama saya menginap di Soe, beberapa kali hujan lebat mengguyur daerah Soe (dan juga daerah Kupang), sehingga waktu saya kembali ke Soe di tanggal 26 Desember 2015, volume air di sungai ini sudah jauh lebih banyak.


Tentunya tidak semua tempat mengalami kekeringan. Petak-petak sawah subur juga saya lewati di dalam perjalanan ke Soe. Yang menarik dari sawah di sini adalah pohon-pohon lontar yang tumbuh di pematang sawah. Kalau di Pulau Jawa, adanya pohon kelapa atau pohon turi.


Yang saya foto ini adalah terminal akhir untuk kendaraan umum tujuan Kolbano. Mobil yang terlihat di dalam gambar adalah angkot yang bersiap untuk berangkat.


Ini adalah rumah tradisional di Pulau Timor.Dindingnya bambu dan atapnya daun lontar kering atau gabah padi. Kenapa fotonya tidak fokus? Ini karena fotonya diambil dari mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Karena rumah-rumah ini terletak di tepi jalan dan bukan di dalam desa adat/desa wisata, kayaknya kurang sopan kalau kita menghentikan mobil terus foto-foto.


Rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Kemungkinan mereka menemukan tempat yang lebih mampu memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Ini bukan satu-satunya "reruntuhan" kompleks rumah yang saya temui. Di sepanjang jalan menuju Pantai Kolbano saya beberapa kali melihat sisa-sisa rumah seperti ini. Menurut salah satu teman saya, beberapa penduduk Pulau Timor akan berpindah jika merasa tempat tinggalnya sekarang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya.


Sapi! Ternyata ada yang beternak sapi dalam jumlah banyak di sini!


Salah satu hal yang mengagumkan bagi saya adalah pohon yang berbatang putih seperti yang ada di foto ini. Di perjalanan menuju Desa Fatumnasi saya banyak menemui pohon berbatang putih ini. Katanya sih ini pohon kayu putih. Saking penasarannya, saya sempat minta sopir mobil berhenti untuk bisa meraba kulit batang pohon berwarna putih ini. Kulitnya halus dan kadang-kadang mengelupas, tidak kasar seperti kebanyakan pohon.


Penjual buah di luar Kota Soe. Selain alpukat, manga, dan ubi, para penjual juga menjual bahan-bahan untuk menyirih (di bagian depan). Memang masih banyak warga di daerah Soe yang menyirih.


Ini adalah penjual sei babi. Sei adalah tehnik mengawetkan daging dengan cara diasap. Babi adalah salah satu binatang peliharaan yang umum dijumpai di Nusa Tenggara. Selain sei babi, ada juga sei sapi. Foto ini diambil di Depot Surya, Jl. Soeharto, Kupang. Depot ini memang menjual sei babi dan sate babi.


Hahaha! Ini adalah anak babi yang berkeliaran di Taman Wisata Camplong. Dia tadinya ketakutan karena saya kejar-kejar akan saya foto. Setelah tenang, diapun asik mencari makan di tanah. Di sana, babi berkeliaran sama seperti kambing. Tentunya dengan resiko diambil orang untuk dimakan atau dijual lagi.

Yah, itu semua kenang-kenangan perjalanan saya ke Kupang dan Soe, di Pulau Timor. Semoga, ada rejeki lagi jadi bisa jalan-jalan ke tempat lain yang manarik.

***

0 Komentar:

Posting Komentar