1 September 2018

Bagian inti dari candi Banteay Srei.

Sekitar 35 kilometer dari kota Siem Reap, berdiri salah satu candi terindah di Kamboja. Banteay Srei, yang arti harafiahnya adalah kota para wanita, adalah candi dengan ukiran-ukiran rumit yang masih terjaga hingga saat ini. Jaraknya cukup jauh, sehingga tour lokal ke candi ini jarang digabung dengan candi-candi lainnya. (Kalau mau digabung, ya berarti nego harga.)
Menurut papan petunjuk di depan kompleks candi, nama asli candi ini sebenarnya adalah Isvarapura atau Kota Dewa Siwa, namun nama ini memang sudah tidak dikenal oleh penduduk sekitar lagi. Menurut resepsionis hotel tempat saya menginap, nama Banteay Srei diterakan oleh penduduk lokal karena di situ ada banyak perempuan. Maksudnya adalah, di sana ada banyak patung-patung apsara atau bidadari penari (yang mana memang umum ada di candi-candi di Kamboja). Sedangkan menurut pengemudi tuktuk, candi ini disebut Banteay Srei karena ukirannya sangat halus sehingga sepertinya hanya perempuan yang bisa mengukirnya.
Perjalanan menuju Banteay Srei dari hotel dengan tuktuk ditempuh dalam waktu satu jam. Lumayan juga. Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan ladang, sawah, dan desa setempat. Desa di Kamboja, dari segi penampakan, tidak beda jauh dengan desa di Jawa atau Sumatera. Di mana-mana rumah penduduk dengan pepohonan dan sawah yang luas. Banyak pohon Lontar (atau juga disebut Siwalan) di halaman penduduk. Pasar juga sama dengan pasar tradisional di Indonesia, dimana pedagangnya sampai ke pinggir jalan dan mengantung kaos-kaos di kiosnya.
Salah satu potret pedesaan di sekitar Siem Reap.
Banteay Srei adalah satu-satunya candi utama yang tidak dibangun oleh raja. Candi ini dibangun oleh seorang pejabat istana yang juga merupakan seorang dermawan. Candi ini tidak besar, namun ukiran-ukirannya tidak kalah dengan candi kerajaan seperti Angkor Wat atau Bayon. Padahal usianya lebih tua. Banteay Srei dibangun di pertengahan abad ke-10 sedangkan Angkor Wat dan Bayon baru dibangun di abad ke-12. Karena candi ini bukan didirikan oleh raja, tujuannya bukan sekedar politik melainkan juga ke arah pelayanan. Candi ini adalah tempat pemujaan dan juga memberikan tempat peristirahatan kepada para peziarah dan kaum musafir.
Batu pasir yang berwarna merah, bahan baku candi, memang mudah diukir. Tak heran candi ini memiliki puluhan ukiran dewa dan bidadari. Candi dikelilingi dengan parit yang ditumbuhi oleh bunga teratai dan tembok dengan bahan dasar batu pasir merah. Bagian utama candi tidak terlalu besar, sehingga para pengunjung harus antre untuk masuk dan berputar mengelilingi bagian inti tersebut.
Bagian inti kompleks candi adalah sekelompok candi pemujaan yang temboknya dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang sangat detil. Kompleks utama candi tidak dapat dilihat dari dekat, karena ada pembatasnya. Jadi pengunjung cuma bisa berjalan mengitarinya. Menurut Wikipedia, ukiran-ukiran yang cantik itu menceritakan kisah-kisah klasik seperti perseteruan Dewa Siwa dan Rahwana atau penyerangan Dewa Agni terhadap Naga Taksaka. Sayangnya saya tidak dapat melihatnya dari dekat.
Bangunan utama, tempat pemujaan lingga yang merupakan representasi dari Dewa Siwa.
Detil ukiran di Banteay Srei.
Atap salah satu bangunan inti.
Keluar dari kompleks Candi Banteay Srei, para pengunjung disambut oleh pemusik tradisional yang merupakan korban perang Khmer Merah. Tidak cuma di sini, di beberapa candi memang ada kelompok pemusik tradisional korban Khmer Merah yang memainkan lagu instrumental tradisional. Untuk yang berminat berderma, bisa menyumbangkan uang dengan mata uang USD ataupun lokal.
Di sekeliling Banteay Srey, terdapat hutan kecil yang menyegarkan. Saya dan rombongan berjalan melewati hutan saat berjalan kembali ke parkiran (tempat tuktuk menanti). Tidak cuma hutan, kami juga melewati rawa-rawa yang ditumbuhi bunga teratai dan sawah ladang. Oh ya, melihat pemandangan di Siem Reap memang memberikan kesan yang berbeda dibandingkan dengan jalan-jalan di Pulau Jawa: di sini tidak ada barisan gunung-gunung di cakrawala.
Menurut papan petunjuk, di dekat kompleks candi terdapat proyek komunitas pariwisata yang menyediakan tempat makan dan perahu untuk mengaruhi sungai di belakang candi. Namun karena keterbatasan waktu, kami tidak ke tempat itu. Kami memilih jalan-jalan santai dan melihat-lihat papan-papan penjelasan mengenai proyek renovasi candi Banteay Srei.
Hutan di sekitar candi.
Membaca papan-papan penjelasan yang banyak itu membuat saya menghargai orang-orang yang terlibat dalam proyek konservasi candi-candi di mana-mana, termasuk di Indonesia. Proyek restorasi tidak hanya menghabiskan dana untuk pemugaran, namun juga untuk penelitian komposisi tanah, penelitian isi prasasti dan sejarah, pengembangan teknologi infrastuktur terkait, dan sosialisasi untuk masyarakat sekitar. Para teknisi dan insinyur yang terlibat di dalam proyek perbaikan Banteay Srei banyak belajar dari kesuksesan restorasi Candi Prambanan di Yogyakarta, Indonesia, yang sama-sama pembangunannya dipersembahkan untuk Dewa Siwa.
Dari candi Banteay Srei, kami mampir makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke candi-candi lainnya.

26 Komentar:

  1. Belum pernah datang langsung, jadi pengen lihat langsung..

    BalasHapus
  2. Sejarah unik kak, penamaanya gegara banyak patung perempuan jadi di anggap sebagai kota wanita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... itu bukti bahwa penduduk sekitar masa sesudahnya sudah tidak mengenali lagi sejarah bangunan ini. Barang fana, cepat dilupakan oleh manusia.

      Hapus
  3. Pemandangan di Siem Reap ngga ada pemandangan barisan gunung, kak ?.
    Lalu kayak gimana ya pemandangannya ?
    Wah jadi penasaran nih kak, maklum aku belum pernah ke sana 😊

    Kalau di pulau Jawa, candi-candi bercorak Hindu didirikan di kaki gunung.
    Mereka mempercayai semakin tinggi lokasi candi semakin sakral.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha ... ya datar saja. Kebayang nggak, kemana mata memandang, semuanya datar? Giliran ada "gunung" di dekat Banteay Srei, ternyata kalau menurut ukuran kita yang di Indonesia termasuk kerdil karena tingginya 487 meter. Gunung Merapi yang saya lihat tiap hari waktu masih kecil di Solo kan tingginya 2930 meter.

      Hapus
    2. Unik juga ya ngelihat candi-candi adanya di dataran rata ...
      Bisa jadi, gunung imut di dekat Banteay Srei itu mirip 'gunung' Tidar di tengah kota Magelang ya ..

      Hapus
    3. Iyaa... kalau di Indonesia, bukit ada ribuan. Jadi nggak terlalu banyak diceritakan .

      Hapus
  4. Eh eh, kok keren bener itu.. wajib jadi next destination kalo liburan! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banteay Srei memang keren. Nggak rugi datang ke sana, meski lumayan jauh dari Siem Reap kotanya.

      Hapus
  5. kenapa tipikal candi2 di Kamboja reliefnya rumit dan detail ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Candi ini memang dibuat dengan batu yang lebih mudah diukir. Kalau candi yang dibuat dari batu yang keras, ya ukirannya tidak bisa sedetil itu juga.

      Hapus
  6. Detail candinya masih sangat terjaga dengan baik ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... kebanyakan candi di Kamboja lebih terjaga daripada di Indonesia. Mungkin juga karena di Kamboja lebih jarang bencana alam, ya.

      Hapus
  7. Jadi pengen kesana langsung deh, keren tempatnya.
    Yang aku pengen lihat langsung ya itu bagian dari candinya..
    Sementara lihat dari sini dulu, siapa tahu suatu saat bisa kesana :)

    BalasHapus
  8. Aku memang punya rencana balik lg ke kamboja. Sbnrnya krn pgn nunjukin ke anak2 peristiwa pembantaian yg di pnom penh. Tp baca ini, sepertinya bakal aku extend ke siam rep juga. Toh pas kesana dulu, aku cuma sempet jalan2 ke danau tonle doang mba :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Mengunjungi candi di Siem Reap nggak rugi kok. Memang sepertinya tiket masuk kompleksnya mahal (karena tiket masuk semua candi di Siem Reap hitungannya tiket terusan), tapi kalau bisa mengunjungi banyak candi, boleh lah.

      Hapus
  9. Menarik banget ukirannya, masukin ke wish list ah, siapa tau bisa sampe disana nanti

    BalasHapus
  10. Foto kedua tu hampir sama ya kayak di Indonesia, cuman candinya yang beda dari candi peninggalan Mataram di Jawa..

    Malah kayak mengandung unsur Bali juga hlo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya, selama masih di Asia Tenggara, bentuk kampungnya sama saja. Orangnya juga mirip-mirip.

      Mirip Bali? Mungkin karena pengaruh Hindu kuno, ya?

      Hapus
  11. takjub sama reliefnya, kecil-kecil, rumit, dan masih terlihat utuh. Kalau beberapa candi di Indonesia, saya lihat besar-besar dan ada yang cuil alias hilang. Hehehe.
    Semoga lain kali bisa sampai ke Kamboja, Aamiin.

    BalasHapus
  12. wahh sampai Banteay Srei ya mba, aku pengen tapi kurang waktunya. Bisikin dong mba harga tuk-tuk kalo ke sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami ambil paket tour Banteay Srei + Big Tour (jadi tur Banteay Srei, dan tambahan 4-5 candi lagi di dekat Angkor Wat seharian) yang harga paketnya USD 30. Kalau cuma ke Banteay Srei, USD 25. Rugi kan ... Kalau ambil tuk-tuk di pinggir jalan, pasti tuk-tuknya akan menawarkan paket tur juga, karena kalau sudah ke Banteay Srei, mereka nggak mungkin narik penumpang dari sana.

      Hapus