12 September 2018


Masih ingat artikel sebelumnya tentang kunjungan saya ke candi Preah Khan di Siem Reap, Kamboja? Di seberang candi Preah Khan, terdapat sebuah waduk berbentuk persegi panjang, yang di tengahnya terdapat sebuah pulau buatan. Waduk ini dikenal dengan nama Waduk Jayatataka. Sekarang waduk itu tidak terisi penuh, sehingga lebih terlihat seperti rawa-rawa. Bukan karena saat ini sudah tidak dipakai, melainkan karena kami memang datang di musim panas yang kering. Di tengah waduk Jayatataka terdapat sebuah pulau buatan, yang di atasnya terdapat sebuah candi yang dikenal dengan nama Neak Pean. Setelah puas melihat-lihat candi Preah Khan, kami kemudian menuju ke candi Neak Pean.
Waduk kuno Jayatataka yang saat kami kunjungi terlihat dangkal.
Candi Neak Pean terletak di sebuah pulau buatan. Di jaman dulunya, tidak ada akses jalan kaki ke sini. Harus naik perahu. Namun di masa kini, untuk membantu turis dan para ilmuwan, dibuatkan sebuah bendungan tanah yang bisa dipakai untuk berjalan kaki ke tengah danau. Di atas bendungan, dibuatkan jembatan kayu supaya di musim hujan para pengunjung tidak perlu bergulat dengan lumpur. Tour guide kami mengatakan, kalau musim hujan, akses ke candi ini lebih sulit dilalui.
Candi Neak Pean adalah sebuah kolam bujur sangkar, dengan empat kolam kecil di masing-masing sisinya. Di tengah kolam utama, terdapat sebuah bangunan kecil yang menyerupai tempat pemujaan. Di bagian bawah bangunan, tepat di atas permukaan air, terdapat ukiran yang sepertinya masih dihormati oleh penduduk setempat. Ukiran yang saya tidak bisa lihat dengan jelas itu, masih mendapatkan sesembahan bunga dan kain. Namun di musim hujan, ukiran itu pasti tenggelam dengan naiknya air kolam.
Tidak banyak yang bisa dilihat di Neak Pean. Sebagian turis, hanya foto-foto sebentar lalu pergi. Padahal, di masa pemerintahan Raja Jayavarman VII, orang antre kemari. Tempat ini dulunya adalah pemandian yang dimaksudkan sebagai tempat penyembuhan penyakit. Di jaman dahulu, ritual mandi secara berurutan di kolam-kolam ini dipercaya menyeimbangkan elemen-elemen tubuh, dan membantu menyehatkan dari penyakit. Jaman sekarang, kebanyakan turis yang datang kemari justru merasa tertipu karena hanya mendapati sebuah kolam dangkal dengan candi kecil yang tidak bisa didekati.
Jembatan kayu menuju candi Neak Pean.
Dulunya orang kemari untuk menyembuhkan diri dari penyakit.
Kami lalu kembali naik tuk-tuk, memutari waduk Jayatataka. Di ujung yang berlawanan dengan candi Preah Khan, terdapat sebuah candi kecil, yaitu candi Ta Som. Candi ini dibangun di masa yang hampir sama dengan Neak Pean dan Preah Khan. Candi Ta Som dipersembahkan kepada ayahanda dari Raja Jayavarman VII.
Candi Ta Som kecil, dengan halaman yang juga kecil. Baru keluar dari pintu belakang candi, kami sudah melihat tembok pagar belakang. Di kompleks candi-candi lain, pagar batu tidak terlihat karena ditutupi banyak pohon. Fungsi bangunan ini juga sampai sekarang tidak diketahui. Kecurigaan saya, bangunan ini hanyalah tempat tinggal kerajaan, bukan pusat kebudayaan, apalagi pemerintahan.
Candi Ta Som, mungkin karena tidak terlalu terkenal, relatif sepi. Waktu kami kemari, sepertinya hanya ada sepasang turis asing yang juga ada di sini. Buat yang ingin bersantai atau foto-foto dengan latar belakang ukiran sepuasnya, tempat ini bolehlah dicoba.
Bagian depan candi Ta Som.
Bagian belakang candi Ta Som.
Sebetulnya, kalau memang berminat mempelajari sejarah peninggalan Raja Jayavarman VII, baik candi Preah Khan, Neak Pean, dan Ta Som layak dikunjungi. Tapi kalau waktunya hanya singkat, dan hanya cukup melihat candi-candi utama, candi Preah Khan masih bisa dimasukkan ke dalam daftar kunjungan.
Selain candi-candi yang sudah saya ceritakan, masih ada dua candi lain yang saya kunjungi. Mungkin ada yang heran, kok dari kemarin-kemarin ceritanya tentang candi terus? Apa nggak bosan melihat tumpukan batu. Wahaha ... saya nggak pernah bosan melihat candi. Bukan apa-apa, lahir besar di Jawa Tengah, keluarga saya sering plesiran ke candi-candi. Tidak hanya candi Borobudur dan Prambanan yang terkenal, namun juga candi-candi kecil yang baru separuh dipugar dan reruntuhan yang namanya saja belum diketahui.
Tapi tenang, Siem Reap dan Kerajaan Kamboja isinya tidak hanya candi. Setelah saya menceritakan seluruh candi yang saya kunjungi, saya akan memperkenalkan pembaca dengan obyek wisata lain di dekat Siem Reap yang tak kalah menariknya. Tapi sebelum itu, selanjutnya saya akan menceritakan dua candi lagi yang sempat saya kunjungi Sabar ya ...

8 Komentar:

  1. Kalau ada sesuatu, seperti air yg konon berkasiat menyembuhkan, biasanya tempat itu akan di datangi banyak orang.

    Saya suka liat foto candi yg ditumbuhi pohon, tapi kalo mau masuk kayaknya serem ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Percayalah, setiap kali masuk ke candi yang sebagian sudah runtuh, atau ada pohon-pohonnya, saya selalu khawatir kalau-kalau atapnya roboh. Untungnya sih, saya baik-baik saja sampai pulang ke Indonesia.

      Hapus
  2. Bagian belakang candinya epic banget, ada pohon besar yang menghiasi lubang pintunya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu metode perawatan candi yang dijalankan di Kamboja adalah membiarkannya sebagai reruntuhan atas dasar estetika. Nah, yang pohon-pohonnya masih ada, biasanya merupakan candi yang dianggap cantik atau eksotis karena ada pohonnya. Kalau di Indonesia, semua pohon dibersihkan dan batunya ditata ulang lagi.

      Hapus
  3. Saat membaca nama candinya saya Kok nyangkanya di Vietnam, Laos dan Kamboja.

    Tulisan ini menarik dan memiliki bobot karena wisata dan warisan budayanya. Hanya mungkin lokasinya bagi orang jauh seperti sy cukup Penting. Karena nama nama itu cukup asing ditelinga sy. .

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya. Ini memang candi di Kamboja. Gara-gara sebetulnya artikel ini masih satu seri dengan artikel sebelumnya, jadi saya nggak tulis lagi kalau ini di Kamboja. Sudah saya tambahkan di atas sendiri, Pak.

      Hapus
  4. Bagian belakang candi Ta Som unik ya? Ada pohon yang akarnya terlihat serem gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... dan lewat di bawahnya juga sambil berharap semoga nggak ada batu yang roboh.

      Hapus