8 September 2018


Di sekitar abad ke-12, di daerah yang sekarang dikenal sebagai negara Kamboja, Raja Jayavarman VII membangun kuil sekaligus pusat kebudayaan dan pendidikan yang didedikasikan kepada ayahnya. Saat ini candi tersebut disebut dengan nama Preah Khan. Candi ini tidak bertingkat namun areanya cukup luas. Menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi tersebut, candi ini dulunya berfungsi sebagai tempat persembahan, salah satu pusat kegiatan pemerintahan, dan juga tempat belajar agama Budha.
Salah satu bagian dari candi Preah Khan.
Berdasarkan informasi dari Wikipedia, dituliskan bahwa di bangunan ini dulunya terdapat 97.840 orang pelayan, 1000 penari, dan 1000 guru. Untuk yang merasa aneh kenapa ada penari di sini, perlu diketahui bahwa di jaman dahulu penari memegang peranan penting dalam kegiatan keagamaan, prosesi kerajaan, dan penyebaran budaya.
Candi Preah Khan dikelilingi parit dan benteng. Gerbang masuknya cukup mengagumkan, dimana di kiri-kanan jalan masuk utama terdapat patung naga yang ditarik oleh sosok manusia. Sayangnya, kepala naga dan kepala sosok yang menarik naganya sudah tidak ada lagi. Gambaran naga yang ditarik ini merupakan bagian dari legenda India kuno, dimana para dewa menggunakan naga untuk mengaduk laut guna mendapatkan air keabadian.
Candi Preah Khan adalah salah satu dari beberapa candi yang tidak banyak direstorasi. Candi ini sudah cukup rapuh sehingga sulit untuk diperbaiki lagi. Selain itu, nampaknya memang candi ini terlalu rumit, karena terlalu banyak ruangan. Masuk ke dalam candi ini sama seperti masuk ke dalam labirin. Di setiap langkah, ada pilihan untuk terus, belok kiri, atau belok kanan. Dan jika kita salah memilih jalan, bisa-bisa kita bertemu dengan reruntuhan tembok atau tumpukan batu.
Naga yang ditarik dewa, menjaga jalan masuk ke candi.
Ukiran Garuda.
Candi Preah Khan ini unik. Karena di dalam bangunan intinya terdapat beberapa bangunan candi mini yang mirip dengan tempat pertapaan. Ada juga ruang-ruang yang tertutup dan gelap. Di hampir setiap pertemuan lorong utama, terdapat patung yoni yang sudah rusak. Di tengah bangunan terdapat sebuah stupa. Kadang-kadang ukuran yoni yang di perempatan lorong cukup besar sampai menyulitkan kami untuk berjalan. Ibu saya sampai menggumam, “Apa setiap lewat perempatan harus cuci tangan dan cuci kaki, ya?”
Keunikan lain dari candi Preah Khan adalah, pintu-pintu utama lorong di empat arah mata angin, ketika kita masuk ke dalam, semakin lama semakin membesar. Jadi, kalau kita masuk, tadinya kita merasa pintunya pas di atas kepala, dan semakin masuk ke dalam rasanya kusen pintunya semakin tinggi.
Di bagian yang masih cukup baik dan aman untuk dilalui, atap bangunan juga terbuat dari batu yang ditumpuk. Jadinya daerah yang beratap ini cukup sejuk. Wajar raja-raja jaman dulu lebih suka bangunan dengan tembok dan atap batu karena di siang hari udaranya tetap sejuk dan lembab.
Ini bukan tipuan mata. Pintunya memang semakin lama semakin kecil.
Memandangi hutan kecil di halaman candi.
Oh ya, di sini ada penjaga yang akan menawarkan untuk melihat patung dewi yang masih dipuja. Kalau kita mengikuti dia, biasanya dia akan berharap agar kita memberikan tips. Ya sudah, lah. Anggap saja amal. Walaupun sebenarnya, kalau kita mondar-mandir sendiri, tentunya juga akan menemukan patung-patung yang masih disembah itu. Hanya saja, memang kita harus berani melewati tembok-tembok sempit dan ruangan-ruangan gelap yang ada di ujung-ujung candi.
Buat yang berminat mengunjungi candi Preah Khan, jangan lupa ingat ya, candi ini lumayan luas. Jalan kaki dari pintu utama satu ke pintu lain, walau garis lurus, bisa menghabiskan waktu 5 menit sendiri. Apalagi kadang-kadang melewati ruangan gelap dan tembok yang sepertinya mau runtuh. Rasanya seperti jalan kaki berjam-jam nggak sampai-sampai ke tujuan – padahal pintunya kelihatan di kejauhan.
Sama seperti candi-candi lainnya, tembok candi Preah Khan ini juga dipenuhi dengan ukiran. Hanya saja, banyak patung yang sudah dirusak. Menurut seorang tour guide yang lewat (sambil menjelaskan kepada para turis asing), banyak patung di sini yang dirusak pada waktu raja setelahnya berganti menganut agama lain. Hal yang sama juga terjadi di candi-candi lain di Siam Reap, dimana patung dirusak pengikut agama lain. Penyebabnya bukan karena peperangan antar agama, namun lebih ke arah pamer supremasi kekuasaan raja yang baru. Jadi ujung-ujungnya tetap kepentingan segelintir orang ya, bukan kepentingan agamanya. Soalnya, jaman dulu, kalau raja yang baru menganut agama baru, banyak rakyatnya yang juga ikut agama baru tersebut.
Walau tempatnya sepertinya bisa roboh sewaktu-waktu, tetap saja ada yang memuja di sini.
Salah satu pintu samping candi, denga patung penjaga dan ukiran di atas pintu.
Selanjutnya, saya akan membawa Anda ke candi-candi lain yang letaknya berdekatan dengan candi Preah Khan.

16 Komentar:

  1. Keren sekali deretan pintu candi Preah Khan, kak ...
    Duh bayangin berfoto di antara deretan pintu candi itu pasti oke banget hasilnya.

    Kak Dyah ngga sekalian berfoto di deretan pintu fotogenik itukah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya adanya foto emak dan adik di situ. Ini fotografernya malah nggak foto-foto di situ. Hahaha.

      Hapus
  2. Pengambilan foto candinya keren-keren seperti yang dikatakan mas hima, apalagi ditambah dengan adanya mba dyah dengan pakaian adat setempat ditengah lorong pada gambar pintu tersebut semakin kecil pasti jadi kelihatan tambah oke... mba dyah mirip mas hima suka jalan-jalan tapi ga ngajak-ngajak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... jauh sih. Gimana ngajaknya.

      Hapus
  3. menurut saya mirip sekali ya mba dengan bangunan dan motif ukiran candi yang ada di indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ada beberapa sejarahwan yang menyimpulkan bahwa raja pertama Kerajaan Khmer pernah tinggal di tengah keluarga Syailendra dan turut mempelajari perihal pembangunan candi.

      Hapus
  4. Wah keren ya candi2nya.
    Cuma kalo pergi sendiri kesitu kayaknya agak serem juga, hahah.
    Semoga selalu terawat agak gak usang dimakan waktu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Candi ini memang relatif sepi sih. Bahkan waktu kami datang, nggak ada penjaga tiketnya. Agak-agak khawatir juga sih. Tapi begitu masuk, ternyata ada beberapa turis lain.

      Hapus
  5. Sayang ya banyak bagian candi yg runtuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... mungkin juga karena sempat ada perang di negara ini. Sayang juga ya.

      Hapus
  6. alamak keren bangeeet tempatnya, kebayang bisa dapet foto bagus kalau foto di sini heheehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ngaku tempat ini keren. Sepi, lagi. Jadi kalau mau foto-foto, bisa sepuas hati. Cuma kalau sendiri, agak serem sih.

      Hapus
  7. wahhh orangnya bisa sebanyak itu yaa, orang orang pada zaman dahulu emang luar biasa hebatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah ... orang jaman sekarang juga banyak. Misalnya pas ngumpul buat nonton pertandingan bola.

      Hapus
  8. wahh dulunya ada 1000 penari 1000 guru.. zaman dulu itu orgnya hebat2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur saja, saya malah nggak kebayang ada 1000 penari tinggal di satu tempat. Gimana ngasih makannya, ya?

      Hapus