29 September 2018

Jakarta, dulunya Batavia, adalah salah satu kota yang memegang peranan penting pada masa penjajahan Belanda. Selain menjadi pusat pemerintahan, kota ini juga menjadi pusat perdagangan. Tentu saja, salah satu hal yang membuatnya menjadi penting bagi pemerintah saat itu adalah karena Batavia merupakan kota pelabuhan. Nah, sampai sekarang pun, kota Jakarta tetap merupakan kota pelabuhan yang cukup aktif. Jadi, wajar dong, kalau Jakarta punya museum yang menyimpan kisah dan kenangan yang terkait dengan bahari atau kelautan.
Museum Bahari, di Jakarta Utara.
Museum Bahari, sesuai dengan namanya, menyimpan barang-barang yang terkait dengan kelautan Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Letaknya juga sangat dekat dengan laut, yaitu di daerah Pelabuhan Sunda Kelapa. Belum masuk ke dalam museum saja, kita sudah bisa merasakan angin laut dan mencium bau ikan. Kenapa? Soalnya posisi museum ini memang dekat dengan pasar ikan.
Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Museum Bahari. Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sini, pasca kebakaran museum di sekitar bulan Januari 2018. Yang saya dengar dari berita, beberapa barang simpanan museum habis dilalap si jago merah. Kunjungan saya kali ini sekaligus juga untuk melihat sejauh mana kepulihan Museum Bahari.
Museum Bahari terletak di Jl. Pasar Ikan no. 1, Jakarta Utara. Bangunan yang digunakan sebagai museum ini dulunya adalah gudang pelabuhan. Yang terutama disimpan di sini adalah rempah-rempah. Sejak tahun 1977, bangunan ini menjadi museum. Tapi sebetulnya ada satu area yang agak terpisah dari museum utama, namun masih menjadi bagian dari Museum Bahari. Area yang dimaksud adalah Menara Syahbandar.
Pemandangan dari Menara Syahbandar.
Menara Syahbandar letaknya persis di dekat jalan raya. Kalau turun dari angkot, maka yang langsung terlihat adalah menara ini. Walau sekarang jaraknya lumayan jauh dari garis pantai (sekitar 1 kilometer), dulunya Menara Syahbandar ini terletak persis di tepi pantai. Menara ini dibangun untuk memantau keluar masuknya kapal di pelabuhan, sekaligus menjadi tempat bea cukai. Tentunya bangunan ini dulunya adalah bangunan penting yang dijaga ketat oleh pemerintah Belanda.
Menara Syahbandar sendiri juga menjadi museum, dimana di sini disimpan beberapa perlengkapan yang umum digunakan di kapal. Hal yang paling disukai oleh pengunjung adalah naik ke lantai teratas dan mengamati pemandangan di sekitar museum. Di menara Syahbandar ini juga terdapat prasasti penanda titik 0 kota Batavia. Prasasti kuno yang menunjukkan posisi titik 0 kota Batavia ini ditulis dalam aksara cina.
Oh ya, bangunan menara ini sebenarnya menarik. Konon kabarnya, dari menara ini ada lorong bawah tanah yang bisa membawa kita sampai ke Museum Fatahillah (dulunya Stadhuis) dan Masjid Istiqlal (yang dulunya adalah Benteng Frederik Hendrik). Sayangnya pintu masuk lorong ini sudah ditutup.
Dari Menara Syahbandar, saya berjalan ke gedung utama Museum Bahari. Kelihatan sih, kalau gedung ini dulunya gudang. Bangunannya panjang dan memiliki banyak jendela. Kalau yang disimpan rempah-rempah, sudah pasti harus bagus aerasinya.
Bagian bawah bangunan utama menyimpan contoh bentuk-bentuk kapal dan juga bebagai perlengkapan kegiatan pelabuhan dan pelayaran. Tapi yang menarik bagi saya adalah replika gambar kota Batavia dari atas. Kelihatan banget kalau kota Batavia dibangun dengan perencanaan kota yang matang dan teratur. Semuanya rapi.
Gambar Batavia jaman dahulu.
Buat yang memang ingin belajar sejarah bahari Indonesia, pasti suka dengan penataan papan penjelasan sejarah bahari di lantai satu ini. Lengkap dan cukup detil. Bisalah, dilihat sebagai usaha pengelola museum untuk menyajikan data dan ilmu, bukan hanya tempat foto-foto cantik.
Lantai dua bangunan utama berisikan diorama tokoh-tokoh kelautan. Masing-masing diorama punya tema sendiri-sendiri, misalnya pedagang yang datang ke Batavia, kisah peperangan di Sunda Kelapa, perdagangan rempah-rempah, eksplorasi pelaut dari Eropa, dan lain-lain. Kalau ke sini, jangan lupa menengok ke ruang rempah-rempah. Baunya wangi banget, soalnya di situ memang disimpan berbagai rempah-rempah.
Saya jalan-jalan di lantai dua ini seorang diri. Lumayan serem juga, ruangannya remang-remang, dan di semua tempat terdapat patung-patung seukuran manusia. Untung di setiap diorama ada buku panduannya yang menyajikan kisah lengkap dan detil mengenai tokoh atau peristiwa yang digambarkan. Keingintahuan akan sejarah mengalahkan rasa takut.
Sayangnya, bangunan yang menyimpan barang hanya bangunan utama ini. Soalnya bangunan yang lain masih dalam tahapan perbaikan sebagai akibat dari kebakaran itu. Seingat saya, dulu ada lebih banyak replika perahu, tapi mungkin ikut terbakar semua. Sayang juga.
Lantai atas museum, diorama.
Bangunan di belakang adalah kantor dan juga ruang pertemuan. Waktu saya datang, sedang ada meeting pengurus museum. Saya sempat menguping, ada pembahasan tentang kesejahteraan pengurus museum. Tapi karena hari panas dan juga saya tidak ada hubungannya dengan tema ini, saya terus berlalu.
Buat yang ingin berkunjung ke Museum Bahari, bisa ambil mikrolet dari depan Museum Mandiri, dekat halte busway Kota. Kalau tidak salah ingat, mikroletnya nomer 15 (lupa mencatat). Tapi demi amannya, tanya saja ke sopirnya, jurusan mana yang lewat Museum Bahari.
Dari halte busway Kota ke Museum Bahari saya naik angkot. Tapi kembalinya saya jalan kaki. Lumayan lho. Tidak terlalu jauh. Tidak sampai setengah jam juga sudah kembali ke halte busway Kota. Kalau minat jalan kaki, bisa sekalian melihat-lihat suasana daerah Kota Tua dan juga lewat Jembatan Kota Intan. Jadi bertambah deh, tempat kunjungan wisatanya.
Yuk, mari ke museum!

27 Komentar:

  1. Wah tambah bagus museumnya, dulu saya pergi ke sini tahun 2013-an kalau nggak salah. Pernah foto pula di depannya :D cuma musti cari lagi ini d mana kah foto itu berada. Dan untuk edukasi anak-anak memang paling asyik kalau mainnya di museum. Sambil main, jalan-jalan, dan belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Museum adalah sarana untuk belajar keluarga. Tahun 2013 masih ada replika kapal phinisi yang besar. Awal tahun 2018, waktu museum kebakaran, replika itu ikut kebakar juga.

      Hapus
    2. Haaaa??? Iya emang waktu itu ada replika kapal itu ... saya baru tahu kebarakan :( kenapa ya ini. Sering sekali kebarakan. Macam di NTT saja sudah kebakaran berapa kali itu yang di Pulau Komodo, yang di kampung adat Gurusina di Bajawa, juga yang di Pulau Sumba. Sedih.

      Hapus
    3. Mungkin Indonesia sedang panas cuacanya. (Ini literal, bukan kiasan.)

      Hapus
  2. Whuaa saya aja yang orang Jakarta belum pernah ke sini... Btw jadi kepo juga nih sama kesejahteraan pengurus museumnya, hihii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya saya kepo juga. Tapi gak mungkin nguping terus kan...

      Hapus
  3. Asyik memang kalo pergi ke museum, kita bisa tau sejarah masa lalu. Saya sih blum pernah ke sini....tapi tertarik dgn ruang rempah2nya, baunya pasti sedep deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... baru rempah-rempahnya menyenangkan. Nggak kebayang kalau dulu gudang-gudang di Jakarta berisi tumpukan pala kering yang mau dibawa ke Belanda. Gimana pegawainya nggak mabok yah, nyium bau pala setiap hari.

      Hapus
    2. Jadi kebayang ya kehidupan di zaman dulu, mabuknya bukan minuman keras tapi mabuk rempah2 hihihi...

      Hapus
  4. Sering lewat pasar ikannya, dan barusadar belum pernah masuk ke museum bahari-nya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha ... tapi baunya sama saja kok, Pak!

      Hapus
  5. datang ke suatu museum selalu ada bahan pengetahuan baru yang menarik,
    penasaran dg menaranya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Makanya sayang sekali kalau ada museum yang kurang terawat.

      Hapus
  6. Jangankan ke jakarta, keluar dari sumatera aja aku belum pernah.. 😫😫
    Ini lagi nabung mbak, moga aja suatu saat kesampean kesana.

    BalasHapus
  7. sudah hampir 2 tahun merantau dijakarta tapi belum pernah ke museum ini hehe, but udh tau habis baca artikel ini thaks ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... tinggal meluncur aja nih.

      Hapus
  8. Hahaha .. aku dulu beberapakali cuma lewat depan museum Bahari yang letaknya tepat di pinggir kali ini, tanpa pernah mencoba masuk ke dalamnya,kak.
    Entah, bawaannya saat itu terasa seram saja duluan [ seperti saat aku belum ke museum kareta di Jogja ], jadinya belum pernah sama sekali masuk ke museumnya.

    Sekarang nyesel, pengin kesana setelah lihat post kak Dyah ini.

    Dilihat foto suasana lantai 2 nya kok kesannya agak gimana gitu ya,kak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya museum jarang iklannya, ya. Jadinya orang nggak tertarik untuk cari tahu lebih lanjut, apalagi bela-belain mengunjungi.

      Hapus
    2. Iya,betul.
      Gaung berita lokasi wisata museum masih minim kedengaran ..., yang banyak mengulas ya cuma para blogger.
      Selebihnya minim pemberitaan.

      Hapus
  9. Museum Bahari ini yang beberapa bulan lalu terbakar ya mbak?
    Sayang sekali ya padahal museum ini aset nasional bangsa Indonesia.
    Sedih lihat tayangannya di tv banyak koleksi museum yang ikut terbakar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget! Waktu saya datang, bangunan yang terbakar belum direnovasi. Mungkin belum ada dana, ya.

      Hapus
  10. Saya tinggal di Depok dekat Jakarta malah belum pernah ke museum ini hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ... kalau di Depok, ada museum yang lebih dekat lagi: Museum di Tengah Kebun di Kemang. Sayangnya itu museum pribadi yang nggak bisa sembarangan masuk.

      Hapus