16 Maret 2019

Ini pengalaman saya transit di Bandara Narita, Jepang. Alkisah, di bulan Desember yang lalu, saya mau jalan-jalan ke kota Matsuyama di Ehime, pulau Shikoku, Jepang. Nah, berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Matsuyama, saya harus lewat bandara Narita dulu. Jadi, pesawat saya dari Denpasar tiba di bandara Narita pada jam 08:40 pagi, dan pesawat domestik yang menuju ke Matsuyama berangkat dari bandara Narita pada jam 16:20 di hari yang sama. Lumayan tuh, ada waktu hampir 8 jam nganggur di bandara Narita. Nah, daripada bengong, saya memutuskan untuk jalan-jalan.
Area Omotesando di kota Narita.
Sebetulnya tadinya saya cuma mau muter-muter bandara dan masuk ke Museum of Aeronautical Sciences yang letaknya sebenarnya cukup dekat dengan bandara Narita. Tapi kok kayaknya transport menuju ke sana lebih membingungkan. Jadinya saya ganti haluan dan memilih menghabiskan waktu di kota Narita.
Harap dicatat, saat saya transit di Narita ini, saya bisa jalan-jalan keluar bandara karena memang saya pegang visa Jepang. Kalau transit di Narita dalam perjalanan ke negara lain, saya kurang paham bagaimana ya.
Mungkin ada yang tanya, kenapa tidak mampir ke Tokyo? Alasannya jelas: Tokyo itu jauh. Kalau dilihat di GoogleMaps, jarak antara bandara Narita ke stasiun kereta Tokyo hampir 70 km. Kalau naik kereta, menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Lha cuma bolak-balik aja, sudah habis 3 jam. Sementara dari turun pesawat penerbangan internasional sampai melewati imigrasi saja bisa habis satu jam lebih. Plus, saya harus check in untuk pesawat domestik satu jam sebelum keberangkatan. Berarti dari 8 jam, 5 jamnya sudah hangus. Belum balada cari tempat makan siangnya, nunggu jadwal kereta, dan nyasar pas jalan-jalan. Waduh, malah banyak khawatirnya selama perjalanan.
Makanya saya memilih jalan-jalan di kota Narita, yang jaraknya hanya sekitar 8 km dari bandara Narita. Kalau naik kereta Keisei line, langsung turun di stasiun pertama yang ditemui, yaitu stasiun Narita (Narita eki). Perjalanan naik kereta cukup 14 menit. Dekat, kan?
Stasiun Narita.
Kalau mau jalan-jalan di kota Narita, saran saya, semua bagasi/koper dititipkan di loker berbayar di bandara. Di semua terminal di bandara Narita pasti ada loker berbayar. Kalau nggak ada uang kecil, ya beli minuman atau apa di Lawson, biar ada kembalian uang koin. Siapkan antara 500 sampai 700 yen (kalau tidak salah ingat), tergantung besarnya koper yang akan dititipkan. Hal ini akan mempermudah kita saat jalan-jalan di kota Narita.
Untuk yang berminat jalan-jalan di kota Narita, harap ingat bahwa ini adalah kota kecil dan sebenarnya bukan tujuan wisata utama. Jadi, pilihan tempat makan ataupun tujuan wisata ya tidak banyak. Tapi, kalau cuma mau jalan-jalan di sebuah kota khas Jepang yang tidak terlalu metropolis, dan menikmati salah satu kuil tua yang cukup dikenal oleh masyarakat Jepang, kota ini boleh banget dikunjungi. Kalau punya cukup waktu untuk jalan-jalan di kota Narita, cobalah ikuti GoogleMaps, jalan kaki dari stasiun kereta api sampai ke kuil Naritasan Shinshoji. Anda akan berjalan melewati Omotesando, dimana berjajar toko-toko yang berjualan pernak-pernik, makanan, dan oleh-oleh. Dan juga, terdapat rumah makan yang menjual menu unagi (belut air tawar).
Waktu saya sengaja mampir ke kota Narita, saya turun di stasiun kereta Narita (Keisei line) dan sengaja jalan kaki menuju ke kuil Naritasan Shinshoji. Sayangnya, karena waktu itu saya malas menitipkan koper, jadi saya geret-geret koper di sepanjang jalan.
Tangga untuk menuju ke kompleks kuil Naritasan Shinshoji. 
Nah, keluar dari stasiun, tanpa mengalami kesulitan berarti, saya bisa langsung berjalan ke arah kuil yang saya tuju. Jalannya relatif datar tapi kadang sedikit mendaki atau menurun. Yah, hitung-hitung olah raga. Jalan kaki menuju ke kuilnya nggak lama kok. Jalan santai, cuma sekitar 30 menit. Itu masih sambil mampir ke Seven Eleven di tengah jalan buat beli onigiri dan air minum untuk makan pagi.
Masalah baru muncul pada saat saya tiba di kuilnya. Kompleks kuilnya ada di atas bukit, dan kalau mau ke sana harus naik tangga yang lumayan terjal dan curam. Nggak mungkin, lah, saya naik tangga sambil angkat-angkat koper. Jadi ... saya ya cuma bisa foto-foto di depan gerbang kuil saja. Sayang sekali ya. Ini akibat kurang riset sebelum berangkat. (Tuh, jangan pernah lupa riset sebelum jalan-jalan, ya. Apalagi kalau solo backpacking macam saya.)
Jadinya, saya malahan jalan-jalan terus ke arah areal perumahannya. Jalan-jalan saja. Orang-orang juga cenderung cuek, karena turis yang mengunjungi kuil sambil geret-geret koper nggak cuma satu-dua orang. Terus, di areal situ memang ada beberapa hostel dimana orang pasti keluar masuk sambil bawa koper. Menyesal aja sih, jadinya nggak melihat bagian dalam kompleks kuil Naritasan Shinshoji yang berdiri di sekitar tahun 940 ini.
Tapi jalan-jalan di sekitaran Naritasan juga asyik kok. Soalnya kondisi perumahan suburban di Jepang kan beda jauh dengan di sekitaran Jakarta. Karena ini kota kecil, perumahannya tidak padat. Terus, rumah-rumah di sini kan nggak terlalu rapat satu sama lain. Jalan-jalan di sini sepi, dan jarang mobil. Nggak seperti di sekitaran Jakarta, yang penuh dengan sepeda motor. Kalau dibandingkan dengan area perkampungan di tengah kota Jakarta, areal perumahan di Narita terasa sepi banget!
Nah, kalau nggak bisa keliling kuil Naritasan Shinshoji, terus ngapain? Ya sudah pasti makan siang. Kebetulan itu sudah waktunya makan siang. Dan makan siang di Narita sudah pasti makan ... unagi! Area sekitaran Narita dikenal sebagai penghasil belut air tawar alias unagi. Jadi tidak heran kalau di sekitaran Omotesando ada banyak rumah makan yang menyediakan masakan dari unagi.
Satu set nasi dan unagi.
Ada untungnya rumah makan di Jepang sering menaruh daftar menu plus harganya di depan pintu atau jendela. Jadi, saya tinggal pilih rumah makan yang harganya masuk akal dan (nampaknya) makanannya enak. Oh ya, harga masakan unagi di sekitaran Omotesando antara 1800 yen sampai 5000 yen, tergantung porsi dan juga set-nya. Jadi siap-siap saja uang yang cukup kalau mau makan unagi di Narita.
Selesai makan siang, saya berjalan santai kembali ke stasiun kereta api. Melewati lagi Omotesando, saya jadi semakin menyukai tempat ini. Nuansanya kota kecil, masih bisa dibilang cenderung tradisional. Kota Narita memang disebut-sebut sebagai salah satu kota pewaris budaya Edo, yang merupakan era pemerintahan samurai di Jepang.
Sekitar jam 3 siang saya sudah kembali ke bandara Narita dan siap-siap check in untuk penerbangan ke Matsuyama. Lumayan juga, masih cukup waktu untuk ke WC, ngemil, dan cek ulang tas/koper.
Nggak bosan, kan, transit di bandara Narita. Buat yang kebetulan harus transit di bandara Narita, saya sangat menyarankan untuk berwisata ke kota Narita. Apalagi makan siang unagi di sana. Kayaknya wajib banget, deh. Nggak bakalan nyesel jalan-jalan di kota Narita. Dijamin bakalan kangen dengan kota kecil satu ini.

42 Komentar:

  1. Sepertinya jalanan di Narita sepi ya mbak?
    Btw, saya harus belajar lho mbak untuk makan unagi, diicip-icip dulu kabayaki sauce nya, terus cobain ikannya dikit...susah bener...padahal enak gitu apalagi kalau atasnya di kasih teriyaki sauce dan green onion..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar untuk makan unagi? Mungkin karena dagingnya kurang berserat, ya? Kalau saya sih, suka banget, Mbak.

      Hapus
  2. Kota Narita ini nampaknya kota kecil yang tenang banget ya, bukan destinasi utama di Jepang, tp itu justru jadi nilai plus buat saya krn nuansa kotanya justru tradisional banget..
    Semoga deh nanti bisa ke jepang dan ke kota narita. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kota ini sepi, Kak. Kayaknya banyakan turis dibandingkan penduduk. Tapi mungkin karena saya ke sana siang hari di hari kerja ya. Kalau jam pulang kantor, harusnya sih banyak yang pulang kerja dari Tokyo.

      Hapus
  3. Heuuu seru nih ke Jepang. Kapan yaaa aku bisa kesana? Wkek

    BalasHapus
  4. wahhhh boleh dicoba nih kapan-kapan mbak.

    BalasHapus
  5. Wah... Seru banget. Bisa mampir di Kota dekat tempat transit.
    Jadi ketemu tempat baru yang juga nggak kalah keren sama tempat wisata yang sudah terkenal.

    Eh, tapi kok kasihan ya geret2 koper. Kalau aku pasti memilih menitipkan koper biar bisa lebih leluasa jalan-jalannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... itu kesalahan hamba. Lain kali nggak bakalan ragu untuk naruh koper di tempat penitipan.

      Hapus
  6. Lama juga ya waktu transitnya mba, emang bosen banget kalau nunggunya di dalam bandara saja, kalau saya mungkin mampirnya ke mall omotesando hihi, eh jauh ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, Omotesando yang di Shibuya? Jauh Bu.... Huhuhu... yang dekat bandara Narita ya toko unagi.

      Hapus
  7. Walah.. kalau menunggu sampai 8 jam untuk penerbangan selanjutnya memang perlu jalan-jalan di sekiling kota Narita, ya? Biar enggak jenuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... bosen di bandara, soalnya bandara Narita kan kurang banyak hiburannya.

      Hapus
  8. Saya penyuka belut dan begitu disebutkan sentra penghasil belut, saya langsung ngilerrrrr......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... penggemar belut rupanya. Kalau lele, suka juga gak?

      Hapus
  9. duh kapan aku bisa ke jepang ya,, membayangkannya aja bakal ga mungkin hehehe
    ini kota NArita kayaknya adem banget ya

    BalasHapus
  10. wahhh seru ya meskipun cuma sebentar dan explore Narita, tapi rasanya seru... meskipun suburban rapi dan bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kota kecil kayak gini biasanya bersih dan rapi.

      Hapus
  11. Oh jarak bandara narita ke tokyo sekitar 70 km kiranya kalau di sini 100 km saja hanya di tempuh dalam waktu 1,5jam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kereta biasa, Pak. Bukan shinkansen. Kecepatannya nggak beda jauh dengan yang di Indonesia.

      Hapus
  12. Cuma 8 km dari bandara dan pegang visa Jepang itu Alhamdulillah banget ya, Kak. Bisa jalan-jalan di Kota Narita dan menikmati makan siang di sana. Wuah, jadi ngiler :D

    BalasHapus
  13. saya ikuti jejaknya mbak, klo kalau besok2 saya transit disana. biar bisa ikut icip2 unagi :D hahaha........

    BalasHapus
  14. Impian saya traveling k Jepang.. Sngat mnginspirasi banget.. Thanks ceritanya

    BalasHapus
  15. kotanya sepi banget ya, tenang. Tapi karena sepi jadi terlihat bersih. deket pula dengan bandara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Menurut saya, tempatnya bersih karena orang yang tinggal di situ juga sedikit.

      Hapus
  16. Kalau transit lama memang enak ya bisa muter2 dulu. Saya dulu langsung ke Tokyo dari Narita krn dikejar check in hotel hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, itu beda cerita. Susah kalau sudah dikejar jam check in atau jam check out.

      Hapus
  17. wah itenary ke jepang dong mb,, pingin juga liat sakura

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sih ke Tokyo, Osaka, Kyoto, Nara. Seminggu, lah.

      Hapus
  18. wah asyik juga ya transit di bandara, bisa sambil jalan jalan getu, sehingga tidak jenuh ya kak karena perjalan pesawat bikin tegang juga, bagi ane :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaknya sih, ada istirahatnya. Nggak enaknya, perjalanan jadi lebih panjang.

      Hapus
  19. Wahhh seru....aku pertengahan juli transit 18 jam di Narita,selain di sekitar narita ada masukan lagi ga mbakk kemana lagi terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau 18 jam, bisa ke Tokyo, di Tokyo Sky Tree. (Ada kereta Tokyo Sky Tree - Bandara, itu seingat saya ekspress.) Yang penting cek jadwal keretanya saja. Kalau yang dekat, ya kota Narita. Tapi kalau saya ada transit 18 jam, saya pasti ke Kota Chiba. Itu kota modern biasa di tepi laut, tapi masih menarik untuk dikunjungi. Saya seumur-umur belum pernah ke Chiba.

      Hapus
  20. TOP LIST TO DO IN 2019... semoga bisa kesampean bawa sekeluarga kesana...apakah mudah untuk berpindah 2 kota disana?

    Digital Printing Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaringan kereta di Jepang termasuk yang top banget di dunia ini. Yang penting sudah browsing dulu mau pakai jalur yang mana, jadi nggak bingung.

      Hapus