13 April 2019

Mari ke Museum Manusia Purba Sangiran!
Akhirnya saya berkesempatan lagi untuk mengunjungi situs warisan dunia UNESCO di Sangiran. Sangiran adalah daerah yang memiliki makna penting bagi dunia paleontologi karena di sinilah ditemukan banyak sekali fosil manusia purba. Fosil yang ditemukan di sini dianggap menjadi mata rantai yang hilang yang menunjukkan evolusi awal manusia. Sangiran dikenal sebagai Early Man Site, alias situs tempat ditemukannya manusia awal, yang nantinya akan membuka jalan untuk kehadiran spesies kita sekarang, Homo sapiens.
Situs Sangiran cukup luas, ada yang masuk ke Kabupaten Sragen dan ke Kabupaten Karanganyar. Karena luas, maka situs ini dibagi ke dalam beberapa klaster, dan masing-masing klaster memiliki museum dengan temanya sendiri-sendiri. Dari semua museum yang ada, satu menjadi museum utama. Museum utama Sangiran terletak di klaster Krikilan; dan kalau orang menyebut Museum Sangiran, maka yang dimaksud pastilah museum di klaster Krikilan ini. Saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi museum pendukung di klaster lain, namun jika ada kesempatan, saya berminat untuk mengunjungi semuanya. Untuk saat ini, saya cukup puas mengunjungi museum utamanya saja.
Museum Manusia Purba Sangiran, demikian nama lengkap museum di klaster Krikilan ini, sebenarnya tadinya hanyalah bangunan sederhana tempat seorang antropolog bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan penduduk setempat bernama Toto Marsono menyimpan temuan hasil penggalian di Sangiran. Di tahun 2011, diresmikan bangunan baru yang lebih modern untuk menggantikan gedung sederhana ini. Bangunan yang saya kunjungi adalah bangunan baru tersebut.
Fosil gading purba yang dipamerkan.
Mau tahu tentang dinosaurus?
Museum Sangiran terdiri dari tiga ruang pamer. Masing-masing ruang pamer memiliki temanya sendiri-sendiri. Selain ruang pamer, museum ini juga memiliki ruang audio visual, tempat duduk-duduk, ruang edukasi dimana bisa dilakukan kegiatan belajar-mengajar, dan juga pendukung lain seperti mushola dan area berjualan. Museum ini memiliki areal parkir yang cukup luas dan juga taman yang apik. Namun tentunya, tujuan utama pengunjung adalah ketiga ruang pamer.
Ruang pamer pertama diberi nama Kekayaan Sangiran. Di sini dipamerkan bebatuan dan fosil-fosil yang ditemukan di situs Sangiran. Jangan dipikir di sini kita hanya bisa melihat tumpukan batu-batu, ya. Ruang pamer ini ditata sedemikian rupa sehingga menarik namun tetap informatif. Di sini kita bisa mempelajari tentang terbentuknya daerah Sangiran, kondisi bebatuan dan lapisan tanah yang ada, sisa-sisa perkakas prasejarah, dan juga contoh fosil yang ditemukan di sekitar Sangiran. Sampai sekarang, situs Sangiran masih merupakan penyumbang fosil Homo erectus di dunia. Ruang pamer pertama adalah ruang pamer favorit mayoritas pengunjung.
Ruang pamer kedua diberi nama Langkah Kemanusiaan. Di sini digambarkan kisah terbentuknya bumi, perkembangan jaman di bumi, dari munculnya makhluk hidup pertama sampai dengan munculnya primata di masa akhir Paleosen. Di ruang pamer ini terdapat film tentang pembentukan tata surya dan panel-panel yang menggambarkan perkembangan mahkluk hidup di dunia. Daerah ini biasanya hanya dilewati saja oleh pengunjung, karena mayoritas alat peraganya adalah panel-panel tulisan, meskipun disertai dengan gambar. Bagian yang paling menarik di sini adalah diorama aktivitas manusia purba, dimana kita bisa merasa melihat langsung kehidupan sehari-hari manusia purba di Sangiran.
Informatif.
Untuk yang penasaran dengan proses evolusi manusia dan juga perkembangan kebudayaan purba, sebetulnya ruang pamer dua adalah yang paling menarik. Selain penjelasan yang lengkap dan detil, panel-panel di ruang pamer ini memberikan penjelasan yang sistematis sehingga mudah diikuti. Tapi memang pengunjung harus banyak membaca.
Ruang pamer tiga diberi nama Masa Keemasan. Di sini, terdapat sebuah diorama yang cukup besar, dimana digambarkan kegiatan sehari-hari Homo erectus, misalnya berburu atau berkumpul bersama komunitasnya. Selain patung Homo erectus, terdapat juga patung Homo floresiensis, yaitu manusia purba kerdil yang fosilnya ditemukan di Flores. Di antara semua alat peraga yang dipamerkan di ruang pamer tiga, yang paling saya suka adalah film yang menceritakan pembuatan patung Homo floresiensis. Saya sangat kagum dengan artisan yang menciptakan patung ini. Rambut dan bulu badannya dipasang satu-satu, lho!
Museum Manusia Purba Sangiran adalah salah satu museum yang menurut saya cukup lengkap dari sisi alat pamer dan juga koleksinya. Areanya juga cukup luas, sehingga memungkinkan dibangunnya tiga ruang pamer yang cukup besar. Alat peraganya juga menarik, bahkan sebetulnya bisa dijadikan tempat swafoto. Tapi berhubung ruangnnya agak remang-remang, memang kualitas kamera akan sangat menentukan hasil foto-fotonya.
Museum ini cocok untuk tempat wisata keluarga karena mendidik sekaligus menarik. Museum Manusia Purba Sangiran buka setiap hari dari jam 08:00 hingga jam 16:00. Harga tiket masuknya Rp 5.000,-

24 Komentar:

  1. Wah menarik nih melihat koleksi di museum nya.bawa keluarga juga cocok ya kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok banget, lah. Ini tempat bagus untuk belajar ilmu alam.

      Hapus
  2. Ooh ternyata diSragen ada yaa museum manusia purba serta hewan purbakala zaman dahulu..😄😄

    Jadi penasaran pengen kesana dan mengupas sejarah tulang belulang hewan2 terdahulu..😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, lah. Sangiran kan masuk pelajaran IPS waktu SD. Penjelasan di museum ini lengkap, lho.

      Hapus
  3. Jadi inget pelajaran sejarah dulu ada homo soloensis,pithecantropus erectus dan lain2,btw museumnya cakep juga ya

    BalasHapus
  4. wah bisa belajar sejarah manusia purba ya kak main kesitu, jadi teringat mapel sejarah waktu sekolah ada pitecantropus erectus, homo sapiens, dkk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... pelajaran sejarah SD kan ya.

      Hapus
  5. Saya udh pernah ke museum ini tiga kali, tapi sayang belum sempat ke klaster lainnya padahal dekat coz waktu itu nggak sempat,...asyik kalau wisata museum jadi bisa ngebayangin kehidupan pada jaman dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... saya juga nggak sempat ke klaster yang lain. Mungkin kapan-kapan, ya.

      Hapus
  6. Saya jadi ngiri ama mbak Dyah...dari dulu saya pengen banget ke museum purba begini, tapi sampai hari ini belum kesampaian...suka suka penasaran dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan anthropology..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suatu saat ke sini, nggak rugi sih. Museumnya keren.

      Hapus
  7. Saya ingat homo ttg sangiran ini pelajaran ips saat smp. Ternyata ada museumnya. Keren dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Pak. Ada. Dan pengunjungnya lumayan banyak lho.

      Hapus
  8. wah jadi pengen berkunjung kesana kak, biar tambah ilmu belajar sejarah yang dulu hanya teori di kelas, dan praktek nya belum pernah :D

    BalasHapus
  9. Keren bgt museumnya mas, baru tau ada di Sragen. Next time perlu kesini jg kayaknya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nyangka kan, Sragen ternyata mendunia berkat Pithecantropus erectus.

      Hapus
  10. Tau ngga, aku pernah ... kecele saat tiba disini.
    Gegaranya aku ngga tau kalau hari Senin museumnya libur.

    Duh, udah jauh-jauh kesana malah ketemunya cuma satpam di depan gerbang berbentuk 2 gading besar ituuu 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha... biasanya memang museum tutup hari Senin kan. Ada tuh yang tutupnya Jumat, nah itu yang bikin kecele.

      Hapus
  11. Sangiran, ingat zaman sekolah dulu (homo sapiens), heheeh. Biaya masuknya itu wow sekali, Kak, cuma 5K!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Istilah Homo sapiens itu selalu dikenang, ya.

      Hapus
  12. sekilas inget pelajaran waktu smp dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... memang ada di pelajaran SMP.

      Hapus