27 April 2019


Akhir tahun lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kuil Horyuji, di daerah Nara, Jepang. Kunjungan ini adalah bagian dari jalan-jalan ke area Nara – Kyoto – Osaka selama 4 hari 3 malam. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Horyuji (法隆寺) sendiri artinya adalah “Kuil Hukum Bersemi”. Umumnya, orang asing tidak tahu makna karakter “ji” () di dalam nama Horyuji, yang mana artinya adalah kuil. Jadi, orang asing sering menyebutnya dengan Horyuji temple atau kuil Horyuji, walau untuk orang Jepang, namanya ya Horyu-ji (kuil Horyu).
Pagoda di area kuil Horyuji.
Nama lengkap kompleks kuil ini adalah Horyu Gakumonji (法隆学問寺), yang artinya adalah ”Kuil Tempat Pembelajaran Hukum yang Bersemi”. Nama ini sebenarnya sangat mewakili fungsinya. Horyuji didirikan oleh Pangeran Shotoku, yang juga merupakan salah satu tokoh awal pengembangan agama Budha di Jepang. Kompleks kuil Horyuji sendiri didirikan sebagai biara dan seminari dan saat ini dianggap sebagai salah satu monumen pertama perkembangan Budha di Jepang.
Kompleks kuil Horyuji didirikan pada sekitar abad ke-7. Catatan sejarah Jepang mencatat bahwa pada tanggal 30 April 670, ada kebakaran besar yang melanda kompleks kuil ini dan akibatnya seluruh bangunan harus dibangun kembali setelahnya. Namun, dari pembangunannya di akhir abad ke-7 sampai sekarang ini, ada beberapa bangunan yang masih tetap berdiri tanpa pernah hancur – hanya pernah menjalani beberapa kali renovasi saja. Bangunan kayu yang sudah berdiri kokoh selama 1300 tahun lebih inilah yang saat ini diakui sebagai bangunan kayu tertua di Jepang dan juga di dunia.
Kompleks kuil Horyuji adalah situs warisan dunia UNESCO pertama yang ada di Jepang. Beberapa bangunan dan artefak yang disimpan di kompleks ini merupakan benda pusaka negara Jepang. Sebetulnya, kompleks kuil ini adalah salah satu situs bersejarah yang sangat penting bagi negara Jepang. Hanya saja, nama Horyuji masih kurang populer di kalangan wisatawan Indonesia dibandingkan dengan kuil lain di sekitaran Nara atau Kyoto, seperti Todaiji, Fushimi Inari Taisha, atau Kiyomizudera. Mungkin karena letaknya yang kurang strategis (jauh dari jalur kereta ataupun jalan raya) dan agak terpencil (letaknya di daerah perumahan penduduk pinggiran, bukan di tengah kota).
Walaupun letaknya tidak strategis, wisatawan tidak akan menyesal berkunjung kemari. Seluruh bangunan di kompleks ini terasa sakral dan tradisional sekali, bahkan dari pertama kali kita memasuki area kuil.
Chumon (中門), yang pertama dilihat saat memasuki kompleks kuil Horyuji.
Kairo (回廊) atau koridor yang mengelilingi area barat.
Setelah kita mulai memasuki kompleks kuil Horyuji, kita akan tiba pada Chumon (中門) atau Central Gate yang juga merupakan bagian dari bangunan panjang yang disebut sebagai Kairo (回廊) atau Cloister Gallery. Jangan tertipu dengan tampilannya yang cantik dan nampak indah ini, bangunan ini sudah berdiri sejak akhir abad ke-7 dan termasuk salah satu bangunan kayu tertua di dunia! Tidak ada kesan tua sama sekali pada bangunan yang juga merangkap tempat penjualan tiket masuk ini.
Sebenarnya, kompleks kuil ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Western Precinct atau Saiin Garan (西院伽藍), Gallery of Temple Tresures atau Daihozoin (大宝蔵院), dan Eastern Precinct atau Toin Garan (東院伽藍). Akan tetapi, karena saya tiba di kompleks ini pada pk 15:30 sementara saat tutupnya jam 16:30, maka ibu-ibu yang menjaga tiket menyarankan agar saya membeli tiket terusan untuk Saiin Garan dan Daihozoin saja. Jadi, saya memang tidak mengunjungi Toin Garan. Tapi tidak masalah juga, karena bangunan kayu tertua kompleks ini adanya di Saiin Garan saja.
Begitu kita masuk ke Saiin Garan, alias areal barat kuil, kita akan langsung melihat dua bangunan yang indah, yaitu Five-Story Pagoda atau Goju no To (五重塔) dan Main Hall atau Kondo (金堂). Bersama dengan gerbang yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kedua bangunan ini juga merupakan bangunan tertua di dunia. Saat saya tiba di area ini, pagodanya baru ditutup oleh petugas. (Iya, saya melihatnya memasang palang di depan pintu masuk.) Sayang sekali. Jadi, saya tidak dapat melihat dengan lebih dekat salah satu contoh nyata arsitektur tahan gempa Asia kuno ini.
Pagoda ini memiliki pilar kayu utama di tengahnya, yang berasal dari satu pohon utuh yang tingginya sekitar 35 meter. Konstruksi kayu yang mengelilingi pilar utama ini tidak dipaku atau dikaitkan dengan pilar kayu utama ini, bahkan berdiri lepas dari tiang utama ini. Jadi, ketika ada gempa, pilar utama ini akan bergoyang berlawanan dengan goyangan bangunan yang lain dan menegasikannya. Hal ini mencegah pagoda roboh ketika ada gempa. Penjelasan detilnya bisa dilihat di sini atau ditonton disini.
Tiga bangunan kayu tertua di dunia.
Tempat lonceng kuil, bagian dari koridor yang mengelilingi area barat.
Tempat penghormatan Pangeran Shotoku. Letaknya di dekat Gallery of Temple Treasures. 
Sedang waktu saya datang, Main Hall masih terbuka. Jadi, waktu petugasnya masih sibuk memeriksa pintu-pintu pagoda, saya langsung masuk ke dalam Main Hall. Di dalam bangunan ini terdapat patung-patung Budha perunggu dari abad ke-7 dan abad ke-8. Menurut saya, patung Budha jaman dulu lebih terlihat kurus dan ukirannya lebih rumit. Selain patung Budha, ada juga patung penjaga dari kayu yang terlihat seram. Dinding kayunya digambari dengan lukisan-lukisan yang cantik, walau terlihat tua. Sayang sekali, tidak boleh memotret di dalam gedung, jadi saya hanya bisa cerita saja.
Karena waktunya terbatas, saya lalu buru-buru menuju ke Gallery of Temple Tresures atau Daihozoin. Bangunan baru ini adalah museum yang menyimpan artefak Horyuji, termasuk benda-benda yang menjadi pusaka negara Jepang. Di sini juga tidak boleh memotret. Jadi saya hanya bisa bercerita saja bahwa di sini disimpan patung-patung Budha kuno asli milik kuil Horyuji. Patung Budha jaman dulu ini tidak selalu duduk seperti umumnya penggambaran Budha di jaman sekarang, melainkan banyak juga yang berdiri dan mengenakan hiasan-hiasan seperti yang biasanya kita lihat di arca candi-candi kuno.
Patung-patung Budha kuno dijajar di dalam lemari kaca besar, dan sepertinya saya menghabiskan waktu lima belas menit mengamati detilnya sekaligus membaca penjelasannya. Seingat saya, sampai ada petugas yang mondar-mandir dan bolak-balik senyum kepada saya, seolah-olah tanpa suara mengingatkan bahwa jam tutup tinggal 15 menit lagi. Selain patung Budha, ada juga miniatur pagoda, dan seingat saya ada juga pernak-pernik yang terkait dengan pemujaan.
Untuk backpacker yang berminat berkunjung ke kompleks kuil Horyuji, jangan lupa memperhatikan jam bukanya. Setiap hari, kompleks ini buka jam 08:00. Di musim dingin, kompleks ini tutup jam 16:30, tapi di luar itu tutupnya jam 17:00. Penjelasan lengkapnya terdapat di websitenya http://www.horyuji.or.jp
Pemberhentian bus di depan Stasiun Horyuji.
Bagaimana caranya naik kendaraan umum ke kuil Horyuji? Waktu saya kemari, saya berangkat dari Stasiun JR Nara. Dari situ saya naik kereta JR di Yamatoji line ke arah Osaka, dan turun di Horyuji Station. Dari situ, tunggu saja bus di halte bus (boarding site) no. 2. Saya naik bus no. 72, Horyuji-sando Route. Setelah 10 menit naik bus, turun di halte bus Horyuji-mae. Halte busnya tidak persis di depan kuil, ya. Kita masih harus jalan kaki sedikit, dan belok melewati area pertokoan.
Jangan khawatir kalau jalan-jalan ke sini sendirian, ya. Semua petunjuk dan penjelasan ada bahasa Inggrisnya. Di dalam bus juga ada pengumuman halte bus yang dilewati. Yang penting perhatikan layar di bagian depan bus supaya tahu kapan busnya tiba di halte yang kita tuju. Setelah turun bus pun, di halte ada peta yang menunjukkan letak dari kompleks kuil Horyuji dari halte. Selama baca petanya betul dan memperhatikan petunjuk jalan, tidak akan nyasar. Saran saya, jangan lupa buka GoogleMaps supaya lebih aman.
Ada yang berencana jalan-jalan di sekitaran Nara atau Osaka? Jangan lupa mengunjungi bangunan kayu tertua di dunia ini. Betul-betul salah satu pengalaman kebudayaan Jepang yang otentik.

26 Komentar:

  1. wah senangnya bisa jalan-jalan ke Jepang dan bisa mengunjungi kuil bersejarah. di Jepang pasti banyak banget kuil yang recommended untuk dikunjungi. tfs mba dyah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Jepang memang banyak banget kuilnya.

      Hapus
  2. Pos-nya komplit, Kak. Dilengkapi dengan huruf Kanji juga (kalau saya salah menulis, mohon maaf, hehehe). Penyebutan ini saya jadi ingat soal Jalan Diponegoro. Kalau orang nanya, "Mau ke mana?", jawabnya "Jalan Ponegoro." saja.

    Anyhoo, sayang sekali tidak bisa memotret di dalam Daihozoin padahal pasti banyak yang menarik di sana. Terima kasih Kak, pos-nya menambah wawasan hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, mungkin tidak boleh difoto untuk alasan keamanan ya. Tapi yang penting masih boleh ditonton khalayak umum.

      Hapus
  3. Bagus sekali kuilnya, terlihat kesan tradisionilnya masih sangat dipertahankan, terlihat dari warnanya yg tidak banyak banyak corak selain warna kayu dan beberapa dinding putih.
    Ah, semoga kapan2 bisa jalan ke Jepang juga

    BalasHapus
  4. Wah senangnya bisa punya teman yang membahas tentang Jepang.
    Gara-gara sering baca tulisannya mba Fanny, saya jadi mulai sedikiiittt familier ama Jepang.

    Suka banget kalau ada tulisan traveling itu dijelasin dengan detail, termasuk cara menuju ke sananya hehehe.

    Tapiii..
    Untuk ke Jepang sendiri, saya mah cemen.
    Takut jadi kayak anak ilang hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, kok takut jadi anak ilang? Ya jalannya ramean lah, Mbak.

      Hapus
  5. Beruntung sekali bisa mengunjungi jepang y mba..sy selalu kagum dengan bangunan yang strukturnya dibangun tanpa paku dan alat-alat modern. Tapi bs tahan goncangan seperti Pagoda tsb.

    Di Indonesia saya jadi ingat Perahu Pinisi, kalo tidak salah badan perahu tsb juga dibangun tanpa paku semua dari kayu dan manual.Wow sihh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang saya bertanya-tanya, orang-orang jaman dulu ilmunya itu dapat dari mana ya. Canggih banget kan.

      Hapus
  6. luar biasa ya kak, bangunan nya masih kokoh gitu meski usia nya sudah tua, ;)
    kayu nya juga awet ya bisa sampai bertahan lama sampai tahunan ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena kayu, ya jadi malah awet. Atau, kualitas kayunya memang yang oke banget.

      Hapus
  7. Wah benar benar dirancang tahan gempa ya jadinya keren sekali padahal ini bangunan jaman dulu ya, btw salah fokus ni sama tulisan kanjinya jadi ingat lagi pas les dulu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... dulu saya ngapalin kanji susah banget.

      Hapus
  8. Wooww!! Keren banget kuil Horyu Gakumonji... Berkesan sempit tetapi kalau dilihat sebenarnya luas juga kuilnya yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... jalan keliling kompleksnya lumayan juga sih.

      Hapus
  9. waa serunya ada kesempatan mengunjungi kuil horyuji di jepang..
    persis yang di film-film yaa.. hehe

    BalasHapus
  10. Jangan cuma lihat strategis atau tidaknya tempat ya, tapi pengalaman yang penuh dengan wawasan sehingga berwisata sejarah makin berkesan

    BalasHapus
  11. whoaaaa aku jadi kangen jepang huhuh

    BalasHapus
  12. Keren ya bangunan kuilnya hanya terbuat dari kayu tapi bisa bertahan lama banget. Dibandingkan dengan bangunan bangunan sekarang yang kerasa ringkih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi bangunan kaca, lebih kelihatan ringkih.

      Hapus
  13. Kapan gitu ya bisa ke sana😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga akan ada kesempatan ya Kak ...

      Hapus