18 Mei 2019

Bangunan utama di kompleks kuil Todaiji.

Bangunan yang paling terkenal di kota Nara, Jepang, sudah pasti kuil Todaiji (東大寺). Arti dari nama ini adalah kuil besar timur, karena letaknya di sebelah timur ibu kota saat itu. Kuil yang dibangun di sekitar abad ke-8 ini merupakan tempat patung Budha Vairocana perunggu terbesar di dunia. Tidak heran, bisa dikatakan setiap wisatawan yang datang ke Nara pasti akan mengunjungi kuil ini. Bahkan, kuil ini termasuk situs warisan dunia menurut UNESCO. Waktu saya berkunjung ke Narapun, kompleks kuil ini merupakan kompleks pertama yang saya kunjungi.
Umumnya, orang yang datang ke Nara dengan kereta akan datang ke kuil Todaiji dengan menggunakan bus dari stasiun kereta. Nggak perlu bingung memilih bus yang mana, karena ada petunjuknya dalam bahasa Inggris. Yang penting ambil bus yang tertulis menuju ke Todaiji. Ada beberapa pilihan bus, jadi tidak perlu menungu terlalu lama.
Turun dari bus, kita akan berjalan melewati hamparan rumput dan rusa-rusa yang berkeliaran dengan bebas. Selanjutnya kita akan berjalan melewati toko-toko penjual souvenir dan nantinya akan tiba di gerbang utama kompleks Todaiji, yang disebut dengan Nandaimon (南大門), yaitu gerbang besar selatan. Gerbang ini termasuk dalam harta warisan nasional Jepang. Bangunan yang berdiri sekarang didirikan pada tahun 1199.
Nandaimon, gerbang utama menuju ke kompleks kuil Todaiji.
Dari Nandaimon, kita bisa langsung jalan lurus menuju ke bangunan utama kompleks, yang disebut Kondo (金堂) atau Daibutsuden (大仏殿). Akan tetapi, saya memilih berbelok dan masuk dulu ke Museum Todaiji. Berhubung saya pecinta museum, memang saya memilih untuk mempelajari dulu sejarah dan penjelasan tentang kuil Todaiji sebelum melihat langsung barangnya.
Kompleks kuil Todaiji dibangun di sekitar abad ke-8 atas permintaan Emperor Shomu. Kuil ini dibangun dengan megah karena memang dimaksudkan sebagai kuil utama dari jaringan nasional kuil di masa itu.
Alkisah, pada abad ke-8, putera pertama Emperor Shomu meninggal saat berumur sekitar satu tahun. Di waktu yang kurang lebih bersamaan, ada juga pemberontakan besar, wabah cacar air, dan gagal panen. Untuk menghindari bencana yang berkelanjutan, Emperor Shomu meminta agar dibangun patung Budha raksasa yang disebut dengan Daibutsu (大仏). Kemudian, dibangun juga tempat bernaung patung Budha tersebut yang dinamai Daibutsuden. Nah, bangunan ini dan seluruh bangunan lain yang ada di sekitarnya menjadi kompleks kuil Todaiji.
Di dalam museum, selain kita bisa menonton film animasi mengenai sejarah pembangunan kuil Todaiji, kita juga bisa melihat koleksi patung-patung milik kuil, termasuk patung Budha dalam berbagai posisi dan tampilan, juga patung dewa-dewa lain yang juga diasosiasikan dengan agama Budha oleh masyarakat Jepang. Jujur saja, saya menghabiskan setengah jam lebih memperhatikan detil-detil patung yang dipamerkan di museum ini. Patung-patung yang dipamerkan ada yang sudah dibuat dari masa-masa awal pendirian kuil Todaiji, lho!
Daibutsuden. Bangunan utama di kompleks kuil Todaiji.
Patung Budha Vairocana perunggu terbesar di dunia.
Setelah puas menikmati museum, barulah saya pergi ke Daibutsuden, yang merupakan bangunan utama kuil Todaiji. Bangunan kayu ini disebut sebagai bangunan kayu terbesar di Jepang. Saya cukup takjub karena pengunjung boleh foto-foto di dalam bangunan utama ini. Apalagi kan patung Budha yang di sini termasuk dihormati orang banyak. Tapi buat memotret patung Budha raksasanya, agak susah, soalnya tempatnya sempit. Susah cari sudutnya.
Sebetulnya, bangunan Daibutsuden yang ada sekarang adalah hasil renovasi di abad ke-18 karena sebelumnya sempat hancur. Bangunan kayu “baru” ini tingginya 48,7 meter, dan menaungi patung Budha buatan abad ke-8 yang tingginya 14,98 meter. Patung Budha ini duduk di atas ukiran bunga teratai yang tingginya 3,05 meter. Telapak tangannya yang mengarah ke pengunjung pun ukurannya lebih besar dari manusia, lho.
Di dalam Daibutsuden, selain patung Budha raksasa (Daibutsu) ada juga beberapa patung Budha lain dan patung lain, serta maket kompleks kuil Todaiji di masa awal pendiriannya.
Keluar dari Daibutsuden, saya berjalan ke arah timur, menuju ke arah bangunan-bangunan lain yang juga termasuk dalam kompleks kuil Todaiji. Oh ya, sebetulnya ada banyak bangunan lain yang bisa didatangi. Akan tetapi, karena saya mengejar waktu untuk bisa ke kompleks kuil yang lain, jadi saya cuma foto-foto dari luar saja.
Salah satu bangunan tertua yang sudah ada di sini dari pertama kali kompleks ini dibangun.
Tapi saya tidak masuk, ya. Menurut informasi, Hokkedo Hall (法華堂) menyimpan patung Kannon yang indah.
Honbokyoko (本坊経庫) yang juga termasuk bangunan tertua di kompleks ini.
Sebetulnya, kalau memang minatnya untuk mempelajari seluruh kuil yang ada di kompleks ini, bakalan butuh satu hari penuh untuk mendatangi seluruh bangunan. Belum lagi mempelajari penjelasan yang ada di dekatnya (dan cari terjemahannya di Google Translate, karena penjelasannya pakai bahasa Jepang semua). Karena kompleks ini masih dipakai sebagai tempat pemujaan hingga saat ini, penjelasan memang ditujukan kepada penduduk Jepang yang serius hendak mempelajari informasi mengenai kompleks ini.
Umumnya, turis mancanegara cuma lewat saja karena, seperti saya, mengejar waktu ke tujuan lainnya. Mayoritas turis hanya datang ke Nandaion dan Daibutsuden saja. Jadi, penjelasan dalam bahasa Inggris untuk bangunan lain yang lebih kecil juga nggak banyak terpakai sih. Seingat saya, penjelasan bilingual hanya ada di sekitar Museum Todaiji dan sekitar Daibutsuden alias bangunan utama kuil.
Setelah mengintip sebentar bangunan apa saja yang ada di daerah timur kompleks, saya langsung melanjutkan perjalanan melewati Taman Nara (Nara Park) dimana terdapat padang rumput yang super luas dan rusa-rusa liar yang berseliweran. Berhubung saya kurang berminat foto-foto dengan rusa, jadi saya cukup melihat mereka dari kejauhan. Karena keterbatasan waktu, saya langsung jalan kaki ke kompleks kuil selanjutnya.
Buat yang mau jalan-jalan ke Nara, sangat direkomendasikan untuk berkunjung ke kuil Todaiji ini. Jangan lupa sebelumnya mempersiapkanfisik dengan baik karena kuil ini letaknya di tengah Nara Park dan jalannya lumayan jauh. Nah, yang paling penting, tetap berlaku sopan karena keseluruhan kompleks kuil ini adalah tempat beribadah.
Ada yang sudah berencana ke Nara, Jepang?
Selanjutnya
Artikel ini sudah yang terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

24 Komentar:

  1. Sugoi itu Nandaimonnya pasti tahan gempa banget ya sampe sekarang masih bertahan aja, btw itu Honbokyoko isinya kuil atau rumah ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu aslinya tempat penyimpanan, Kak. Kayaknya sampai sekarang juga masih dipakai untuk menyimpan barang-barang kuil.

      Hapus
    2. Jadi inget rumahnya oshin ada gudang buat nyimpan cangkul dan bahan pangannya hehe

      Hapus
    3. Mungkin memang tipikal kompleks rumah/kuil jaman dulu ya. Btw, masih ingat saja ada gudang di filmnya Oshin. Saya sudah nggak ingat detilnya lagi.

      Hapus
  2. Salut deh gimana Jepang bisa memelihara peninggalan budayanya dengan sangat baik, termasuk kuil ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang rakyatnya menghargai sejarah.

      Hapus
  3. Mantap infonya. Ada nilai kearifan lokal di bangunan tsb, mulai dari penggunaan bahan kayu, termasuk penggunaan bhs Jepang yg hrs dikuasai tamu yg berkunjung dan meminimalisir penggunaan bahasa asing. Tamu spt dipaksa utk mematuhi adat istiadat setempat dan tidak sompral. Wisata sejarah, budaya, dan agama di negara lain seharian jg ga akan beres hehe.. Thx

    BalasHapus
  4. belum pernah liat langsung kuil di jepang. moga kapan2 bisa travel ke sana :)

    BalasHapus
  5. O wooowwww megah ya... kagum saya. Masih terawat banget ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena masih dipakai setiap hari ya, jadi terawat dan ada donasi dari umatnya.

      Hapus
  6. semoga kita bisa ya mencontoh untuk merawat benda sejarah dengan baik, serta setuju sih kalau ada yang sangat bernilai yah wisatawan nggak masuk yah nggak apa-apa toh, demi tetap terawat dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, sih. Tapi sebagai turis kepo, kadang-kadang penasaran kalau nggak boleh masuk.

      Hapus
  7. Dua kali ke Jepang belom pernah ke Nara. Mungkin harus ke jepang lagi dan ke kuil ini :) Salam kenal mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ... iya, Mbak. Nara cantik, kok.

      Hapus
  8. wah bagus juga ya kak bangunan nya full terbuat dari bahan kayu, sehingga bikin bangunan terkesan jadi unik karena sekarang umum nya bangunann sudah banyak yang pakai tembok ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... tapi bangunan kayu memang relatif lebih tanah gempa, sih.

      Hapus
  9. Suka kagum sama orang dulu yang bisa membuat bangunan dengan arsitektur yang unik. Padahal saat itu tentu saja alat-2 arsitek belum secanggih sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... saya juga kadang bertanya-tanya, bagaimana orang jaman dulu membangun bangunan yang awet sampai sekarang.

      Hapus
  10. Menariknya di museum bisa menonton filem animasi tentang sejarah pembangunan Kuil Todaiji. Jadi kalau tidak ada guide pun setidaknya bisa paham sejarah pembangunannya ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... tapi jarang sih, turis yang mau masuk ke museumnya.

      Hapus
  11. Kenapa kebanyakan orang lebih memilih naik bus daripada naik kereta untuk ke kuil cantik ini ya, kak ?.

    Bukankah kereta lebih cepat sampainya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik kereta ... terus jalan kaki sih. Tetap mendingan naik bus.

      Hapus