1 Mei 2019

Daerah pasar lama Tangerang, dekat Kelenteng Boen Tek Bio. Banyak jajanan di sini.
Catatan: karena Pasar lama Tangerang terletak di daerah Pecinan, maka di sekitaran pasar ini juga dijual makanan non-halal. Ulasan kali ini juga membahas makanan non-halal.
Beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga memutuskan untuk jalan-jalan di Pasar lama Tangerang. Pasar lama Tangerang adalah salah satu pusat wisata kuliner yang sangat populer di Tangerang. Pasar ini letaknya cukup dekat dari stasiun kereta Tangerang. Dari stasiun, cukup jalan kaki sekitar 10 menit. Gampang, kan?
Nah, karena nggak mungkin kami makan seluruh makanan yang dijual di pasar ini dalam sehari, jadi kami hanya memilih makanan yang sudah banyak dikenal ataupun yang kebetulan tersedia. Bukan apa-apa, banyak warung makanan di pasar ini yang hanya buka pagi hari, atau hanya buka malam hari. Jadi, waktu kedatangan kita juga menentukan kita bisa makan apa saja.
Nah, ini dia santapan wisata kuliner kami di Pasar lama Tangerang.
Es teler durian. Segar banget!
Es Buntin
Es Buntin adalah nama warung penjual es serut (semacam kakigori) dan jus buah. Walau warungnya biasa saja, namun es buntin adalah salah satu jajanan legendaris di kawasan ini. Letaknya yang cukup dekat dari Kelenteng Boen Tek Bio, membuat lokasinya cukup strategis bagi para pengunjung kelenteng. Dari kelenteng, cukup jalan kaki ke arah barat sekitar 5 menit, maka warung ini akan terlihat.
Di sini, kami memesan es durian dan es teler durian. Penampakannya sih biasa saja, tapi rasanya luar biasa! Duriannya terasa sekali, dan susunya banyak. Nggak rugi membayar Rp 25.000,- per porsi.
Swekiau
Persis di sebelah warung es Buntin, ada Kedai Khoe. Kedai Khoe menjual makanan khas pecinan yang tidak halal. Karena kebetulan sebelahan, kami pun memesan swekiau. Buat yang belum tahu, swekiau adalah semacam pangsit berisi daging babi dan udang yang dipanggang.
Dari sini, kami beranjak ke tempat lain untuk mencobai salah satu makanan khas Tangerang yang terkenal enak.
Laksa Tangerang. Gurih banget.
Laksa Tangerang
Laksa tangerang adalah salah satu makanan favorit pecinta kuliner yang berkunjung ke Tangerang. Laksa Tangerang memiliki ciri khas antara lain kuah yang kental dan rasanya gurih. (Agak beda dengan laksa di beberapa tempat di Malaysia yang lebih asam, ya.)
Kami makan laksa di rumah makan Laksa Sari. Rumah makan ini beralamat di Jl. Kisamaun no 77A, masih di daerah Pasar lama Tangerang. Rumah makan ini menyediakan laksa yang bahan dasarnya bihun. Rumah makan yang sudah berdiri dari tahun 2013 ini juga sering dikunjungi para penikmat laksa.
Asinan Tangerang
Selain makan laksa, di rumah makan Laksa Sari, kami juga makan asinan Tangerang. Asinan Tangerang adalah sayur-sayuran (tauge, kol, sawi asin, wortel) dan tahu serta kerupuk yang disiram bumbu kacang. Sebetulnya, kami memutuskan untuk membeli asinan Tangerang di sini karena saat kami jalan-jalan, warung asinan Lan Jin (yang letaknya di dalam Pasar Lama Tangerang dan tersohor sejak tahun 80-an) sudah tutup. Warung tradisional ini memang biasanya sudah tutup sekitar jam 1 siang.
Ikan ceng cuang, masakan khas Tangerang yang sudah semakin jarang.
Ikan ceng cuang
Warung rumahan yang dikenal dengan nama Dapoer Ci Bule terkenal di kalangan pecinta kuliner babi Tangerang, karena warung rumahan ini menyediakan berbagai masakan khas Tangerang, termasuk yang berbahan dasar daging babi. Karena ini warung rumahan, sebetulnya mereka tidak menyediakan tempat untuk makan. Umumnya orang membeli untuk dibawa pulang. Tapi karena waktu kami datang warung sudah sepi, jadinya kami makan di meja panjang yang biasanya dipakai untuk menyiapkan masakan.
Dapoer Ci Bule ini sebenarnya tersohor karena makanan khas Tangerang yang kini sudah mulai langka, yaitu ikan ceng cuang. Ikan ceng cuang adalah masakan seperti pindang ikan, dengan bumbu-bumbu yang lebih oriental, seperti tauco. Makanan lain yang populer di warung rumahan ini adalah bakut sayur asin. Ini juga mengandung babi, ya.
Sate babi
Kebetulan sekali, setelah kami pulang dari Museum Benteng Heritage, kami berpapasan dengan penjual sate babi keliling. Beliau menjajakan jualannya dengan menggunakan sepeda.
Tentunya kami langsung menghertikan bapak penjual tersebut dan membeli beberapa tusuk sate. Bumbu sate babi yang kami makan ini khas, lebih banyak kecapnya dan kacangnya tidak terlalu berasa.
Nggak seru, nongkrong tanpa ngopi-ngopi.
Ngopi-ngopi
Penutup dari wisata kuliner kali ini adalah ngopi-ngopi di warung kopi Kong Djie yang letaknya di Jl. Kisamaun no. 46. Persis di pinggir jalan raya dekat Pasar lama Tangerang. Lumayan, menutup seluruh perjalanan ini dengan yang nikmat. Saya sendiri tidak meminum kopi seperti anggota keluarga yang lain, melainkan saya memilih minum minuman botol cap Badak.

Yah, itulah kisah wisata kuliner di Pasar lama Tangerang. Kalau ada kesempatan lagi, saya ingin mencoba jajanan yang lain. Soalnya, makanan yang dijual di sini banyak banget. Kayaknya nggak cukup kalau ke sini cuma sekali dua kali untuk mencobai semuanya. Harus bolak-balik biar puas.

26 Komentar:

  1. Penampakan es teler duriannya uniiiikkk kayak menhir begitu deh, Kak hahaha. Ini beberapa menunya (kecuali sate babi, tentu :p) cocok buat menu buka buasa inih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... es teler yang sudah pasti bisa diterima semua orang. Enak dan seger.

      Hapus
    2. Betuuuuullll heheheh.

      Hapus
  2. wah sepertinya perlu dicoba nih ngopi ngopi sama teman di pasar lama tangerang ini, kebetulan teman saya ada yang di situ kak, kerja disana dan tinggal disana, bisa kopdaran ya janjian buat ketemuan di pasar lama sambil menikmati kopi khas pasar lama ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... ngopi rame-rame memang nikmat banget.

      Hapus
  3. Esnya dibentuk runcing gitu ya, berarti nyendoknya dari atas dulu, dipuncak runcingnya...;) Diakhiri oleh durian...endezz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha.... itu cokelat dan susunya juga berlimpah lho.

      Hapus
  4. swekeu, daging babi dan udang, aduh saya jadi penasaran banget dengan rasanya.

    BalasHapus
  5. Es telernya unik. Harus segera dimakan biar nggak meleleh nih gunung esnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cair juga nikmat, kok. Ada duriannya di bawah. Hehehe...

      Hapus
  6. Penampilan es telernya mirip dengan roti tisu di medan, sekali2 main ke medan ya mba hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengin ke Medan terus makan pancake durian. Wah... kapan, ya?

      Hapus
  7. Wah aku kadang berkunjung ke Tangerang, tapi belum sempet main ke Pasar Lama Tangerang. Kapan2 mampir ah, keliatannya seru... :D

    Duh, aku malah penasaran sama makanan2 yg non-halal. Berhubung aku muslim & nggak boleh makan yg non-halal, jadi apa daya cuma bisa penasaran aja... Rasanya kaya gimana yaaaa... Karena dilarang jadi penasaran wkwkwkkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? Jangan penasaran, pilihan orang kan beda-beda. Makanya di awal artikel saya bikin disclaimer dulu.

      Hapus
  8. Waktu baca paragraf awal, saya langsung antusias, karena ada bacaan non halalnya. Ahahahaha

    Sate babi bumbu kecap memang favorit sih. Hangat atau tidak, tetap enak untuk disantap :)

    BalasHapus
  9. Nah, kalo pasar Tangerang belum pernah kuubek blusukan kesana, cuma lewat saja.
    Ternyata disana banyak pilihan kuliner enak.

    Wuaah .. es buntinnya segera dilahap tuuch ..
    Kalo kelamaan bisa .. rubuh 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weits... es bunting bisa hilang dalam hitungan menit! Tak perlu khawatir mencair. Apalagi ada duriannya. Hehehe...

      Hapus
    2. Ohh wouw ..

      Ternyata kuat tangguh juga si es buntin .., sanggup berdiri tegak sekian menit, tanpa meleleh ...

      Perkasa yaaach ..
      Xixixi

      Hapus
  10. Sehari makan berapa macam plus es duriannya mbak? Baca ulasannya aja udh asyik begini plus lapar hahaha apalagi kesana langsung ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... pokoknya sehari banyak icip-icipnya. Makanya jalannya ramean. Jadi semua pesan makanan yang beda-beda, terus saling mencicipi makanannya.

      Hapus
  11. Gw pernah tuh ngopi di warkop Kong Djie. Itu juga tau gara-gara diajakin temen kantor. Temen kantor gw banyak yang cina benteng. Jadi suka diajakin nyobain makanan-makanan di Pasar Lama Tangerang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... kalau orang cina benteng, pastinya makan makanan lain macam siomay khas benteng dong. Seru tuh, nyobain makanan di sekitaran Tangerang.

      Hapus
  12. es buntin nya bikin ngiler... lebaran besok kebetulan mau ke Tangerang, mampir ah

    BalasHapus