7 September 2019

Gedung utama Lawang Sewu.

Beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga berkunjung ke Lawang Sewu. Lawang Sewu adalah sebuah gedung bersejarah yang terletak pusat di kota Semarang. Gedung yang berdiri pada tahun 1907 ini adalah salah satu tempat wisata yang populer di Semarang.
Sudah banyak sekali blog yang menceritakan tentang pengalaman jalan-jalan ke Lawang Sewu. Walau sudah berkali-kali membaca tentang Lawang Sewu, tapi memang baru tahun ini saya berhasil masuk ke dalam kompleks tersebut. Bukan apa-apa, bolak-balik ke Semarang, saya selalu tidak sempat datang kemari.
Nama “Lawang Sewu” dalam bahasa Jawa artinya seribu pintu. Julukan ini diberikan karena jumlah pintu di bangunan ini banyak sekali. Desain bangunannya memang unik, dimana bangunan dibagi dalam ruang-ruang, dan untuk menghubungkan setiap ruang dengan ruang lain maupun dengan teras, dibuat pintu. Pintu-pintu yang berjajar ini memang menjadi spot foto yang unik dan disukai banyak orang.
Pintu-pintu yang berjajar.
Pintu yang berbaris menghubungkan antar ruang.
Dulunya, Lawang Sewu adalah kantor pusat perusahaan kereta api Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. NIS adalah salah satu dari beberapa perusahaan perkeretaapian yang beroperasi di jaman Belanda. Saya yakin perusahaan ini dulunya sangat sukses karena bisa membangun bangunan yang megah dan cantik seperti ini.
Bangunan Lawang Sewu adalah salah satu contoh arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan kondisi Pulau Jawa yang beriklim tropis. Pintu dan jendela yang banyak membuat sirkulasi udara lebih lancar. Ruang bawah tanah, yang merupakan tempat saluran air, juga diatur sehingga membantu menyejukkan ruangan yang ada di atasnya. Bangunan ini juga dibangun tanpa menggunakan semen, namun menggunakan campuran yang disebut bligor, yaitu campuran pasir, kapur, dan batu bata merah. Campuran ini lebih awet dibandingkan semen dan lebih membuat ruangan terasa sejuk.
Kecerdasan perancangan bangunan Lawang Sewu memang terbukti. Saat kita masuk ke dalam bangunan, kita tidak merasa kepanasan. Tentu saja, itu karena memang semua pintu dan jendela dibuka lebar-lebar. Tapi saya yakin, dulunya pun pintu dan jendela juga lebih sering dibuka lebar-lebar di siang hari. Selain suasana yang sejuk, kita dapat berjalan lurus melewati pintu-pintu penghubung. Konon, pintu yang banyak ini juga dirancang agar jika ada bahaya, pegawai mudah melarikan diri. Kalau lorong air di bawah tanah juga difungsikan, mungkin akan terasa lebih sejuk kalau kita berada di dalam bangunannya.
Bagian tengah kompleks Lawang Sewu.
Kompleks Lawang Sewu tidak punya tempat parkir. Untuk pengunjung yang datang membawa mobil, akan diarahkan untuk memarkirkan mobilnya di jalan kecil atau gang tak jauh dari situ. Pengunjung harus berjalan kaki menuju gerbang utama yang letaknya persis di depan taman Tugu Muda. Di gerbang kami mengantre untuk membeli tiket masuk. Tiket masuk untuk dewasa harganya Rp 10.000,- sedangkan untuk anak-anak dan pelajar Rp 5.000,- Ada juga tawaran untuk guide. Sayangnya waktu kami berkunjung guidenya sedang sibuk semua. Jadi kami mondar-mandir kesana kemari tanpa penjelasan mengenai bangunan ini. Sayang ya.
Untungnya, di sini ada beberapa bagian yang menjelaskan mengenai sejarah Lawang Sewu, sehingga kami dapat mempelajari beberapa informasi secara mandiri. Di dekat tempat masuk terdapat sejarah singkat kompleks ini. Di salah satu sudut bangunan utama, terdapat pameran gambar-gambar yang menggambarkan proses renovasi gedung Lawang Sewu.
Di tengah bagian gedung utama terdapat jendela kaca patri yang indah yang menggambarkan kondisi Hindia Belanda saat itu. Tempat ini adalah tempat yagn banyak dijadikan tempat selfie dan foto-foto. Tapi entah kenapa, daerah sini tidak mendapatkan pencahayaan yang memadai. Meskipun siang hari, suasananya tetap remang-remang. Padahal walaupun ruangan terang, menurut saya warna-warni kaca patri tetap dapat terlihat indah.
Jendela kaca patri di tengah bangunan utama.
Di gedung bagian belakang, pengunjung bisa foto-foto di bangunan kosong dengan lebih leluasa. Bangunan ini betul-betul mencerminkan nama lawang sewu, yaitu pintu berjajar memanjang. Di sini kita bisa foto-foto dengan lebih leluasa dibandingkan dengan gedung utama di depan, karena gedung utama di depan lebih banyak partisi ruangannya.
Waktu kami berkunjung kemari, kami tidak masuk ke ruang bawah tanah yang terkenal angker itu. Katanya beberapa pengunjung sih, waktu itu ruang bawah tanahnya ditutup. Tapi mungkin juga karena kami tidak bersama guide, jadi tidak bisa diantar ke bawah.
Oh ya, buat yang tiba-tiba kelaparan di sini, tidak perlu khawatir karena ada kedai California Fried Chicken di sini. Paling tidak kita bisa beli minum sambil duduk-duduk. Kamar kecil ada di ujung-ujung bangunan, dan mushola ada di dekat bangunan belakang. Taman bagian tengah kadang dipakai untuk kegiatan terbuka, namun kalau sedang kosong bisa menjadi tempat jalan-jalan atau foto-foto rame-rame.
Kalau mau ambil taksi atau kendaraan online, saya sarankan tidak dari gerbang utama. Soalnya mobil ataupun motor susah berhenti di situ. Lebih baik jalan kaki dulu ke Jl. Pemuda sampai menemukan halte bus. Janjian di situ saja. Jalan Pemuda ini satu arah ya, jadi kendaraan pasti akan datang dari arah belakang bangunan menuju ke taman Tugu Muda.
Buat yang belum pernah ke Lawang Sewu, kalau kebetulan mampir ke Semarang, bolehlah berkunjung kemari. Selain bisa melihat sisa-sisa sejarah, juga bisa menikmati keindahan bangunan bersejarah ini. Semakin banyak yang mengunjungi bangunan bersejarah di Indonesia, akan semakin terbuka pemahaman masyarakat mengenai perkembangan bangsa kita sendiri. Yuk, kita turut berwisata dan melestarikan bangunan bersejarah Indonesia.

13 Komentar:

  1. Hai mba salam kenal... Sy udh lm bgt ga ke Swmarang... Jd blom prnh ke lawang sewu.. Cmn liat aja kl dr jauh... Btw karcisnya murah bgt yaaa... Smg suatu saat bs mampir ke sana

    BalasHapus
  2. Saya dulu pernah ke Lawang Sewu waktu masih piyiiiik diajak ortu hihi, dan saya masih ingat perasaan saya waktu itu lumayan takut hahahaha. Entah kenapa mungkin jaman kecil dulu otak saya lebih mudah dikotori oleh cerita-cerita hantu. Jadi setiap kali pergi ke tempat sejarah seperti Lawang Sewu, Museum Fatahilah dan sejenisnya tuh saya takut yang sampai nggak bisa tidur. Tapi sekarang justru lumayan suka sama bangunan-bangunan tua karena sudah nggak pernah berimajinasi lagi kalau ada something di kolong kasur :3

    Next time, kalau saya ke Semarang akan main juga ke Lawang Sewu. Sepertinya seru, mana harga tiketnya juga terjangkau ya mbaaaa. By the way as usual suka baca cerita di sini karena komplit dan detail, jadi serasa ikut jalan-jalan :D<3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya punya teman yang lumayan sensitif dan suka "lihat" macam-macam di bangunan kuno. Nah, dia itu nggak suka ke bangunan tua. Untungnya saya nggak sensitif, jadi lenggang kangkung di bangunan kuno tanpa takut.

      Btw, terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus
  3. Sempat 2x ke semarang, 2016 dan 2018. Tapi alasan klasik, agenda padat jadinya gak smepat ke sini. Padahal banyak dibahas pada blog2 teman.

    Mba dyah gak sempat nemu yang seru seperti yang ada di desa penari? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak, Pak... kan datangnya siang-siang. Monggo, datang ke sini habis maghrib, siapa tahu ada yang lagi jalan-jalan.

      Hapus
  4. jadi pingin ke tempat ini! hehehe
    * jangan lupa mampir ya AORLIN(.)com

    BalasHapus
  5. ah kangen sekali ke Semarang mbaaa, aku pernah 2x ke sana, tapi baru sekali ke Lawang Sewu. baca artikelmu jadi pengen balik lg ke sana >.<
    oh iya, tour malam harinya masih ada engga ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya nggak tanya soal tour malam waktu berkunjung ke sana. Tapi kok saya baca di artikel koran online, kok sudah nggak ada lagi ya.

      Hapus
    2. oalah, terakhir saya ke sana itu masih ada mba. cuma mungkin agak spooky juga ya jadi ditutup deh. malem2nya jadi bisa nyobain angkringan yg rame aja di seberangnya hihi

      Hapus
  6. jadi pengen ke lawang sewu, pernah ke semarang tapi cuma mampir di bandara nya aja, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... ya kali-kali ngelayap di Semarang lah Kak. Seru, kok.

      Hapus