9 November 2019


Setelah saya ingat-ingat lagi, ternyata Museum Wayang termasuk museum yang cukup sering saya datangi dibandingkan dengan museum lain. Biasanya ini terjadi kalau saya harus menghabiskan waktu di daerah sekitaran Kota Tua, Jakarta Barat. Museum ini berdiri di pinggir taman Fatahillah, masih satu kompleks dengan Museum Sejarah Jakarta dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum Wayang termasuk kecil dan umumnya orang cukup menghabiskan waktu satu jam untuk bisa melihat seluruh artefak yang dipamerkan.
Gedung Museum Wayang, di Taman Fatahillah, Jakarta.
wayang golek
Salah satu koleksi Museum Wayang.
Gedung Museum Wayang bentuknya cukup unik karena merupakan dua gedung kembar yang menempel satu sama lain. Gedung ini sendiri tadinya dibangun sebagai gudang untuk sebuah perusahaan Wehry & Co di tahun 1912. Sebelum pembangunan gudang, di atas tanah ini sempat berdiri sebuah gereja yang sudah dibangun di tahun 1640. Sejarah menuliskan bahwa bangunan gereja ini kemudian direnovasi di tahun 1732, namun kemudian hancur karena gempa di tahun 1808.
Setelah sempat dimiliki oleh perusahaan swasta dan direnovasi di tahun 1938, bangunan gudang ini dibeli oleh lembaga kebudayaan Koninklijk Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Royal Batavian Society of Arts and Sciences), yang mengumpulkan kaum terpejajar di Batavia untuk mempelajari budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Lembaga yang sama juga merupakan inisiator dari berdirinya Kebun Raya Bogor dan Museum Nasional (juga dikenal sebagai museum gajah).
Bangunan tersebut kemudian diserahkan kepada Stichting Oud Batavia (Old Batavia Foundation). Nah, lembaga inilah yang kemudian mengelola Museum Batavia Tua (Oude Bataviasche Museum) yang mulai beroperasi di tangal 22 Desember 1939. Sejak saat itu, tempat ini menjadi museum, hingga sekarang. Di tahun 1957 bangunan ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia, dan di tahun 1962 diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Barulah di tanggal 13 Agustus 1975 bangunan ini secara resmi diinaugurasi sebagai Museum Wayang.
museum wayang
Memorial Jan Pieterszoon Coen.
Tempat berdirinya Museum Wayang ini bersejarah karena juga merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Jan Pieterszoon Coen, salah satu Gubernur Jenderal VOC yang juga merupakan pendiri kota Batavia di tahun 1621. Tentunya beliau dimakamkan di sini saat di lokasi ini masih berdiri gereja. Yang mengagumkan adalah, sampai dengan di lokasi ini dibangun gudang dan kemudian museum di awal abad ke-20, makam ini tidak pernah diusik. Ya memang, Pak Coen ini sendiri mendapat gelar pahlawan nasional di negeri Belanda sana, jadi mungkin orang-orang Belanda di Batavia juga segan memindahkan makam beliau ini.
Kalau kita datang ke Museum Wayang, kita akan dapat melihat beberapa sisa-sisa nisan penanda makam yang dipasang di tembok, dan juga ada memorial makam Jan Pieterszoon Coen di taman kecil di tengah museum. Jangan bayangkan makam seperti pemakaman di Museum Taman Prasasti ya. Karena gerejanya hancur akibat gempa, nisan yang tersisa tidak banyak dan mungkin makamnya Pak Coen ini sempat hancur juga akibat gempa. (Saya yakin dulunya makamnya pasti bagus seperti makam Belanda kuno yang tersebar di beberapa tempat di Jakarta.)
Museum Wayang sendiri menyimpan koleksi berbagai bentuk wayang dari seluruh Indonesia dan juga hadiah boneka/wayang dari luar negeri. Oh ya, museum ini penerangannya kurang, jadi suasananya agak remang-remang gitu. Untung wayangnya nggak gerak-gerak sendiri. Hahaha ...
Pertama kali masuk, kita harus membeli tiket. Harga tiket Rp 5.000,- per orang. Waktu saya datang bulan lalu, saya tidak disuruh menitipkan tas. Tapi sebelumnya, saya pernah berkunjung dan diminta menitipkan tas. Mungkin karena sekarang semua koleksi sudah tersimpan di dalam etalase kaca dan gang tempat jalan di museum ini cukup lebar, tas dianggap tidak membahayakan. Setelah membeli tiket, kita akan diarahkan untuk berjalan melewati lorong dimana di kiri-kanan kita terdapat etalase yang memamerkan beberapa tipe wayang tradisional. Yang saya ingat, ada beberapa bentuk wayang golek yang nampang di sini.
Foto-foto dulu, lah ...
Melewati lorong tadi, barulah kita tiba di taman kecil yang terbuka, yang memamerkan beberapa nisan tua Belanda. Di sinilah memorial Pak Coen berada. Melewati taman mungil itu, kita akan tiba di tangga naik. Di samping tangga terdapat ruang pertunjukkan, dimana kadang-kadang ada pertunjukkan wayang lengkap dengan gamelannya. Sayangnya waktunya tertentu saja.
Naik ke lantai atas, barulah kita benar-benar berasa di dunia wayang. Bemacam-macam jenis wayang berbaris di etalase. Ada wayang kulit dari berbagai daerah, wayang golek, wayang beber, wayang rumput, dan juga wayang dengan tema khusus seperti penyebaran agama Islam, penyebaran agama Kristen, dan juga wayang dengan tema perjuangan nasionalis. Kalau penasaran dengan jenis-jenis wayang tadi, lebih baik langsung berangkat saja ke Museum Wayang.
Selain wayang Indonesia, ada juga koleksi boneka-boneka dari luar negeri, yang juga dipakai untuk pertunjukkan semacam wayang. Ada boneka dari Amerika, China, Perancis, dan juga Rusia. Ada juga boneka dari Thailand ... yang saya perhatikan terus siapa tahu tiba-tiba bergerak sendiri seperti di film horror. Tentunya juga tidak terjadi apa-apa. Hehehe!
Buat yang memang suka banget dengan dunia perwayangan, di tembok juga ada papan-papan penjelasan lanjutan mengenai wayang. Ada penjelasan mengenai nama-nama bagian dari wayang kulit. Ada sisilah Wayang Purwa. Membaca sisilah ini, saya baru tahu kalau Hyang Tunggal memperanakkan Batara Guru yang kemudian memperanakkan Batara Wisnu, Batara Bayu, Batara Brama, dan Batara Sambu. Nah, dari Batara Brama, turunlah Pandawa. Berhubung papannya terbatas, cuma sampai angkatannya Pandawa saja. Kalau masih harus ditambahkan dengan istri dan anaknya Arjuna, bisa satu tembok tuh penjelasannya. Hahaha!
unyil
Ada boneka Si Unyil!
Setelah kita melewati boneka dari negara asing dan boneka Si Unyil (ini masuk kategori wayang modern, sepertinya), kita akan mulai meninggalkan museum dengan menuruni lorong yang di temboknya dipajang wayang kayu dan topeng-topeng ala Cirebonan. Melewati topeng, barulah kita tiba di tempat penjualan suvenir dan toilet.
Menurut saya, tidak rugi jalan-jalan di Museum Wayang, karena kita tidak hanya mempelajar budaya kita, namun juga berkesempatan untuk membandingkannya dengan budaya lain. Bawa anak-anak ke sini juga baik, biar mereka lebih mengenal negara mereka sendiri.
Nah, dari Museum Wayang, pengunjung bisa berjalan menuju kafe-kafe yang letaknya cukup dekat dengan museum, atau melanjutkan kunjungannya ke museum lain di sekitaran Taman Fatahillah. Museum ini buka dari jam 09:00 sampai 17:00 setiap hari kecuali hari Senin. Jadi, kita punya pilihan waktu yang cukup fleksibel untuk mengatur kunjungan kita ke museum ini. Yuk, mari ke museum!

10 Komentar:

  1. Museum ini juga kerap saya datangi mbak. Pas libur sama anak-anak. Lokasinya strategis sih, dekat stasiun kota. Bisa jalan kaki.

    BalasHapus
  2. Oh sebelumnya lu suruh nitipin tas ya mbak?

    Tau sih mau lu gembol wayangnya, wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahu gak situ harga wayang berapa... lumayan lho buat beli mie ayam. Yang gue gak berani ambil tuh, koleksinya museum keris. Salah-salah, bisa terbang sendiri di rumah. Itu baru serem.

      Hapus
  3. Dari beberapa blog yang bahas seputaran Kota Tua baru nemu tentang museum wayang nih. Semakin menguatkan tekad saya ke Kota Tua sekiranya ke jkt lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kota Tua sekarang keren, lho. Tapi kalau weekend emang ramai banget, sih. Kadang kalau saya jadi males karena terlalu banyak orang.

      Hapus
    2. Nah cocok. Biasanya saya ke jkt hari kerja. Hari pertama biasanya cmn registrasi. Kalo dapat pesawat pagi bisa melipir dulu ke sana.

      Trims inpohnya mba

      Hapus
  4. Saya lupa, baca di mana ya tentang musium wayang ini, tapi barusan loh beberapa waktu lalu baca ini :)
    Nggak sabar rasanya pengen balik ke Jekardah, mau explore daerah-daerah bersejarahnya, termasuk musium-musium :)

    BalasHapus