17 November 2018

Kalau pembaca lewat di Jl. Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo, di jam 6 pagi, maka pembaca dapat melihat sebuah kereta pendek berwarna merah putih melewati pinggiran jalan. Tidak hanya menjadi tontonan warga, kereta ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata kota Solo. Kereta Batara Kresna jurusan Solo –Wonogiri adalah kereta yang sedang dibicarakan ini.
Kereta Batara Kresna.
Kereta Batara Kresna adalah kereta perintis yang hanya terdiri dari tiga gerbong. Karena kecil, dan diangap sebagai kendaraan ulang alik, kereta ini juga sering disebut sebagai bus rel (railbus). Kereta ini menjadi andalan warga yang berminat berpergian antara Wonogiri dan Solo, pengganti kereta biasa jurusan Solo – Wonogiri yang sempat ada sebelumnya. Waktu saya masih kecil, sempat ada kereta jurusan Solo – Wonogiri yang hanya lewat di pagi hari dan sore hari. Tapi di tahun 2011 kereta tersebut tidak beroperasi lagi karena dianggap merugi.
Jalur rel di tepi Jl. Slamet Riyadi adalah jalur rel yang sudah beroperasi dari tahun 1922. Tadinya, jalur kereta ini tidak hanya sampai Wonogiri, namun terus ke selatan sampai ke daerah Baturetno. Saya kurang tahu apakah ada peran ekonomi yang signifikan dari daerah Baturetno; akan tetapi, diperkirakan pembangunan rel kereta sampai ke daerah sini karena daerah Baturetno termasuk ujung selatan daerah kekuasaan keraton Mangkunegaran. Sekarang sudah tidak ada lagi jalur kereta ke Baturetno karena jalurnya sudah terendam Waduk Gajah Mungkur.
Nah, di bulan Agustus 2018 yang lalu, saya dan ibu saya memutuskan untuk mencoba naik bus rel Batara Kresna. Jam lima pagi kami sudah tiba di Stasiun Purwosari untuk membeli tiket kereta. Kenapa pagi-pagi? Karena kami berencana ambil keretanya yang berangkat jam 6 pagi. Biar bisa santai menjelajahi sekitaran Wonogiri.
Jam enam pagi kereta berangkat. Kami naik kereta di hari minggu. Jadi sebetulnya bersamaan dengan Car Free Day (CFD) di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Kereta bergerak lambat dan berulang kali membunyikai klakson, supaya mengurangi kemungkinan kecelakaan. Kebetulan perjalanan kami mulus. Kata ibu saya, pernah suatu kali petugas PT KAI dan kepolisian dikerahkan untuk memindahkan sebuah mobil yang parkir di atas rel kereta api dan pemiliknya sedang jogging CFD entah di mana.
Bagian dalam kereta.
Kereta mulai menaikkan kecepatannya setelah meninggalkan kota Solo. Menarik juga naik kereta ke arah Wonogiri, karena saya melihat pemandangan yang saya belum pernah lihat sebelumnya. Saya kadang-kadang ada perlu di sekitaran Sukoharjo, pernah juga ke Wonogiri naik mobil, tapi ini adalah pertama kalinya saya ke arah Wonogiri dengan kereta.
Jam 7:45 kereta tiba di terminus, Stasiun Wonogiri. Lumayan pagi. Kami berencana untuk jalan-jalan di sekitaran stasiun. Tapi karena takut kehabisan tiket pulang, kami memutuskan untuk membeli tiket dulu sebelum pergi. Eh, ternyata tiket kereta yang jam 12 baru dijual jam 9 pagi. Jadinya, saya dan ibu saya memilih untuk makan pagi dulu di depan stasiun, terus jalan kaki menjelajahi Pasar Kota Wonogiri yang dekat dengan stasiun. Di dekat pasar terdapat juga Terminal Angkot.
Pasar Kota Wonogiri ternyata lumayan besar, lho. Karena kami jalan di sana sekitar jam 8 pagi, pasar sudah relatif sepi. Pasar tradisional umumnya ramai di pagi hari sekitar subuh. Soalnya, umumnya orang masak di sekitar jam 6 atau jam 7 pagi supaya keluarga bisa makan pagi tepat waktu. Jam 8 biasanya orang-orang sudah beraktivitas lain.
Buat yang iseng naik kereta Batara Kresna ke Wonogiri dan ingin beli oleh-oleh, bisa mencarinya di pasar ini. Saya sarankan, beli kacang mede (atau disebut kacang mete). Kacang mede adalah salah satu hasil bumi kebanggaan Wonogiri. Kalau tidak suka kacang, bisa beli hasil bumi seperti sayur-sayuran. Wonogiri daerah selatan terkenal gersang dan sering kekeringan, tapi yang di daerah utara cukup subur. Jadi ada banyak hasil perkebunan dan pertanian yang bisa dibeli di sini dengan harga cukup murah.
Stasiun Wonogiri. Loket tiketnya yang di sebelah gerbang masuk.
Nah, waktu kami kembali ke loket stasiun kereta untuk beli tiket, ada seorang sopir angkot yang juga beli tiket kereta. Terus dia tanya ke kami (dan satu keluarga lagi) apa mau diantar ke Waduk Gajah Mungkur. Dia bilang, dia pagi-pagi jam 8 mengantar satu rombongan untuk ke waduk, lalu mereka titip uang ke sopir itu untuk beli tiket kereta pulang, dan nanti jam 11:30 dijemput dari waduk untuk ambil kereta kembali ke Solo. Wah ... tahu begitu, kami bisa ikut titip juga ya.
Jadinya kami dan keluarga yang satunya memutuskan untuk naik angkot si bapak itu ke waduk, dan kemudian kami minta dijemput jam 10:30 untuk kembali ke stasiun. Lumayan kan, jadi tidak ribet waktu cari kendaraan kembali ke stasiun. Waktu ibu saya kembali ke Wonogiri bersama adik saya di bulan berikutnya, mereka langsung minta diantar ke Waduk Gajah Mungkur dan minta pak sopir antre tiket kereta baliknya. Jangan bingung mencari pak sopir itu karena dia biasanya ada di sekitaran loket tiket kereta.
Jadi, sekitar jam 10:45 kami sudah tiba di stasiun lagi dan mencari makan siang. Kami makan bakso di dekat pasar. Ada banyak penjual bakso, dan kami tidak tahu mana yang terkenal, jadi ya kami pilih yang ramai saja. Oh ya, di Wonogiri ada banyak yang menjual bakso beranak, alias bakso raksasa yang di dalamnya ada bakso-bakso kecil. Rasanya sih biasa saja, cuma bentuknya memang lain dari yang lain.
Jam 12 siang, kami sudah di dalam kereta yang berangkat kembali ke Solo. Itu adalah perjalanan terakhir untuk kereta ini di hari tersebut. Kereta Batara Kresna berangkat dari Stasiun Purwosari di jam 06:00 dan jam 10:00. Sedangkan keberangkatan dari Stasiun Wonogiri adalah jam 08:00 dan 12:00. Jadi, kalau berminat untuk mencoba kereta ini, harus diperhatikan jadwalnya.
Oh ya, harga tiket Rp 4.000,- per orang sekali jalan. Lama perjalanan adalah 1 jam 45 menit. Berminat jalan-jalan ke Wonogiri naik kereta?

12 Komentar:

  1. Moda transportasi KA memanf menyenangkan, karena punya jalannya sendiri. Apalagi tiketnya cuma 4000 ya, murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Udah gitu, kalau naik kereta, perjalanan dijamin lancar.

      Hapus
  2. Murah meriah dan bebas macet, emang paling enak naik kereta. :D btw kacang mede-nya udah siap makan atau masih dalm bentuk mentah Mba? Salah satu kesukaanku tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kacang medenya mentah, Kak. Saya malah nggak tahu dimana jualan yang matangnya.

      Hapus
  3. Berminat, hampir aja amu naik tapi kehabisan tiket akkhirnya baik bis... moga" selanjutnya gak kehabisan tiketnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keretanya kecil, jadi cepat penuh. Kalau hari libur, memang penuh banget.

      Hapus
  4. Uhuyyy keretanya bagus yah.
    Emang enak naik kereta sih, gak pake berenti lampu merah. hahah berentinya ya cuma di setiap stasiun aja. Kalo jalan2 ke luar kota, ya aku lebih suka naik kereta sih. Lebih cepat daripada naik mobil sendiri. Lebih murah daripada pesawat. Topcer. Coba bisa antarpulau yak... kan enak murah ga usah naik pesawat ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh ... kereta antar pulau itu impian bersama. Tapi infrastrukturnya mahal. Pemerintah pasti memilih memberi subsidi ke perusahaan penerbangan dibandingkan membangun jembatan rel antar pulau. Hahaha!

      Hapus
  5. Menyenangkan ya kak one day trip begini. Manapula kereta kan jarang macet qiqiqi. Dan harganya itu, dari Solo ke Wonogiri cuma 4K! Dudududu ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... makanya kereta ini lumayan laris.

      Hapus
  6. Naik kereta bagi saya dan keluarga memiliki pengalaman yang berbeda. Biasanya rute yang agak jauh, biar ngirit. Rute ke Wonogiri ini sangat murah ya. Keretanya bagus pula.

    BalasHapus