20 November 2018

Artikel ini dibuat sebagai bagian dari BPN 30 Day Blog Challenge
Ketika saya pertama kali memutuskan untuk membuat blog, tujuannya adalah untuk catatan pribadi. Buat saya, blog adalah semacam buku kenangan, dimana saya bisa membaca ulang pengalaman saya dan menjalani kembali kejadian-kejadian yang tak akan terulang lagi. Sengaja blog ini lebih difokuskan sebagai travel blog, karena salah satu cita-cita saya sejak kuliah adalah jalan-jalan keliling dunia. Siapa tahu, waktu saya sudah tua banget, saya bisa membaca ulang kisah perjalanan saya ke berbagai negara di dunia ini.
Tentunya, keliling dunia butuh banyak modal, termasuk modal uang dan modal nyali. Kebetulan saya belum punya dua-duanya. Jadi saya hanya bisa menjadi pegawai kantoran fakir cuti yang rajin menabung untuk bisa bepergian. Masih untung, jumlah cuti dan hasil tabungan masih memungkinkan untuk sesekali bepergian.
Nah, pada awalnya, blog ini dimaksudkan untuk menjadi album jalan-jalan pribadi. Saya tidak pernah memberitahu siapa-siapa tentang blog saya ini. Bahkan, di facebook sekalipun, saya tidak pernah mempromosikan blog ini. Sebulan paling cuma satu dua orang yang berkunjung. Ya nggak masalah.
Pada awalnya, blog saya ditulis dari dan untuk diri sendiri.
Tapi di suatu hari, saya benar-benar kehabisan bahan tulisan. Kan saya nggak punya waktu dan uang untuk jalan-jalan terus. Tapi, targetnya, blog diisi minimal dua kali sebulan. Kalau lagi nggak pergi ke mana-mana, gimana dong? Waktu itulah saya memutuskan untuk menulis tentang pusat-pusat kebudayaan asing di Jakarta.
Waktu saya masih mahasiswa, pergi ke pusat kebudayaan asing adalah salah satu hiburan yang paling saya sukai. Selain ada pertunjukkan seni, pemutaran film gratis, kadang juga ada acara kuliner. Nggak cuma bisa menikmati suasana negara lain secara gratis, saya juga bisa menambah teman di sini. Nah, berdasarkan kenangan itu, saya kemudian menuliskan tentang pusat-pusat kebudayaan asing yang ada di Jakarta. Saya pikir, kalau nggak bisa jalan-jalan, paling tidak bisa membayangkan lagi mengunjungi negara mana ... gitu.
Tak disangka, ternyata artikel tentang pusat-pusat kebudayaan asing laris. Dan saya lihat, kebanyakan keyword yang merujuk pada artikel saya itu selalu terkait dengan transportasi. Misalnya, “cara ke IFI naik Transjakarta” atau “Busway ke British Council”, dan lain-lain. Oleh sebab itu, saya kemudian menuliskan artikel lanjutannya mengenai cara menuju ke pusat kebudayaan asing di Jakarta dengan kendaraan umum. Siapa tahu, artikel saya bisa menjadi petunjuk arah bagi mereka yang berencana untuk menikmati hiburan kebudayaan negara lain.
Nah, artikel inilah yang menjadi salah satu artikel paling laris di blog saya, sejak bulan Mei 2014 sampai sekarang. Sejak adanya kenaikan pengunjung yang signifikan, saya menjadi tertantang untuk semakin rutin menulis di blog. Harapannya adalah, blog saya bisa menjadi tempat orang mencari informasi. Nggak perlu informasi yang luar biasa cerdas. Orang datang ke blog saya untuk cari tahu mengenai jalur Transjakarta ke Mal Ambassador saja sudah cukup membuat saya senang.
Dari buku kenangan sampai petunjuk arah, menurut saya, blog ini tetap merupakan salah satu catatan saya mengenai perjalanan hidup saya.

2 Komentar:

  1. Wah bener banget mbak, blog itu kek kenangan yang bisa kita simpan dan baca ulang.

    Salam kenal ya, kalau berkenan followback blog aku ya Mbak.

    BalasHapus