25 November 2018


Artikel ini dibuat sebagai bagian dari BPN 30 Day Blog Challenge
Kalau bicara soal jalan-jalan, saya sebetulnya orang yang nanggung. Kalau dibilang backpacker sejati, kadang-kadang bawa koper dan bisa sewa mobil buat jalan-jalan ke tempat yang jauh. Saya juga nggak irit kalau soal makanan. Kalau dibilang flashpacker, kadang-kadang bisa super hemat di transportasi dan banyak jalan kakinya. Jadi? Ya ... suka-suka, sih. Tapi, setelah saya flashback ke beberapa perjalanan saya sebelumnya, sepertinya ada lima ciri khas gaya jalan-jalan yang pasti hadir di setiap perjalanan saya.
Jalan kaki, ya.
Suka jalan kaki
Saya memang suka jalan kaki. Untuk saya, jalan kaki membuat saya bisa lebih menikmati kondisi di sekitar saya. Selama kaki saya masih bisa membawa saya kemana-mana, saya akan terus berjalan kaki.
Waktu saya jalan-jalan ke Singapura di tahun 2013, saya pernah jalan kaki dari Arab Street sampai Marina Bay. Itu ditambah muter-muter mencari gereja buat misa Natal sebelum pulang ke Jakarta. Pegangannya cuma peta gratisan yang diambil di bandara. Total waktu jalan kaki saya tiga jam. Waktu di Tokyo tahun 2016, saya jalan kaki dari Tokyo Tower sampai ke Roppongi Hills. Dekat sih, cuma setengah jam jalan kaki. Nggak nyasar karena pakai GoogleMaps. Itu semua sendirian ya. Kebetulan itu pengalaman solo travelling.
Naik kendaraan umum
Di Jakarta pun, tempat saya tinggal sekarang, saya juga kemana-mana naik kendaraan umum. Itulah sebabnya saya kadang-kadang menulis tentang moda transportasi favorit saya, Transjakarta. Kebetulan, saya memang suka iseng-iseng mencatat jalur-jalur busway yang mungkin berguna, misalnya koridor Transjakarta yang bisa mengantar kita ke TMII.
Tapi waktu jalan-jalan pun, saya juga lebih suka menggunakan kendaraan umum. Misalnya, waktu wisata ke Colmar, Perancis, saya dan teman-teman naik bus lokal ke desa Eguisheim. Saya juga pernah muter-muter di area Pulau Jawa naik bus dan angkot; dari Jakarta ke Trowulan, terus ke Solo, lanjut Gedong Songo, Ambarawa, dan kemudian ke Tegal. Itu waktu baru saja lulus kuliah, sih.
Santai, tidak buru-buru
Saya bukan tipe orang yang datang sebentar cekrek-cekrek sana-sini, upload foto di media sosial, dan lanjut ke tempat selanjutnya. Nggak banget! Saya lebih suka jalan-jalan dengan tenang dan menikmati kondisi di tempat yang saya kunjungi. Tidak mungkin lama banget sih, soalnya kan cuti terbatas. Tapi paling tidak, saya merasakan atmosfer lokalnya.
Waktu saya ke Hoi An, Vietnam, saya dan teman-teman saya menginap selama tiga malam di sana. Untuk muter-muter kota tuanya saja, kami sengaja menghabiskan waktu satu hari satu malam. Bisa dikatakan, hampir semua museum dimasuki dan hampir semua sudut dijelajahi. Nggak cuma lewat saja. Soalnya yang disukai adalah pengalaman jalan-jalannya itu.
Makan di warung lokal. Rasa setempat yang otentik.
Mencoba makanan lokal
Ini sih sudah pasti. Setiap saya mengunjungi suatu tempat, saya pasti akan mencoba makanan lokalnya. Waktu ke Wonogiri? Ya makan bakso dong. Waktu ke Surabaya? Tentunya makan nasi udang. Waktu ke Ipoh, Malaysia? Pastilah minum white coffee.
Kenapa saya mencoba makanan lokal? Karena dengan demikian kita bisa ikut mencicipi selera masyarakat setempat. Makanan yang sepertinya sama, ternyata bumbu dan cara masaknya bisa beda dari satu tempat ke tempat lainnya. Contohnya adalah nasi goreng dan mie goreng. Beda daerah, pasti beda rasanya.
Mempelajari budaya lokal
Saya adalah penikmat museum dan seni. Kebetulan, saya juga punya teman-teman dan keluarga yang seleranya sama. Beberapa kali saya dan teman-teman saya mengunjungi museum atau galeri seni dan berlama-lama di situ. Di Jakarta sendiri, saya termasuk orang yang hobi mengunjungi Galeri Nasional, terutama kalau ada pameran atau event baru.
Saya sendiri juga senang menonton tarian dan hiburan tradisional lainnya. Waktu jalan-jalan ke Yogyakarta, saya dan teman menyempatkan diri menonton Sendratari Ramayana. Jalan-jalan ke Phnom Penh, Kamboja, saya dan keluarga juga menonton sendratari dari Cambodian Living Arts.
Begitu, tuh, kalau jalan bareng saya. Ada yang mau jalan-jalan bareng?

6 Komentar:

  1. Asik banget gaya jalan-jalannya mbak... :D

    BalasHapus
  2. Hyuuuk Kak kita jalan-jalan bareng :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, ntar kalau saya dapat kesempatan ke Ende, saya bakal main ke rumah Kak Tuteh ini dan minta diantar ke tempat saya bisa makan alu ndene. :)

      Hapus
  3. Wah keren mba jalan jalan sendirian di Jepang, gak takut kendala bahasakah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya sih orang hostel buat backpacker bisa bahasa Inggris. Yang menantang itu waktu makan di warung, soalnya biasanya mereka nggak bisa bahasa Inggris. Ya udah, bahasa tarzan saja.

      Hapus