12 Desember 2018


Artikel ini dibuat sebagai bagian dari BPN 30 Day Blog Challenge
Kalau ditanya apa yang harusnya sudah saya lakukan sejak masih kecil, saya akan bilang: belajar berenang. Kalau saya sudah bisa berenang dari jaman dahulu kala, mungkin saya sudah mencoba berenang di banyak tempat.
Alkisah, waktu saya masih SD, orang tua saya kadang-kadang mengajak anak-anaknya berwisata ke tempat pemandian umum. Sumber air yang ada di sekitaran Jawa Tengah memang seringkali dijadikan tempat pemandian umum. Alat keamanannya sederhana, dan untuk membantu yang tidak bisa berenang, disediakan ban (ban dalam roda mobil) yang diisi penuh udara.
Suatu hari, saat saya diajak mengapung dengan ban di tempat yang agak dalam, saya bandel. Saya malahan duduk di atas ban, bukannya mengapung di bolongan di tengahnya. Tentunya ban menjadi tidak seimbang dan saya pun jatuh. Saya ingat, ketika di dalam air, saya melihat pemandangan yang menakjubkan: air di sekitar saya berkilau karena sinar matahari, bebatuan di tepi kolam berwarna kehijauan, dan semua bergerak dengan harmonis. Saya sih cuma shock sebentar. Tapi orang tua saya ketakutan. Sejak saat itu, sekeluarga tidak pernah pergi ke kolam bersama.
Setelah saya bekerja, baru saya ingin belajar berenang. Alasannya, supaya bisa lebih menikmati tempat-tempat wisata. Soalnya, kalau ada ajakan teman-teman ke Waterpark, pasti saya tolak. Terus, kalau ada ajakan berenang bareng, pasti saya tolak juga. Waktu rame-rame ke Garut, pergilah kami ke Waterpark. Saya cuma duduk manis di pinggir kolam sementara yang lain mondar-mandir di air. Pas jalan ke Banda Neira, orang-orang bisa berenang di laut, saya cuma nonton aja.
Nggak bisa berenang? Berani naik kapal beginian tanpa pelampung?
Jadi, beberapa tahun yang lalu, saya menyetujui ajakan seorang teman kantor untuk belajar berenang. Waktu itu umur sudah kepala tiga, ya. Mungkin ada yang bilang, belajar berenang umur segitu sudah telat. Tapi mayoritas teman-teman kantor sangat mendukung rencana kami berdua belajar berenang. Alasannya, berenang adalah olah raga yang cocok untuk segala umur.
Mulailah kami kursus berenang. Kursusnya di Manggala Wanabakti. Setiap hari, 10 kali pertemuan, setiap jam 6 pagi. Jadi setiap jam 5:00 kami berangkat ke tempat kursus, dan jam 7:30 kami berangkat ke kantor. Bahwa kami harus bangun super pagi setiap hari, tidak masalah. Kan lumayan, jadi lebih rajin.
Mungkin karena memang minat berenang, ya, pertemuan keempat, saya sudah bisa meluncur dan mengayuh sampai tengah kolam. Hari ketujuh, sudah bisa dikatakan bisa berenang, meskipun sebentar saja. Sayangnya, setelah kursus berakhir, saya pun tidak berenang lagi. Padahal di dekat rumah ada kolam renang. Tapi masih belum berani berenang sendirian.
Suatu hari, datanglah ibu saya, menginap di rumah. Dia mengajak saya untuk berenang. Dengan senang hati, saya berenang bersama ibu saya. Dia sih muter-muter keliling kolam. Saya hanya menyeberang kolam di sisi yang pendek. Tapi karena ada temannya, saya jadinya tetap di dalam kolam. Lama-kelamaan, saya semakin percaya diri berenang. Sekarang sih, kalau mau berenang di kolam, ya saya tinggal nyemplung saja, meskipun tidak ada temannya. Nggak masalah. Bahkan, ketika di Belitung, disengat ubur-ubur pun, saya tetap masih ingat mengapung.
Jadi, kalau boleh memilih, saya bakalan memilih belajar berenang dari SD. Supaya bisa lebih sering mencoba berenang di banyak tempat, termasuk di pantai dan sungai. Tapi paling nggak, sekarang saya sudah bisa berenang. Oh ya, buat yang merasa sudah terlalu tua untuk belajar berenang, jangan kalah dengan ibu saya. Ibu saya baru belajar berenang di usia 50-an tahun. Sampai sekarang dia masih berenang seminggu tiga kali. Sehat, kan.

12 Komentar:

  1. Saya belajar berenang usia 24 mba, ibu sayaaaa malah usia 60 tahun. Belajar memang gak mengenal usiaaaa yaaa, asal mau, pasti bisaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, hebat banget ibunya. Memang sepanjang punya semangat, usia bukan hambatan untuk belajar.

      Hapus
  2. Better late than never mbak hehe
    Anyway, saya jadi kepengen ke kolam renang dehh

    BalasHapus
  3. Pas masi kecil ban ga seimbang jadinya sempat tenggelamkah? Wah aku masi 29 masi ada kesempatan juga berarti buat les renang, konon renang cepet myedot lemak jg ya kak soalnya kli abis renang energi banyak kesedot

    Btw hebat mamanya dikau, belajar ga kenal usia, buktinya sekarang bisa juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak kesempatan buat belajar, Mbak. Belajar berenang umur 50-an juga bisa.

      Hapus
  4. Hihihi semamagat om
    Salam sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat juga. Btw, masa cantik mempesona begini dibilang om?

      Hapus
  5. Berenang memang penting banget mba, untuk sehat dan gak gampang panik kalau ada apa2 ya kan :)

    BalasHapus
  6. Iriiiiiii. Saya belum bisa berenang sampai sekarang padahal rumahnya dekat sekali sama laut hahaha semangat Kak! Ibunya luar biasaaaaa. Sehat!

    BalasHapus