25 Desember 2018

Dari Candi Ijo, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata super populer yang tak jauh dari situ.
Obyek 5: Tebing Breksi
Tempat wisata yang populer di Instagram ini sebetulnya adalah bekas tambang batu untuk bangunan. Tebing Breksi dinyatakan sebagai geoheritage site atau situs warisan geologi karena tempat ini adalah daerah penumpukan abu vulkanik dari Gunung Purba (di Nglanggeran). Sebagai daerah yang harus dilestarikan, maka penambangan batu dihentikan, dan mata pencaharian masyarakat setempat yang tadinya menambang batu perlahan-lahan dialihkan menjadi bisnis wisata.
Siapa sangka bekas tambang bisa jadi tempat wisata?
Kontur bebatuan sisa tambang menghasilkan pola yang cantik, cocok banget buat foto-foto. Selain itu, di atas bukitnya sendiri, sudah dibuat spot-spot cantik untuk selfie. Tapi yang paling OK dari itu semua adalah, pengelolaan tempat wisata Tebing Breksi adalah oleh masyarakat setempat. Jadi kunjungan kita ke sini tidak hanya akan menghasilkan foto-foto layak upload, namun juga membantu masyarakat sekitar. Saya selalu kagum dengan pemerintah yang bisa membuat masyarakat lokal mandiri tanpa tergantung banyak pada investor besar, apalagi asing. Itu baru keren!
Waktu kami tiba di area wisata Tebing Breksi, waktu menunjukkan hampir pukul 12 siang. Panas banget. Area wisata ini lengkap banget. Ada panggung terbuka, ada tempat makan, tempat jualan pernak-pernik, musholla, juga ada WC umum, tempat parkir luas, dan tentunya spot foto-foto. Tapi itu semua tidak mengurangi hawa panas yang membakar kami. Jadi, kalau mau berkunjung ke sini, boleh lupa bawa minum, boleh lupa bawa topi, jangan lupa bawa sunblock alias tabir surya.
Makan siang: Sate Klathak Pak Pong
Dalam kondisi lapar, kami melaju ke rumah makan yang lumayan termahsyur di sekitaran Bantul: Sate Pak Pong. Jaraknya lumayan jauh sih, dari Tebing Breksi. Tapi karena memang semua anggota rombongan belum pernah ada yang makan di sini, ya jadinya kami memutuskan untuk makan di sana.
Sate Klathak adalah sate kambing yang dibakar dengan tusuk sate yang dibuat dari besi, seperti jeruji roda sepeda. Bumbunya juga tidak seperti bumbu kacang biasa, tapi lebih mirip kaldu. Rasanya gurih manis.
Antre dua jam untuk bisa menikmati sate klathak.
Sate Klathak Pak Pong, konon kabarnya, tidak pernah sepi. Waktu kami datang, hampir semua meja penuh. Untung masih ada meja yang kosong. Tapi waktu pesan sate ... yang antre banyak banget. Percaya nggak, kami menunggu makanan kami selama hampir dua jam!
Obyek 6: Puncak Becici
Nah ... di sore hari, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Becici. Puncak Becici adalah adalah daerah hutan pinus yang dijadikan tempat wisata. Posisinya terletak di Dlingo, Bantul, yang mana merupakan daerah perbukitan. Jadi, daerah ini memang wajar dijadikan tempat wisata, sama seperti daerah Puncak untuk orang-orang Jakarta. Sebetulnya, di sekitar Puncak Becici, juga ada beberapa daerah wisata alam yang menjual konsep yang mirip-mirip dengan Puncak Becici. Tapi karena tempat ini sempat didatangi mantan Presiden Amerika, Barack Obama, makanya tempat ini populer sekali.
Puncak Becici terkenal sebagai tempat melihat sunset. Memang sih, di daerah tebing di bagian atas, kita bisa melihat pemandangan lembah yang oke banget. Dari sini kita juga bisa melihat ke arah kota Yogyakarta, kalau cuacanya mendukung. Nggak usah melihat ke arah lembah, pemandangan di sekitar area Puncak Becici di sore hari juga bagus. Di tengah pohon-pohon Pinus, kita bisa bermain-main dengan bayangan sore hari untuk dapat foto yang menarik.
Salah satu spot di Puncak Becici.
Sebetulnya kalau kami sabar duduk-duduk lama di situ, kami bisa menonton sunset dari sekitaran puncak bukit. Tapi karena kami serombongan kurang berminat untuk pulang ke Jogja malam-malam, dan males jalan menuruni bukit di waktu sudah mulai gelap, maka sekitar jam setengah empat kami sudah meninggalkan lokasi.
Obyek 7: Taman Batu Watu Amben
Dalam perjalanan pulang ke Jogja, kami mampir dulu di Taman Batu Watu Amben. Tempatnya tidak jauh dari Bukit Bintang di daerah Patuk, yang dikenal sebagai tempat nongkrong berbagai kalangan. Tempat ini dinamakan Watu Amben karena ada batu besar yang di atasnya datar sehingga bisa dipakai tidur. Tapi batu besar ini tidak bisa dinaiki dengan mudah.
Waktu kami kemari, warung yang ada di dekat situ belum buka. Mungkin kami datang terlalu sore. Tempat ini juga dikenal sebagai spot sunset, sama seperti area Bukit Bntang. Tapi mungkin tidak terlalu populer karena pilihan tempat makannya tidak banyak.
Watu Amben.
Sebetulnya paling seru kalau nongkrong di sini di malam hari, biar bisa melihat kelip-kelip lampu kota. Tetapi, karena kami memang tidak mau pulang malam-malam, ya kami cuma di sini sebentar saja.
Makan malam: Gudeg Sagan
Ya ... semua tentu sudah tahu rumah makan gudeg yang satu ini. Tempat yang nggak pernah sepi ini memang sudah lama populer. Kami datang sekitar jam delapan dan sudah cukup ramai. Nggak kebayang kalau datang ke sini di sekitar tuju malam, pasti antre banget.
Gudeg Sagan bisa dibilang ramah kantong dan cocok di lidah. Kebetulan, memang seluruh anggota rombongan penggemar gudeg. Kalau makan di sini, jangan ragu untuk cek ke bagian pelayanan gudegnya ya. Karena ramai sekali, kadang ada pengunjung yang langsung mengambil piring-piring hidangan yang baru selesai dibuat. Kalau tidak waspada, bisa-bisa pesanan kita datangnya lama sekali.

Selesai makan malam, kami menuju ke rumah salah satu saudara untuk menginap. Dan ...berakhirlah jalan-jalan sehari di sekitaran Yogyakarta ini. Untuk pengembangan tempat pariwisata, saya harus mengakui, Provinsi DI Yogyakarta memang sudah jauh melangkah dibandingkan sebagian besar provinsi lainnya. Semoga untuk selanjutnya semakin banyak tempat-tempat wisata yang tidak hanya seru untuk dikunjungi, namun juga membantu perekonomian masyarakat sekitar.

27 Komentar:

  1. Banyak makan dan banyak naik ke puncak sesuai dengan energi masuk.. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha ... namanya hidup seimbang, Pak.

      Hapus
  2. Mantan Presiden, Mr. Barrack, barangkali mengenang masa kecilnya....lagian Hutan pinus puncak Becici indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pohon-pohon pinus berjajar. Kalau sore bayangannya bagus, panjang-panjang. Kayak nggak di film-film.

      Hapus
  3. Mba.. berhubung blog saya tidak bisa balas komment mkny saya bls di blog mba yah.. maafkan..

    Di pantai greweng memang sepi. Akan tetapi apabila datang jumat-minggu itu lumayan rame dan fasilitas dsna ada warung jajanan. Toilet dan parkir. Hny treknya yg lumayan agak susah.. akan tetapi semua terbayar apabila sudah sampai dsna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... oke. Kalau saya sih, selama ada toilet dan warung, hidup pasti aman.

      Hapus
  4. Sekalian mampir ke gunung api purba atau mbung ngelanggeran itu spot foto nya keren mba.. lumayan dekat sama puncak becici tmptnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya kemarin waktunya nggak cukup. Pengin sih, ke Nglanggeran. Belum pernah, soalnya.

      Hapus
  5. Noted mba... bulan depan mau ke sana nih

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Asal ada kendaraan sendiri, cukup lah. Kalau naik kendaraan umum, ya nggak bisa.

      Hapus
  7. salah satu makanan yang pengen saya cobain ketika di Jogja adalah sate klathak. tapi tiap ke jogja pasti lupaaa terus. hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dicatat tuh Mbak. Tapi siap-siap antre ya.

      Hapus
  8. sebagai anak hasil blasteran jogja, saya malu belum pernah ke semua tempat ini. hiks...

    BalasHapus
  9. Jalan-jalan, eksplor, makan, jalan lagi. Seru sekali hidup ini hahaha selamat menikmati liburan, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya stressnya kerjaan nggak ditulis di blog. Itu curhat pribadi aja. Huehehe....

      Hapus
  10. Tertarik sama Sate Klathaknya. Kabetulan juga kami sekeluarga punya rencana liburan ke Jogja pas liburan tahun depan :D

    BalasHapus
  11. kapan - kapan main ah ke jogja

    BalasHapus
  12. Wah udah kemana-mana ini mbaknyah. Jogja pun udah dijamah... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya asli Solo, Pak. Jaman masih kecil, bisa hampir tiap bulan ke Jogja.

      Hapus
    2. Saya asli Solo, Pak. Jaman masih kecil, bisa hampir tiap bulan ke Jogja.

      Hapus