1 Desember 2018


Beberapa bulan yang lalu, saya dan teman saya barengan berangkat ke Singapura. Walau masing-masing ada jadwal sendiri-sendiri, tapi rencananya Sabtu siang mau nonton film bareng di bioskop dengan teman-teman lain yang sudah duluan di Singapura. Jumat malam kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta. Dan untuk saya, di hari Minggu sore sudah kembali ke Jakarta. Nah, jadilah kami menggunakan pesawat Jetstar untuk berangkat dari Jakarta hari Jumat jam 21:35 dan tiba di Singapura jam 00:25. Malem banget kan ... MRT sudah tidak beroperasi dan biaya taksi nggak masuk ke anggaran kami. Jadi, kami memutuskan untuk tidur dulu di bandara dan baru keluar setelah matahari terbit.
Bandara Changi, Singapura.
Sengaja tuh. Jalan pelan-pelan, ambil air minum dulu di dispenser air, ke WC ... sampai akhirnya memang pengin tidur beneran. Berdasarkan hasil browsing tentang sleeping at Changi Airport, bandara Changi relatif nyaman untuk tidur jika transit. Jadi, nggak masalah dong kalau kami menunggu jadwal beroperasinya MRT di dalam area transit. Kami lalu memutuskan untuk menunda melewati bagian imigrasi. Kami memilih untuk mencari tempat yang nyaman dan siap-siap tidur.
Sebetulnya, di Bandara Changi ada rest area, alias tempat yang diperuntukkan bagi para traveller transit. Tapi kalau malam hari begitu, tempat ini pasti sudah penuh. Rest area yang saya tahu ada di Terminal 3 (T3), di lantai atas. Petunjuknya jelas sih, jadi nggak mungkin nyasar. Tapi karena petunjuknya jelas, yang ke sana juga banyak banget.
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk duduk di TV Lounge. Tempat ini adalah area dimana orang dapat duduk di sofa sambil menonton TV. Letaknya dekat dengan rest area T3. Saya memilih duduk di sofa yang dekat colokan listrik. Hitung-hitung sekalian ngecharge handphone. Eh, sofa di sebelah diisi oleh seorang turis lain. Jadinya teman saya duduk di sofa sebelahnya lagi. Dan kemudian tidurlah kami di sofa masing-masing.
Jam 3 pagi saya bangun dan ... teman saya sudah tidak ada di sofanya. Saya pikir, paling dia ke WC. Jadi sayapun tidur lagi. Waktu saya bangun lagi, kira-kira 20 menit kemudian, teman saya belum terlihat lagi. Bingunglah saya. Soalnya kami kan janjian ke pusat kota barengan.
Sofa di TV Lounge. Di dekat sini ada banyak sofa yang bisa dipakai tidur untuk penumpang transit.
Untung kami masing-masing beli paket internet luar negeri, jadi nggak terlalu peduli dengan password wifi bandara. Saya langsung buka handphone dan menemukan pesan dari teman saya bahwa dia kena sweeping oleh polisi bandara. Jadi, saat itu dia sudah lewat bagian imigrasi. Lha? Kok saya nggak dibangunkan? Atau karena terlalu pulas saya nggak bangun-bangun dan kemudian dicuekin petugas?
Buru-buru saya berangkat ke bagian imigrasi untuk ikutan keluar area transit. Akan tetapi ... tidak ada orang yang jaga di bagian imigrasi. Waduh. Panik juga saya. Saya lalu memilih duduk di salah satu bangku di dekat kios makanan di situ. Terus saya sampai turun ke area imigrasi dan menulis embarcation card di meja dekat situ, siapa tahu ada yang nyadar ada yang mau keluar imigrasi. Tapi beneran nggak ada petugas di bagian imigrasi.
Saya pun mencari layar pengumuman arrival, untuk tahu jadwal mendarat pesawat selanjutnya. Ternyata pesawat selanjutnya baru datang satu jam lagi. Jadinya, saya menunggu di area duduk dekat kios makanan, sampai ada rombongan yang perlu lewat imigrasi. Harapannya, saya tinggal ikutan. Tapi sampai lama nggak ada rombongan. Ternyata mereka turun di Terminal 2. Lha saya kan di Terminal 3. Gimana, sih?
Saya pun jadinya pergi ke area TV Lounge terus tidur lagi. Tapi nggak tenang nih tidurnya, soalnya teman saya sudah di luar. Selain itu, khawatir juga kalau-kalau saya nantinya kena masalah di imigrasi. Jam lima lebih, saya kembali lagi ke dekat bagian imigrasi. Tetap nggak ada petugas. Yang melewati bagian imigrasi hanya dua orang yang semuanya lewat AIG alias Autommated Immigration Gate. Sebetulnya saya melihat ada petugas yang sempat mondar-mandir di area imirasi. Tapi dia cuma lewat saja. Hadeuh ... saya jadi nggak sabar mau keluar area transit.
Sekitar jam 6 baru saya melihat ada satu orang petugas yang stand by di loket imigrasi. Langsunglah saya menuju ke sana. Untung petugasnya nggak banyak tanya. Dia cuma tanya, mau di Singapura berapa hari. Saya bilang sehari. Udah. Terus paspor dicap. Lewatlah saya, tanpa ada tanya-tanya lagi, dan keluar ke arrival hall.
Ternyata, saudara-saudara, kalau kita kena sweeping polisi bandara dan harus melewati imigrasi di malam hari, kita masih bisa tidur di area bandara. Di arrival hall juga ada sofa-sofa yang ditata dan juga karpet tebal dimana turis bisa bergeletakan tidur di situ. Kalau penuh, tidur di dekat taman buatan juga bisa, soalnya di situ lantainya kayu, jadi tidak sedingin tegel. WC juga ada, jadi nggak perlu khawatir. Cuma memang AC-nya dingin banget. Kalau di area transit, udaranya cenderung sejuk dan lebih menyenangkan.
Sofa di arrival hall, setelah melewati imigrasi. Bisa untuk tidur juga.
Nah, saya tinggal mencari teman saya nih. Ternyata area sofa dan karpet semacam itu tidak hanya satu. Jadi saya harus cek setiap tempat untuk menemukannya. Setelah bertemu, barulah saya bisa mendengarkan cerita asli darinya. Ini dia kisahnya.
Alkisah, sekitar jam dua-an, polisi bandara melakukan sweeping. Iya, petugasnya yang pake bawa-bawa senjata laras panjang itu. Tentunya mereka mencari orang-orang yang tidak berhak tidur di bandara. Nah, sofa di antara saya dan teman saya sudah diisi oleh satu keluarga dengan muka Timur Tengah dengan anak-anaknya. Mungkin menarik perhatian juga ya, keluarga dengan anak-anak. Waktu petugas tanya-tanya ke keluarga itu, teman saya terbangun.
Ketika petugas mau membawa pergi keluarga itu, salah satu sempat melihat ke teman saya. Lha teman saya kan sudah bangun, jadi dia pun melihati para petugas itu. Si petugas yang melihat teman saya lalu minta paspor dan tiket pesawat. Teman saya bilang kalau dia sedang menunggu MRT beroperasi. MRT kan baru beroperasi jam setengah enam pagi. Si petugas bilang, MRT akan segera beroperasi lagi, jadi lebih baik menunggu di arrival hall di luar batas imigrasi. Ya sudah, teman saya pun segera meluncur ke imigrasi dan meninggalkan saya yang masih nyenyak.
Kenapa saya nggak dibangunkan oleh petugas, padahal saya kan di sebelah keluarga itu juga, tapi di sisi satunya? Entahlah.
Jadi saudara-saudara sekalian, kalau datang ke Singapura dan kemalaman, lebih baik tidak tidur di area transit. Mendingan langsung melewati area imigrasi dan tidur di sofa di arrival hall atau nongkrong di salah satu restauran di luar sana. Kalau di area transit, ya bisa kena sweeping sekitar jam 2-an. Kalau beruntung seperti saya, ya nggak masalah. Tapi kalau kena sial seperti teman saya, kan sempat deg-degan juga.
Tapi, kalau memang ke Singapura hanya untuk transit, dan ada tiket lanjutannya, nggak perlu khawatir. Bandara Changi adalah salah satu tempat yang nyaman untuk istirahat sambil menunggu pesawat lanjutan. (Saya sendiri juga beberapa kali transit di Singapura dan fasilitasnya oke.) Happy travelling!

25 Komentar:

  1. Setujuuu.. Transit beberapa jam di Changi gak krasa, bisa sambil cuci mata :)

    BalasHapus
  2. Duh denger cerita mbak jadi pengen ke singapur, nginep di bandara semalampun okelah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Janganlah kalau nginep di bandara... Ntar seperti temen saya tuh, disuruh keluar juga.

      Hapus
  3. Untuk transit tentunya nyaman ya, Mbak, apalagi fasilitasnya oke...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk transit, emang oke banget.

      Hapus
  4. Wah, kalau transit gak usah bimbang lagi mau ngapain ya, fasilitasnya kece banget bandaranya

    BalasHapus
  5. Oooo, jadi gitu trik nya. Belum pernah pergi keluar negeri nih kak Dyah. Baca baca terus, semoga berangkat kemudian. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan, kok.

      Hapus
  6. lima hari yang lalu juga kebetulan sayah berada di bandara Changi juga, tapi bukan mau terbang sih, tapi cuma numpang ngamen di parkirannya...#ehh

    BalasHapus
  7. Bener mbak, stay di bandara Changi selama transit asik koq, banyak juga yang tiduran, kalo laper ada aja store yang jualan selama 24 jam, yang penting aman dan nyaman...

    thanks for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau amannya sih, bener. Yang penting kitanya juga nggak aneh-aneh.

      Hapus
  8. Duuuh senengnya yang halan2 ke Singapura :) Hehee jadi tau nih tips bobo syantik di Bandara Changi. Mendingan lewatin imigrasi dulu ya trus cari resto gitu dari pada di tempat transit ntar dicyduk petugas hehehe. Tq infonya lengkap nih. Mudah2an kpn2 aku bisa ke sana bareng anak2 dan suami.

    BalasHapus
  9. 1st time coming here
    kapan ya soetta ini bisa jadi kayak changi
    masak changi ini bisa ada taman kupu" lah, bioskop lah, kolam renang lah
    hhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat Singapura, bandara juga bisa jadi tempat wisata. Kalau di Indonesia, mungkin Pemerintah juga bingung saking banyaknya potensi tempat wisata sampai ke ujung-ujung Indonesia. Boro-boro mau menjadikan bandara sebagai tempat wisata.

      Hapus
  10. Hahhaa lucu mba ceritanya. Mudah2an saya bisa segera jalan2 kesana, dan ngrasain tidur di sofanya bandara, #ehh

    BalasHapus
  11. Oke sipp sya juga harus bsa keliling sini nanti sekalian traveling ke Singapore. Aamiin..

    BalasHapus
  12. Jadi inget dulu jaman nggembel di airport changi, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... kenangan jaman masih muda ya.

      Hapus
  13. Untung kak Dyah ngga ikut tercyduk ... 😁

    Kalau sampai teryduk .., wah langsung medadak tenar namanya ...
    'Oh ini to orangnya si admin sukasukadee ' .. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, jangan sampai deh, tertangkap begitu. Hahaha ...

      Hapus